By Sandi Aprianto
Latar
Belakang
Perkembangan teknologi digital dan juga
kesadaran akan kebebasan informasi publik serta diseminasi informasi telah
membawa banyak perubahan terhadap pola penanganan koleksi dan informasi yang
ada di perpustakaan. Banyaknya informasi yang ada dan juga terbatasnya akses
kepada sumbersumber informasi tertentu menjadikan para pengelola perpustakaan
berinisiatif untuk membangun jaringan perpustakaan digital yang akan
mempermudah dan memperluas akses informasi yang dimilikinya.
Pengelola dan pemerhati perpustakaan di
Indonesia pun menyadari akan kebutuhan itu. Sebelum dan awal millennium di
Indonesia sudah mulai dibentuk embrio dari sebuah jaringan perpustakaan digital
yang diharapkan akan mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu
pengetahuan di Indonesia. Sekitar tahun 1998-an Universitas Petra bersama
dengan 8 institusi membentuk jaringan InCU-VL dan tahun 2000-an muncul sebuah
‘proyek’ bersama yang bernama Indonesia Digital Library Network (IDLN).
Hermanto (2009) dalam artikelnya menyatakan bahwa IDLN mempunyai misi “Unlock
access to Indonesian Knowledge” dimana open content dan content sharing ilmu
pengetahuan menjadi fokus agar rakyat Indonesia dengan mudah mengakses kepada
ilmu pengetahuan tersebut.
Kini setelah 11 tahun lebih berlalu,
InCU-VL dan IDLN tidak lagi ‘berdiri’ sendiri, berbagai kelompok di Indonesia
mulai mengembangkan konsep jaringan perpustakaan digital baik yang berasal dari
kalangan pemerintah, swasta maupun komunitas masyarakat. Tentu hal ini sangat
menggembirakan. Namun disisi lain terdapat pula keprihatinan. Ternyata
perkembangan dari waktu ke waktu ‘proyek-proyek’ beberapa jaringan perpustakaan
digital ini mengalami pasang surut bahkan ada yang sampai ‘mati suri’. Salah
satu faktor yang penting terkait permasalahan tersebut adalah masalah
interoperabilitas antara pengguna jaringan, disamping tentunya faktor-faktor
lain seperti ’sustainability’, masalah kebijakan, akses oleh pengguna, dan
masalah teknis lainnya.
Terkait dengan masalah kebijakan,
menurut Pendit dalam pernyataannya kepada penulis3 menyatakan bahwa faktor yang
cukup mendasar dan penting dalam membangun sebuah perpustakaan digital adalah
faktor kebijakan. Perpustakaan digital hendaknya mulai dibangun dengan
menyiapkan dokumen yang rapi dan jelas terkait dengan desain, kebijakan,
perencanaan, tujuan, dan langkah-langkah pengembangan ke depan, hingga
penanganan masalah teknis. Nah, hal ini juga ternyata sering dilupakan oleh
para pengembang perpustakaan digital di Indonesia. Tentu hal ini tidak dapat
dibiarkan agar ke depan perkembangan jaringan perpustakaan digital ini tetap
dapat dipertahankan dan terus berkembang di Indonesia.
Menyikapi hal tersebut, maka perlu
kiranya melihat kembali perkembangan beberapa jaringan perpustakaan digital
yang ada di Indonesia, serta upaya-upaya yang sudah dan akan dilakukan.
Tujuannya adalah agar dapat dipetik pelajaran (lesson learned) bagi
pengembangan jaringan perpustakaan digital di Indonesia ke depan. Paling tidak
tulisan ini akan menggugah kita untuk berpikir kembali dan mencari solusi yang
tepat bagi permasalahan-permasalahan yang selama ini menghambat proses
pengembangan jaringan perpustakaan digital di Indonesia.
Jaringan perpustakaan digital di
Indonesia muncul karena adanya semangat untuk berbagi ilmu pengetahuan dan
informasi serta sebagai upaya untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat
di Indonesia. Penggagas awal biasanya memang berasal dari kalangan akademisi di
lingkungan pendidikan, walaupun ada juga yang berasal dari masyarakat atau
komunitas. Latar belakang penggagas dan organisasi atau lembaga yang terlibat
di dalamnya menjadikan jaringan perpustakaan digital dapat berisi beraneka
ragam jenis penyedia informasi digital maupun yang hanya berasal dari satu
lembaga atau komunitas tertentu yang memiliki kesamaan baik dari segi informasi
yang dikelola maupun penggunanya. Demikian pula dengan tata cara
pengelolaannya, terdapat berbagai perbedaan yang ke depan dapat menjadi
penghambat apabila tidak direncanakan dengan baik. Seperti masalah kebijakan,
masalah interoperabilitas, masalah akses pengguna, masalah jaminan
keberlangsungan, masalah infrastruktur dan lain sebagainya.
Selain itu, karena salah satu tujuan
keberadaan perpustakaan digital adalah melayani masyarakat atau komunitasnya,
maka perlu juga dipelajari bagaimana pandangan masyarakat pengguna terhadap
keberadaan perpustakaan digital di Indonesia. Melalui survei online yang
dilakukan dan disebarkan melalui berbagai milist yang berisi para pustakawan
dan aktifis atau pemerhati di bidang informasi, penulis mencoba untuk
mengumpulkan data terkait pandangan masyarakat terkait akses pada perpustakaan
digital yang ada di Indonesia, terutama yang menjadi kajian kali ini.
2.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka
rumusan masalah dapat dibentuk, yaitu bagaimana perpustakaan konvensional jika
dikembangkan menjadi perpustakaan digital ?
3.
Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, dapat
simpulkan tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan perpustakaan
konvensional jika dirubah menjadi perpustakaan digital.
4.
Pembahasan
A. Perpustakaan
1. Pengertian
Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan
lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan
pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).
Ada dua
unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman
sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku,
tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di
perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu
diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi,
kita dengan mudah dapat menemukannya.
Dengan
memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah
suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur
secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.
( Sugiyanto )
Menurut
RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi
yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara
khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam
cara interaksi pengetahuan.
Perpustakaan
adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari
perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan
layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat
dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997).
Secara
umum dapat kami simpulkan bahwa pengertian perustakaan adalah suatu institusi
unit kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan
mengelolanya dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan
oleh pemakainya.
2.
Fungsi Perpustakaan
Fungsi penyimpanan, bertugas menyimpan koleksi (informasi)
karena tidak mungkin semua koleksi dapat dijangkau oleh perpustakaan.
Fungsi informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk masyarakat.
Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik dilingkungan formal maupun non formal.
Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
Fungsi kultural, Perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai aktifitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku, mendongeng, seminar, dan sebagainya.
Hal-hal yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah
Fungsi informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk masyarakat.
Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik dilingkungan formal maupun non formal.
Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
Fungsi kultural, Perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai aktifitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku, mendongeng, seminar, dan sebagainya.
Hal-hal yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perjalanan
perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang
sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Pertama, terbatasnya ruang
perpustakaan di samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan
yang hanya menempati ruang sempit, dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan
kenyamanan. Kesadaran dari pihak sekolah sebagai penyelenggara sangatlah
kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan koleksi bahan pustaka saja.
Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di perpustakaan, sehingga
perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Dengan melihat
keadaan di atas sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang pentingnya
perpustakaan. Keberadaan perpustakaan hanyalah untuk pelengkap saja.
Kedua,
keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya.
Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting.
Dengan banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di
perpustakaan, kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga kemampuan
bahasa siswa dapat berkembang baik dan dapat membantu anak dalam memahami
pelajaran-pelajaran lainnya. Mengingat kemampuan bahasa merupakan kemampuan
dasar yang sangat berpengaruh dalam belajar. Begitu juga jika bahan pustakanya
bermutu, maka anak akan banyak memperoleh pengetahuan yang berguna dalam
hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang banyak dan bervariasi
dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka biasanya
mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari pihak
sekolah sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan pustaka,
dengan alasan utama adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal, anggaran untuk
belanja bahan pustaka setiap tahunnya selalu ada, namun jumlah bahan pustaka
tidak pernah bertambah.
Ketiga,
terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan
sekolah yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan. Maksudnya, mereka
bukan petugas yang hanya mengurus perpustakaan saja, sehingga sering tugas di
perpustakaan jadi dikesampingkan dan perpustakaan dianggap kurang bermanfaat.
Lebih-lebih bertugas di perpustakaan adalah pekerjaan yang sangat menjenuhkan,
baik dalam hal pelayanan pengunjung maupun perawatan bahan pustaka yang ada,
sehingga dibutuhkan suatu kesabaran yang tinggi.
Keempat,
kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang
mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Anak kurang tahu tentang kegunaan
perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. Dia membutuhkan dorongan dan
ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan.
B.
Perpustakaan digital
1.
Pengertian
Pengertian
perpustakaan digital yaitu : perpustakaan yang mengelolah semua atau sebagian
koleksi dalam format yang dapat diakses komputer sebagai alternatif atau
pelengkap sumber-sumber informasi cetak yang kompersional. Sedangkan dalam arti
lain pengertian Perpustakaan digital adalah organisasi yang melakukan
kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital dengan
tujuan untuk melestarikan, menjaga, dan terutama mendistribusikan kepada
pengguna sehingga pengguna secara mudah, tepat dan luas dapat mengakses ke
dalam data dan sumber informasi digital tersebut sehingga mendapatkan
pengetahuan yang dibutuhkan.
Perpustakaan
digital dimulai pada akhir tahun 1990 an. Inti dari perencanaan dan
pengembangan sebuah perpustakaan digital yaitu menciptakan sumber-sumber
digital. Perpustakaan digital berisi sumber informasi yang dapat di coding
secara sekuens. Tetapi koleksi dalam perpustakaan digital dalam bentuk digital
atau form elektronik. Oleh karena itu perpustakaan digital berisi obyek digital
yang sangat bervariasi meliputi teks, grafik, gambar, audio-video,
program-program komputer dll. Objek-objek digital yang diciptakan,
disediakan, dan dipreservasi oleh berbagai perpustakaan digital berasal dari
berbagai format data, sehingga hal ini sangat sulit menghasilkan sebuah
definisi yang mencakup semua hal tersebut). dipahami sebagai model perpustakaan
yang hadir pada masa transisi antara perpustakaan tradisional dan perpustakaan
digital.
Ciri-ciri Perpustakaan Digital Menurut Coller
Tahun 1997 Yaitu:
1.
Akses keperpustakaan digital tidak terbatas.
2.
Konten dalam bentuk elektronik akan terus meningkat dan konten dalam
bentuk cetak akan menurun.
3.
Konten dapat teks, gambar, dan bentuk suara.
4.
Penggunaan informasi elektronik akan terus meningkat dan penggunaan
bahan cetak akan menurun.
5.
Pengeluaran untuk bahan elektronik terus akan meningkat dan
pengeluaran bahan cetak akan terus menurun.
6.
Pengeluaran untuk informasi akan bergeser dari kepemilikan ke
berlangganan dan perizinan.
7.
Pengeluaran pada peralatan dan infrastruktur akan meningkat.
8.
Penggunaan bangunan akan beralih dari stockholding ke tempat
–tempat untuk belajar animasi dan kewarganegaraan.
9.
Pekerjaan, pelatihan dan rekruktmen pustakawan dapat ditata ulang
Tujuan Perpustakaan Digital Yaitu :
1.
Untuk memperlancar yang pengembangan perpustakaan.
2.
Untuk mengadakan peran kepemimpinan dan penyebaran pengetahuan kewilayah
strategis yang penting dll.
2.
Rancangan Pengembangan Perpustakaan Digital
Pengembangan perpustakaan digital secara
sederhana identik dengan proses digitalisasi, yaitu proses pengalihan
sumber-sumber informasi dalam bentuk analog ke dalam bentuk digital. Beberapa
pedoman yang harus dipahami dalam pengembangan perpustakaan diantaranya :
1.
Komponen Utama Pengembangan Perpustakaan digital yaitu :
a.
Koleksi (kelompok obyek terorganisasi), dengan prinsip-prinsip pengembangannya.
b.
Obyek (bahan digital) prinsip-prinsip yang dapat dipedomani.
c.
Metadata (informasi tentang obyek dan koleksi, Prinsip-prinsip yang
dapat digunakan
2.
Elemen Dasar (basic elements) Perpustakaan digital.
a.
Koleksi
Elemen dasar perpustakaan digital adalah
koleksi digital, Surachman menyatakan bahwa koleksi digital dapat difahami
sebagai koleksi informasi dalam bentuk elektronik atau digital yang mungkin
terdapat juga dalam koleksi cetak, yang dapat diakses secara luas menggunakan
media komputer dan sejenisnya. Koleksi digital tersebut dapat berupa buku
elektronik, jurnal elektronik, database online, statistik elektronik dan lain sebagainya.
Maksum dan Darmawiredja menyatakan koleksi
perpustakaan diutamakan dalam. Format digital baik offline maupun online,
sedangkan koleksi tercetak lebih diutamakanbuku-buku tentang formula (standar)
dan rujukan.
b.
Sarana
a. Perangkat Keras (Hardware)
a. Komponen input
b. Komponen output
c. Komponen
pengolah untuk melakukan pengolahan dan eksekusi intruksi (processoer,
motherboth).
d. Komponen memori untuk
menyimpan data dan intruksi dalam bentuk elektronik digital (harddisk, RAM).
3.
Proses digitalisasi
Proses
digitalisasi adalah proses yang mengubah dokumen tercetak menjadi dokumen
digital.
Proses
tersebut dibedakan menjadi tiga kegiatan utama yaitu :
1.
Scanning, yaitu proses memindai (men-scan) dokumen dalam bentuk cetak
dan mengubahnya ke dalam bentuk berkas digital. Berkas yang dihasilkan adalah
berkas PDF.
2.
Editing, adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer dengan cara
memberikan password, watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink,
dan sebagainya, dengan software adobe acrobat, termasuk proses OCR (Optical
Character Recognition). Proses OCR adalah sebuah proses
yang mengubah gambar menjadi teks.
3.
Uploading, adalah proses pengisian (input) metadata dan
meng-uploadberkas dokumen tersebut ke digital library. Berkas yang
di-upload adalah berkas PDF yang berisi full text karya akhir
dari mulai halaman judul hingga lampiran, yang telah melalui proses editing.
Unsur
dan syarat perpustakaan digital ada banyak. Biasanya, pustakawan berharap
terlalu banyak dari sistem ini dan oleh karenannya merasa kecewa bilamana
sistem tersebut tidak bekerja seperti yang diharapkan. Untuk memastikan adanya
keberhasilan dalam automasi perpustakaan dibutuhkan kerjasama yang optimal dan
berkelanjutan diantara pengguna sehingga tercipta kepuasan diantara pengguna,
suatu penilain mendalam mengenai kebutuhan-kebutuhan pengguna harus dilakukan
sebelum rencana detail untuk automasi dilakukan. Perlu tersedianya staf
(pustakawan, operator, teknisi/administrator) yang terlatih. Seluruh anggota
staf harus mengerti tentang sistem perpustakaan digital.
Keberlanjutan
pengembangan dengan melakukan perbaikan-perbaikan maupun perawatan-perawatan
baik itu operasional di perpustakaan maupun di jaringan LAN dan WEB
perpustakaan digital. Inovasi dan kreatifitas dibutuhkan untuk membuat suatu
ide-ide baru yang efektif dan efisien dengan mengikuti perkembangan teknologi
informasi digital.
C.
Perangkat untuk pengelolaan perpustakaan digital
Idealnya, setiap perpustakaan
memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk mendukung pengelolaan
koleksi perpustakaan. Diperlukan beberapa perangkat untuk pengelolaan
perpustakaan berbasis Teknologi Informasi.
1. Komputer
Komputer
diperlukan untuk menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan
tepat. Perangkat komputer ini akan digunakan untuk menyimpan data koleksi buku
data anggota perpustakaan, dan OPAC (Online Public Accses Catalogue). Dengan OPAC,
para pelanggan perpustakaan bisa mencari informasi koleksi buku yang mereka
butuhkan tanpa harus mencari secara langsung. Komputer itu juga bisa
dikoneksikan ke internet.Kemudian setelah mempunyai koleksi digital, maka kita
memerlukan pula komputer yang mempunyai performa yang cukup tinggi sebagai
sarana untuk menyimpan serta melayani pengguna dalam mengakses koleksi. Sebuah
komputer dengan processor pentium 4 dengan hard disk sebesar 40 giga, memory
256 Mega bytes adalah spesifikasi komputer minimal..
2.
Internet
Di antara manfaat internet untuk pengelolaan perpustakaanadalah sebagai peranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan distribusi informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat homepageperpustakaan, yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi.Kecepatan jaringan yang diperlukan jaringan intranet (layanan lokal) maupun internet (layanan global) adalah Jaringan 100 Mbps mutlak diperlukan untuk jaringan intranet, dan koneksi internet minimal 128 Kbps untuk layanan internet.
Di antara manfaat internet untuk pengelolaan perpustakaanadalah sebagai peranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan distribusi informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat homepageperpustakaan, yang bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi.Kecepatan jaringan yang diperlukan jaringan intranet (layanan lokal) maupun internet (layanan global) adalah Jaringan 100 Mbps mutlak diperlukan untuk jaringan intranet, dan koneksi internet minimal 128 Kbps untuk layanan internet.
3.
Software
Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan software khusus untuk mendukung pelayanan perpustakaan. Ada beberapa jenis software yang umum digunakan di perpustakaan berbasis IT baik yang berbasis offline maupun online (open source), di antaranya Athenaeum Light,Freelib danSenayan Open Source Library Management System.
Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan software khusus untuk mendukung pelayanan perpustakaan. Ada beberapa jenis software yang umum digunakan di perpustakaan berbasis IT baik yang berbasis offline maupun online (open source), di antaranya Athenaeum Light,Freelib danSenayan Open Source Library Management System.
D.
Struktur Organisasi
Pustakawan
1.
Pembagian Tugas dan Koordinasi
Adapun pembagian tugas yang ada di
perpustakaan adalah sesusai dengan yang ada dalam Struktur Organisasi diatas diantaranya:
1. Kepala Perpustakaan
a. Bertanggung jawab atas segala
kegiatan Perpustakaan
b. Menyusun program perpustakaan.
c. Menyusun Misi Perpustakaan.
d. Menyusun laporan bulanan dan
tahunan.
2. Bagian pengelolahan
a. Bertanggung jawab atas segala
pelaksanaan kegiatan pelayanan dan pengolahan
b. Pengadaan format:
1) Pengunjung
2) Peminjam
3) Anggota perpustakaan
4) Bebas pinjam.
3. Bagian pelayanan pengguna
a. Bertanggung jawab atas segala
kegiatan pelestarian bahan pustaka.
b. Mengatur atau menyimpan buku.
c. Menjaga atau memelihara buku.
d. Membuat data statistik.
e. Memberi layanan khusus setiap hari
kepada mahasiswa ataupun dosen.
Dengan pembagian tugas dan tanggungjawab yang jelas maka
kepala perpustakaan atau pustakawan dapat menyusun program- program
perpustakaan demi meningkatkan pelayanan perpustakaan, salah satu contoh yaitu
menambah jumlah koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka,
yang menjadi sasaran utama koleksi perpustakaan dengan kebutuhan pemustaka
yaitu Guru dan Murid.
2.
Manajemen dan Sumber Daya Manusia
Manajemen dan
sumberdaya manusia sangat penting bagi perpustakaan dalam mengolah, mengatur,
dan memanfaatkan pegawai sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk
tercapainya tujuan perpustakaan. Sumberdaya manusia di perpustakaan perlu dikelola secara profesional agar
terwujud keseimbangan antara kebutuhan,
tuntutan dan kemampaun organisasi. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama
perpustakaan agar dapat berkembang secara produktif dan wajar. Perkembangan
usaha dan organisasi perpustakaan sangatlah bergantung kepada produktifitas
tenaga kerja yang ada di perpustakaan.
Manajemen
adalah keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang
telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain didalam organisasi. manajemen merupakan sebuah organisasi terdiri dari
sekelompok orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu
bersama (N.Anthony, Robert, 2002: 3). Dengan pengaturan manajemen sumberdaya
manusia secara professional ini harus dimulai sejak perekrutan pegawai,
penyeleksi, pengklasifikasian, penempatan pegawai sesuai dengan kemampuan dan pengembangan karirnya.
Dalam
satu perpustakaan, masalah tersebut sudah menjadi hal yang umum. Tidaklah wajar
jika banyak pegawai yang sebenarnya secara potensi berkemampuan tinggi tetap
tidak mampu berprestasi dalam kerja. Hal ini dimungkinkan karena kondisi
psikologi dari jabatan yang tidak cocok, atau mungkin pula karena lingkungan
tempa kerja yang tidak membawa rasa aman dan betah bagi dirinya. Oleh karena
itu, tidak dapat disangkal lagi bahwa faktor manusia merupakan faktor modal
yang perlu diperhatikan oleh pimpinan
perpustakaan. Kepala perpustakaan atau pustakawan dalam mengambil kebijakan
dalam menyusun program perpustakaan, yang perlu dilakukan juga adalah menambah
jumlah koleksi perpustakaan agar sesuai dengan kebutuhan pemustaka dengan penuh
rasa tanggung jawab kepada Kepala instansi.
3. Kepemimpinan
Kepemimpinan
merupakan inti manajemen. Sebagai initi
manajemen kepemimpinan sangtlah berpengaruh terhadap efektivitas system informasi yang di
gunakan dalam organisasi, sebagaimana pengaruhnya terhadap efektivitas berbagai
jenis lain dalam organisasi. Salah satu alasan utamanya adalah karena peranan
dari orang-orang yang menduduki jabatan pimpinan dan organisasi ialah peranan
informasional.
Pimpinan organisasi
memiliki peranan yang sangat penting dalam organisasi, bahwa penguasaan dan
pemilikan sarana komounikasi sangat menentukan peranan informasi dalam
kehidupan organisasional dan menentukan informasi apa yang di sampaikan kepada
bawahannya yang biasanya di sertai petunjuk penggunanaan yang harus dim kaitkan
dalam rangka peningkatan kineja organisasi berdasarkan prinsip-prinsip
efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kerja.
Pimpinan perpustakaan
mau tidak mau perlu terlibat dalam seluruh tahap penanganan informasi pada informasi
yang dipimpinya. Dilihat dari segi kepemimpinan, dua sisi yang menonjol ialah
peranan pipmpinan dalam penerimaan transmisi informasi disatu pihak serta
penambilan keputusan untuk ditinjak lanjuti oleh bawahannya dalm pelaksanaan
tugas pihak lain.
Adapun perlengkapan
perpustakaan digital, diantaranya :
1. Komputer
2. Scanner
3. Barcode
4. LCD
projector
5. Komputer
jaringan
Daftar harga
prangkat/perlengkapan perpustakaan digital:
1. Komputer
@1
unit Rp
12.000.000,-
2. Scanner
@1
unit Rp 1.000.000,-
3. Barcode
@2
unit Rp 1.000.000,-
4. LCD
projector
@1
unit Rp
6.400.000,-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar