Minggu, 10 Desember 2017

PERPUSTAKAAN DIGITAL PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN KONVENSIONAL MENJADI PERPUSTAKAAN DIGITAL

By Sandi Aprianto
         Latar Belakang
Perkembangan teknologi digital dan juga kesadaran akan kebebasan informasi publik serta diseminasi informasi telah membawa banyak perubahan terhadap pola penanganan koleksi dan informasi yang ada di perpustakaan. Banyaknya informasi yang ada dan juga terbatasnya akses kepada sumbersumber informasi tertentu menjadikan para pengelola perpustakaan berinisiatif untuk membangun jaringan perpustakaan digital yang akan mempermudah dan memperluas akses informasi yang dimilikinya.
Pengelola dan pemerhati perpustakaan di Indonesia pun menyadari akan kebutuhan itu. Sebelum dan awal millennium di Indonesia sudah mulai dibentuk embrio dari sebuah jaringan perpustakaan digital yang diharapkan akan mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Sekitar tahun 1998-an Universitas Petra bersama dengan 8 institusi membentuk jaringan InCU-VL dan tahun 2000-an muncul sebuah ‘proyek’ bersama yang bernama Indonesia Digital Library Network (IDLN). Hermanto (2009) dalam artikelnya menyatakan bahwa IDLN mempunyai misi “Unlock access to Indonesian Knowledge” dimana open content dan content sharing ilmu pengetahuan menjadi fokus agar rakyat Indonesia dengan mudah mengakses kepada ilmu pengetahuan tersebut.
Kini setelah 11 tahun lebih berlalu, InCU-VL dan IDLN tidak lagi ‘berdiri’ sendiri, berbagai kelompok di Indonesia mulai mengembangkan konsep jaringan perpustakaan digital baik yang berasal dari kalangan pemerintah, swasta maupun komunitas masyarakat. Tentu hal ini sangat menggembirakan. Namun disisi lain terdapat pula keprihatinan. Ternyata perkembangan dari waktu ke waktu ‘proyek-proyek’ beberapa jaringan perpustakaan digital ini mengalami pasang surut bahkan ada yang sampai ‘mati suri’. Salah satu faktor yang penting terkait permasalahan tersebut adalah masalah interoperabilitas antara pengguna jaringan, disamping tentunya faktor-faktor lain seperti ’sustainability’, masalah kebijakan, akses oleh pengguna, dan masalah teknis lainnya.
Terkait dengan masalah kebijakan, menurut Pendit dalam pernyataannya kepada penulis3 menyatakan bahwa faktor yang cukup mendasar dan penting dalam membangun sebuah perpustakaan digital adalah faktor kebijakan. Perpustakaan digital hendaknya mulai dibangun dengan menyiapkan dokumen yang rapi dan jelas terkait dengan desain, kebijakan, perencanaan, tujuan, dan langkah-langkah pengembangan ke depan, hingga penanganan masalah teknis. Nah, hal ini juga ternyata sering dilupakan oleh para pengembang perpustakaan digital di Indonesia. Tentu hal ini tidak dapat dibiarkan agar ke depan perkembangan jaringan perpustakaan digital ini tetap dapat dipertahankan dan terus berkembang di Indonesia.
Menyikapi hal tersebut, maka perlu kiranya melihat kembali perkembangan beberapa jaringan perpustakaan digital yang ada di Indonesia, serta upaya-upaya yang sudah dan akan dilakukan. Tujuannya adalah agar dapat dipetik pelajaran (lesson learned) bagi pengembangan jaringan perpustakaan digital di Indonesia ke depan. Paling tidak tulisan ini akan menggugah kita untuk berpikir kembali dan mencari solusi yang tepat bagi permasalahan-permasalahan yang selama ini menghambat proses pengembangan jaringan perpustakaan digital di Indonesia.
Jaringan perpustakaan digital di Indonesia muncul karena adanya semangat untuk berbagi ilmu pengetahuan dan informasi serta sebagai upaya untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat di Indonesia. Penggagas awal biasanya memang berasal dari kalangan akademisi di lingkungan pendidikan, walaupun ada juga yang berasal dari masyarakat atau komunitas. Latar belakang penggagas dan organisasi atau lembaga yang terlibat di dalamnya menjadikan jaringan perpustakaan digital dapat berisi beraneka ragam jenis penyedia informasi digital maupun yang hanya berasal dari satu lembaga atau komunitas tertentu yang memiliki kesamaan baik dari segi informasi yang dikelola maupun penggunanya. Demikian pula dengan tata cara pengelolaannya, terdapat berbagai perbedaan yang ke depan dapat menjadi penghambat apabila tidak direncanakan dengan baik. Seperti masalah kebijakan, masalah interoperabilitas, masalah akses pengguna, masalah jaminan keberlangsungan, masalah infrastruktur dan lain sebagainya.
Selain itu, karena salah satu tujuan keberadaan perpustakaan digital adalah melayani masyarakat atau komunitasnya, maka perlu juga dipelajari bagaimana pandangan masyarakat pengguna terhadap keberadaan perpustakaan digital di Indonesia. Melalui survei online yang dilakukan dan disebarkan melalui berbagai milist yang berisi para pustakawan dan aktifis atau pemerhati di bidang informasi, penulis mencoba untuk mengumpulkan data terkait pandangan masyarakat terkait akses pada perpustakaan digital yang ada di Indonesia, terutama yang menjadi kajian kali ini.
2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dapat dibentuk, yaitu bagaimana perpustakaan konvensional jika dikembangkan menjadi perpustakaan digital ?
3.      Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, dapat simpulkan tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan perpustakaan konvensional jika dirubah menjadi perpustakaan digital.
4.      Pembahasan
A.    Perpustakaan
1.      Pengertian
Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).
Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.
Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. ( Sugiyanto )
Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.
Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997).
Secara umum dapat kami simpulkan bahwa pengertian perustakaan adalah suatu institusi unit kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan oleh pemakainya.
2.      Fungsi Perpustakaan
Fungsi penyimpanan, bertugas menyimpan koleksi (informasi) karena tidak mungkin semua koleksi dapat dijangkau oleh perpustakaan.
Fungsi informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk masyarakat.
Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik dilingkungan formal maupun non formal.
Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
Fungsi kultural, Perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai aktifitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku, mendongeng, seminar, dan sebagainya.
Hal-hal yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perjalanan perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Pertama, terbatasnya ruang perpustakaan di samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit, dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Kesadaran dari pihak sekolah sebagai penyelenggara sangatlah kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan koleksi bahan pustaka saja. Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Dengan melihat keadaan di atas sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang pentingnya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan hanyalah untuk pelengkap saja.
Kedua, keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya. Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting. Dengan banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di perpustakaan, kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga kemampuan bahasa siswa dapat berkembang baik dan dapat membantu anak dalam memahami pelajaran-pelajaran lainnya. Mengingat kemampuan bahasa merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh dalam belajar. Begitu juga jika bahan pustakanya bermutu, maka anak akan banyak memperoleh pengetahuan yang berguna dalam hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang banyak dan bervariasi dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka biasanya mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari pihak sekolah sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan pustaka, dengan alasan utama adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal, anggaran untuk belanja bahan pustaka setiap tahunnya selalu ada, namun jumlah bahan pustaka tidak pernah bertambah.
Ketiga, terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan sekolah yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan. Maksudnya, mereka bukan petugas yang hanya mengurus perpustakaan saja, sehingga sering tugas di perpustakaan jadi dikesampingkan dan perpustakaan dianggap kurang bermanfaat. Lebih-lebih bertugas di perpustakaan adalah pekerjaan yang sangat menjenuhkan, baik dalam hal pelayanan pengunjung maupun perawatan bahan pustaka yang ada, sehingga dibutuhkan suatu kesabaran yang tinggi.
Keempat, kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Anak kurang tahu tentang kegunaan perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. Dia membutuhkan dorongan dan ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan.
B.     Perpustakaan digital
1.      Pengertian
Pengertian perpustakaan digital yaitu : perpustakaan yang mengelolah semua atau sebagian koleksi dalam format yang dapat diakses komputer sebagai alternatif atau pelengkap sumber-sumber informasi cetak yang kompersional. Sedangkan dalam arti lain pengertian Perpustakaan digital adalah organisasi yang melakukan kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital dengan tujuan untuk melestarikan, menjaga, dan terutama mendistribusikan kepada pengguna sehingga pengguna secara mudah, tepat dan luas dapat mengakses ke dalam data dan sumber informasi digital tersebut sehingga mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan.
Perpustakaan digital dimulai pada akhir tahun 1990 an. Inti dari perencanaan dan pengembangan sebuah perpustakaan digital yaitu menciptakan sumber-sumber digital. Perpustakaan digital berisi sumber informasi yang dapat di coding secara sekuens. Tetapi koleksi dalam perpustakaan digital dalam bentuk digital atau form elektronik. Oleh karena itu perpustakaan digital berisi obyek digital yang sangat bervariasi meliputi teks, grafik, gambar,  audio-video, program-program komputer dll. Objek-objek digital yang diciptakan, disediakan, dan dipreservasi oleh berbagai perpustakaan digital berasal dari berbagai format data, sehingga hal ini sangat sulit menghasilkan sebuah definisi yang mencakup semua hal tersebut). dipahami sebagai model perpustakaan yang hadir pada masa transisi antara perpustakaan tradisional dan perpustakaan digital.
Ciri-ciri Perpustakaan Digital Menurut Coller Tahun 1997 Yaitu: 
1.      Akses keperpustakaan digital tidak terbatas.
2.      Konten dalam bentuk elektronik akan terus meningkat dan konten dalam bentuk cetak akan menurun.
3.      Konten dapat teks, gambar, dan bentuk suara.
4.      Penggunaan informasi elektronik akan terus meningkat dan penggunaan bahan cetak akan menurun.
5.      Pengeluaran untuk  bahan elektronik terus akan meningkat dan pengeluaran bahan cetak akan terus menurun.
6.      Pengeluaran untuk  informasi akan bergeser dari kepemilikan ke berlangganan dan perizinan.
7.      Pengeluaran pada peralatan dan infrastruktur akan meningkat.
8.      Penggunaan  bangunan akan beralih dari stockholding ke tempat –tempat untuk belajar animasi dan kewarganegaraan.
9.      Pekerjaan, pelatihan dan rekruktmen pustakawan dapat ditata ulang
Tujuan Perpustakaan Digital Yaitu :
1.      Untuk memperlancar yang  pengembangan perpustakaan.
2.      Untuk mengadakan peran kepemimpinan dan penyebaran pengetahuan kewilayah strategis yang penting dll.

2.      Rancangan Pengembangan Perpustakaan Digital
   Pengembangan perpustakaan digital secara sederhana identik dengan proses digitalisasi, yaitu proses pengalihan sumber-sumber informasi dalam bentuk analog ke dalam bentuk digital. Beberapa pedoman yang harus dipahami dalam pengembangan perpustakaan  diantaranya :
1.      Komponen Utama Pengembangan Perpustakaan digital yaitu :
a.       Koleksi (kelompok obyek terorganisasi), dengan prinsip-prinsip pengembangannya.
b.      Obyek (bahan digital) prinsip-prinsip yang dapat dipedomani.
c.       Metadata (informasi tentang obyek dan koleksi, Prinsip-prinsip yang dapat digunakan
2.      Elemen Dasar (basic elements) Perpustakaan digital.
a.       Koleksi
Elemen dasar perpustakaan digital adalah koleksi digital, Surachman menyatakan bahwa koleksi digital dapat difahami sebagai koleksi informasi dalam bentuk elektronik atau digital yang mungkin terdapat juga dalam koleksi cetak, yang dapat diakses secara luas menggunakan media komputer dan sejenisnya. Koleksi digital tersebut dapat berupa buku elektronik, jurnal elektronik, database online, statistik elektronik dan  lain sebagainya.
Maksum dan Darmawiredja menyatakan koleksi perpustakaan diutamakan dalam. Format digital baik offline maupun online, sedangkan koleksi tercetak lebih diutamakanbuku-buku tentang formula (standar) dan rujukan.
b.       Sarana
a.  Perangkat Keras (Hardware)
a.  Komponen input
b.  Komponen output
c.  Komponen pengolah untuk melakukan pengolahan dan eksekusi intruksi (processoer, motherboth).
d.   Komponen memori untuk menyimpan data dan intruksi dalam bentuk elektronik digital (harddisk, RAM).

3.      Proses digitalisasi
Proses digitalisasi adalah proses yang mengubah dokumen tercetak menjadi dokumen digital.
Proses tersebut dibedakan menjadi tiga kegiatan utama yaitu :
1.                    Scanning, yaitu proses memindai (men-scan) dokumen dalam bentuk cetak dan mengubahnya ke dalam bentuk berkas digital. Berkas yang dihasilkan adalah berkas PDF.
2.                    Editing, adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer dengan cara memberikan password, watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink, dan sebagainya, dengan software adobe acrobat, termasuk proses OCR (Optical Character Recognition). Proses OCR adalah  sebuah  proses yang mengubah gambar menjadi teks.
3.                    Uploading, adalah proses pengisian (input) metadata dan meng-uploadberkas dokumen tersebut ke digital library. Berkas yang di-upload adalah berkas PDF yang berisi full text karya akhir dari mulai halaman judul hingga lampiran, yang telah melalui proses editing.
Unsur dan syarat perpustakaan digital ada banyak. Biasanya, pustakawan berharap terlalu banyak dari sistem ini dan oleh karenannya merasa kecewa bilamana sistem tersebut tidak bekerja seperti yang diharapkan. Untuk memastikan adanya keberhasilan dalam automasi perpustakaan dibutuhkan kerjasama yang optimal dan berkelanjutan diantara pengguna sehingga tercipta kepuasan diantara pengguna, suatu penilain mendalam mengenai kebutuhan-kebutuhan pengguna harus dilakukan sebelum rencana detail untuk automasi dilakukan. Perlu tersedianya staf (pustakawan, operator, teknisi/administrator) yang terlatih. Seluruh anggota staf harus mengerti tentang sistem perpustakaan digital.
Keberlanjutan pengembangan dengan melakukan perbaikan-perbaikan maupun perawatan-perawatan baik itu operasional di perpustakaan maupun di jaringan LAN dan WEB perpustakaan digital. Inovasi dan kreatifitas dibutuhkan untuk membuat suatu ide-ide baru yang efektif dan efisien dengan mengikuti perkembangan teknologi informasi digital.
C.     Perangkat untuk pengelolaan perpustakaan digital
Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan. Diperlukan beberapa perangkat untuk pengelolaan perpustakaan berbasis Teknologi Informasi.
1.      Komputer
Komputer diperlukan untuk menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Perangkat komputer ini akan digunakan untuk menyimpan data koleksi buku data anggota perpustakaan, dan OPAC (Online Public Accses Catalogue). Dengan OPAC, para pelanggan perpustakaan bisa mencari informasi koleksi buku yang mereka butuhkan tanpa harus mencari secara langsung. Komputer itu juga bisa dikoneksikan ke internet.Kemudian setelah mempunyai koleksi digital, maka kita memerlukan pula komputer yang mempunyai performa yang cukup tinggi sebagai sarana untuk menyimpan serta melayani pengguna dalam mengakses koleksi. Sebuah komputer dengan processor pentium 4 dengan hard disk sebesar 40 giga, memory 256 Mega bytes adalah spesifikasi komputer minimal..
2.      Internet
Di antara manfaat internet untuk pengelolaan perpustakaanadalah sebagai peranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan distribusi informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat homepageperpustakaan, yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi.Kecepatan jaringan yang diperlukan jaringan intranet (layanan lokal) maupun internet (layanan global) adalah Jaringan 100 Mbps mutlak diperlukan untuk jaringan intranet, dan koneksi internet minimal 128 Kbps untuk layanan internet.
3.      Software
Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan software khusus untuk mendukung pelayanan perpustakaan. Ada beberapa jenis software yang umum digunakan di perpustakaan berbasis IT baik yang berbasis offline maupun online (open source), di antaranya Athenaeum Light,Freelib danSenayan Open Source Library Management System.
D.    Struktur Organisasi
Pustakawan


1.      Pembagian Tugas dan Koordinasi

Adapun pembagian tugas yang ada di perpustakaan adalah sesusai dengan yang ada dalam Struktur Organisasi diatas diantaranya:
1.    Kepala Perpustakaan
a.    Bertanggung jawab atas segala kegiatan Perpustakaan
b.    Menyusun program perpustakaan.
c.    Menyusun Misi Perpustakaan.
d.   Menyusun laporan bulanan dan tahunan.
2.    Bagian pengelolahan
a.    Bertanggung jawab atas segala pelaksanaan kegiatan pelayanan dan pengolahan
b.    Pengadaan format:
1)      Pengunjung
2)      Peminjam
3)      Anggota perpustakaan
4)      Bebas pinjam.
3.    Bagian pelayanan pengguna
a.    Bertanggung jawab atas segala kegiatan pelestarian bahan pustaka.
b.    Mengatur atau menyimpan buku.
c.    Menjaga atau memelihara buku.
d.   Membuat data statistik.
e.    Memberi layanan khusus setiap hari kepada mahasiswa ataupun dosen.
Dengan pembagian tugas dan tanggungjawab yang jelas maka kepala perpustakaan atau pustakawan dapat menyusun program- program perpustakaan demi meningkatkan pelayanan perpustakaan, salah satu contoh yaitu menambah jumlah koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka, yang menjadi sasaran utama koleksi perpustakaan dengan kebutuhan pemustaka yaitu Guru dan Murid.
2.      Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Manajemen dan sumberdaya manusia sangat penting bagi perpustakaan dalam mengolah, mengatur, dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan perpustakaan. Sumberdaya manusia di perpustakaan  perlu dikelola secara profesional agar terwujud keseimbangan  antara kebutuhan, tuntutan dan kemampaun organisasi. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama perpustakaan agar dapat berkembang secara produktif dan wajar. Perkembangan usaha dan organisasi perpustakaan sangatlah bergantung kepada produktifitas tenaga kerja yang ada di perpustakaan.
Manajemen adalah keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain didalam organisasi. manajemen merupakan sebuah organisasi terdiri dari sekelompok orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu bersama (N.Anthony, Robert, 2002: 3). Dengan pengaturan manajemen sumberdaya manusia secara professional ini harus dimulai sejak perekrutan pegawai, penyeleksi, pengklasifikasian, penempatan pegawai sesuai dengan kemampuan dan pengembangan karirnya.
Dalam satu perpustakaan, masalah tersebut sudah menjadi hal yang umum. Tidaklah wajar jika banyak pegawai yang sebenarnya secara potensi berkemampuan tinggi tetap tidak mampu berprestasi dalam kerja. Hal ini dimungkinkan karena kondisi psikologi dari jabatan yang tidak cocok, atau mungkin pula karena lingkungan tempa kerja yang tidak membawa rasa aman dan betah bagi dirinya. Oleh karena itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa faktor manusia merupakan faktor modal yang perlu diperhatikan  oleh pimpinan perpustakaan. Kepala perpustakaan atau pustakawan dalam mengambil kebijakan dalam menyusun program perpustakaan, yang perlu dilakukan juga adalah menambah jumlah koleksi perpustakaan agar sesuai dengan kebutuhan pemustaka dengan penuh rasa tanggung jawab kepada Kepala instansi.
3.      Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan  inti manajemen. Sebagai initi manajemen kepemimpinan sangtlah berpengaruh terhadap efektivitas system informasi yang di gunakan dalam organisasi, sebagaimana pengaruhnya terhadap efektivitas berbagai jenis lain dalam organisasi. Salah satu alasan utamanya adalah karena peranan dari orang-orang yang menduduki jabatan pimpinan dan organisasi ialah peranan informasional.
Pimpinan organisasi memiliki peranan yang sangat penting dalam organisasi, bahwa penguasaan dan pemilikan sarana komounikasi sangat menentukan peranan informasi dalam kehidupan organisasional dan menentukan informasi apa yang di sampaikan kepada bawahannya yang biasanya di sertai petunjuk penggunanaan yang harus dim kaitkan dalam rangka peningkatan kineja organisasi berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kerja.
Pimpinan perpustakaan mau tidak mau perlu terlibat dalam seluruh tahap penanganan informasi pada informasi yang dipimpinya. Dilihat dari segi kepemimpinan, dua sisi yang menonjol ialah peranan pipmpinan dalam penerimaan transmisi informasi disatu pihak serta penambilan keputusan untuk ditinjak lanjuti oleh bawahannya dalm pelaksanaan tugas pihak lain.
Adapun perlengkapan perpustakaan digital, diantaranya :
1.      Komputer
2.      Scanner
3.      Barcode 
4.      LCD projector 
5.  Komputer jaringan 
Daftar harga prangkat/perlengkapan perpustakaan digital:
1.      Komputer
@1 unit                                         Rp 12.000.000,-
2.      Scanner
@1 unit                                         Rp   1.000.000,-
3.      Barcode
@2 unit                                         Rp    1.000.000,-
4.      LCD projector
@1 unit                                         Rp   6.400.000,-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar