Selasa, 05 Desember 2017

Penyakit Parkinson

                                                               oMeri Vari"ah
1.1  Latar Belakang
Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif,merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga.Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun 1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan pergerakan. Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita diantaranya resting tremor, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural. Tanda-tanda motorik tersebut merupakan akibat dari degenerasi neuron dopaminergik pada system nigrostriatal. Namun, derajat keparahan deficit motorik tersebut beragam.Tanda-tanda motorik pasien sering disertai depresi, disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan disfungsi autonom.
Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan wanita seimbang. 5 – 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala awalnya muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65 tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh dunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 60 – 64 tahun sampai 3,5 % pada usia 85 – 89 tahun. Penyakit Parkinson dimulai secara samar-samar dan berkembang secara perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur. Stres emosional atau kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya tremor terjadi pada satu tangan, akhirnya akan mengenai tangan lainnya, lengan dan tungkai. Tremor juga akan mengenai rahang, lidah, kening dan kelopak mata. Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot. Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan. Otot-otot kecil di tangan seringkali mengalami gangguan, sehingga pekerjaan sehari-hari (misalnya mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu) semakin sulit dilakukan. Penderita Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam melangkah dan seringkali berjalan tertatih-tatih dimana lengannya tidak berayun sesuai dengan langkahnya. Jika penderita Penyakit Parkinson sudah mulai berjalan, mereka mengalami kesulitan untuk berhenti atau berbalik. Langkahnya bertambah cepat sehingga mendorong mereka untuk berlari kecil supaya tidak terjatuh. Sikap tubuhnya menjadi bungkuk dan sulit mempertahankan keseimbangan sehingga cenderung jatuh ke depan atau ke belakang. Wajah penderita Penyakit Parkinson menjadi kurang ekspresif karena otot-otot wajah untuk membentuk ekspresi tidak bergerak. Kadang berkurangnya ekspresi wajah ini disalah artikan sebagai depresi, walaupun memang banyak penderita Penyakit Parkinson yang akhirnya mengalami depresi. Pandangan tampak kosong dengan mulut terbuka dan matanya jarang mengedip. Penderita Penyakit Parkinson seringkali ileran atau tersedak karena kekakuan pada otot wajah dan tenggorokan menyebabkan kesulitan menelan. Penderita Penyakit Parkinson berbicara sangat pelan dan tanpa aksen (monoton) dan menjadi gagap karena mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan fikirannya. Sebagian besar penderita memiliki intelektual yang normal, tetapi ada juga yang menjadi pikun.
1.2  Rumusan Masalah
1. Definisi Penyakit Parkinson
2. Gejala dan Penyebab Penyakit Parkinson
3. Diagnosis penyakit Parkinson
4. Perawatan Penyakit Parkinson
5. Terapi Penyakit Parkinson
6.  Penggunaan Obat Antiparkinson
7.  Penggolongan Obat Antiparkinson
8.  Efek Samping Obat Antiparkinson
9.   Interaksi Obat
10.Kehamilan dan laktasi
11.  Obat-obat Antiparkinson
12.  Mekanisme Kerja Obat
1.3  Tujuan
Untuk mengetahui macam-macam obat yang digunakan untuk mengobati gangguan saraf, khususnya untuk obat antiparkinson
2.1 Definisi Penyakit Parkinson
Penyakit parkinson atau penyakit gemetaran yang ditandai dengan gejala tremor, kaku otot  atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan (setapak demi setapak) bahkan dapat terjadi gangguan persepsi dan daya ingat merupakan penyakit yang tejadi akibat proses degenerasi yang progresif dari sel-sel otak (substansia nigra) sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmiter yaitu dopamin.
2.2 Gejala dan Penyebab Penyakit Parkinson
Gejala-gejala Parkinson dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Gangguan motorik positif, misalnya  terjadi tremor dan rigiditas. Gangguan motorik negatif, misalnya terjadi  hipokinesia 
2.  Gejala vegetatif, seperti air liurdan  air mata berlebihan, muka pucat dan  kaku (mask   face) 
3. Gangguan psikis, seperti berkurangnya kemampuan mengambil keputusan, merasa tertekan.
Penyebab penyakit parkinson:
1.      Idiopatik (tidak diketahui sebabnya) 
2.      Radang, trauma, aterosklerosis pada otak. 
3.      Efek samping obat psikofarmaka.
2.3 Diagnosis penyakit Parkinson
            Diagnosa penyakit parkinson didasarkan dengan pengambilan data-data riwayat pasien secara hati-hati dan dengan pemeriksaan fisik pasien yang dikaitkan dengan gejala-gejalanya. Hingga saat ini belum ditemukan test laboratorium atau alat pencitraan yang dapat mengkonfirmasi penyakit parkinson. Pencitraan resonansi magnetik atau yang dikenal dengan MRI mungkin menunjukan kondisi lain yang mempunyai gejala serupa dengan penyakit parkinson.5 Oleh karena itu pasien yang mempunyai gejala-gelaja serupa disarankan utuk mencari seorang ahli saraf pada penyakitparkinson.

2.4 Perawatan Penyakit Parkinson
            Perawatan pada penderita penyakit parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat perkembangan dari penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat dan terapi fisik seperti terapi berjalan, terapi suara atau berbicara dan pasien diharapkan tetap melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya .

2.5 Terapi Penyakit Parkinson
1. Terapi penanganan
Ditujukan untuk memperbaiki atau memelihara keadaan fisik agar pasien dapat berfungsi mandiri.untuk ini perlu dilakukan latihan pysioterapi yang berperan penting dalam mendukung medikasi.
2. Terapi pengobatan
Terapi ini hanya bersifat simpematis,karna sel-sel otak yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi dan progres penyakitpun tidak bisa di hentikan.terapi di arahkan pada pemulihan kembali dari keseibangan hormone yang terganggu.hal ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi ACh meninggakatkan jumlah Dopamin dengan Dopaminergika.
2.6 Penggunaan Obat Antiparkinson
Meskipun pengobatan parkinson tidak dapat mencegah progresi penyakit, tetapi sangat memperbaiki kualitas dan harapan hidup kebanyakan pasien. Karena itu pemberian obat sebaiknya dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan sedikit demi sedikit.
2.7 Penggolongan Obat Antiparkinson
Berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi:
1. Obat anti muskarinik, seperti triheksifenidil/benzheksol, digunakan pada pasien dengan gejala ringan dimana tremor adalah gejala yang dominan. 
2. Obat anti dopaminergik, seperti levodopa, bromokriptin. Untuk penyakit parkinson idiopatik, obat pilihan utama adalah levodopa. 
3.  Obat anti dopamin antikolinergik, seperti amantadine. 
4.   Obat untuk tremor essensial, seperti haloperidol, klorpromazine, primidon dll.
2.8. Efek Samping Obat Antiparkinson
1.  Agonis dopamine dapat menimbulkan kesulitan tidur akibat eksitasi,karena naiknya kadar DA di otak. Efek kejiwaan dapat terjadi juga , seperti rasa takut,depresi dan gejala psikosis pada overdose. Obat-obat ini dapat juga bekerja terhadap hipotalamus dan hipofisis,maka menghambat produksi prolaktin.
2.  Anti Kolinergik efek samping nya terutama diakibatkan oleh blockade system kolinerg dan berupa efek perifer umum,seperti mulut kering,retensi urin,tachycardia,mual,muntah dan sembelit. Begitu pula efek sentral seperti kekacauan,agitasi,halusinasi,gangguan daya ingat dan konsentrasi,terlebih-lebih pada manula.
2.9  Interaksi Obat
Obat Parkinson dapat melawan atau meniadakan efek antipsikotika dan dapat mencetuskan gejala psikosis pada pasien yang ditangani dengan kedua jenis obat. Dengan demikian,di anjurkan untuk menurunkan dosis obat Parkinson sebaliknya antipsikotika dapat memperburuk gejala Parkinson,sedangkan anti depresiva dapat memperkuat efek kognitif dari antikolinergika.
2.10  Kehamilan dan Laktasi
Kebanyakan obat Parkinson belum memiliki cukup data mengenai keamanan nya selama kehamilan dan laktasi. Diketahui efek buruk Amantadin terhadap janin dan masuk nya kedalam ASI. Levodopa juga mencapai ASI,sedangkan bromokriptin,lisorgida dan pergolida menghambat laktasi. Karena penyakit Parkinson kebanyakan dimulai setelah usia 45 tahun,maka masalah ini sebetulnya kurang penting.
2.11 Obat-obat Antiparkinson
Obat
Aturan Pemakaian
Keterangan
Levodopa
(dikombinasikan dengan karbidopa)
Merupakan pengobatan utama untuk parkinson.Diberikan bersama karbidopa untuk meningkatkan efektivitasnya & mengurangi efek
 Sampingnya Mulai dengan dosis rendah, yg selanjutnya ditingkatkan sampai efek terbesar diperoleh
Setelah beberapa tahun digunakan,efektivitasnya bisa berkurang
Bromokriptin atau pergolid
Pada awal pengobatan seringkali ditambahkan pada pemberian levodopa untuk meningkatkan kerja levodopa atau diberikan kemudian ketika efek samping levodopa menimbulkan masalah baru
Jarang diberikan sendiri
Seleglin
Seringkali diberikan sebagai tambahan pada pemakaian levodopa
Bisa meningkatkan aktivitas levodopa di otak
Obat antikolinergik (benztropin & triheksifenidil), obat anti depresi tertentu, antihistamin (difenhidramin)
Pada stadium awal penyakit bisa diberikan tanpa levodopa, pada stadium lanjut diberikan bersamaan dengan levodopa, mulai diberikan dalam dosis rendah
Bisa menimbulkan beberapa efek samping
Amantadin
Digunakan pada stadium awal untuk penyakit yg ringan
Pada stadium lanjut diberikan untuk meningkatkan efek levodopa
Bisa menjadi tidak efektif setelah beberap bulan digunakan sendiri

Pengobatan dasar untuk Parkinson adalah Levodopa-Karbidopa. Penambahan Karbidopa dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas Llevodopa di dalam otak dan untuk mengurangi efek Levodopa yang tidak diinginkan di luar otak.
Kini ada kombinasi tiga obat selain Levodopa dan Karbidopa juga ditambahkan Entacapone. Dimana fungsi Entacapone membantu kerja kedua obat tersebut dengan memperlancar masuknya kedua obat tersebut ke otak. Di dalam otak Levodopa dirubah menjadi Dopamin. Obat ini mengurangi tremor dan kekakuan otot dan memperbaiki gerakan.
Penderita Parkinson ringan bisa kembali menjalani aktivitasnya secara normal dan penderita yang sebelumnya terbaring di tempat tidur menjadi kembali mandiri.Tidak satupun dari obat-obat tersebut yang menyembuhkan penyakit atau menghentikan perkembangannya, tetapi obat-obat tersebut menyebabkan penderita lebih mudah melakukan suatu gerakan dan memperpanjang harapan hidup penderita.
Mengkonsumsi Levodopa selama bertahun-tahun bisa menyebabkan timbulnya gerakan lidah dan bibir yang tidak dikehendaki, wajah menyeringai, kepala mengangguk-angguk dan lengan serta tungkai berputar-putar.Beberapa ahli percaya bahwa menambahkan atau mengganti Levodopa dengan Bromokriptin selama tahun-tahun pertama pengobatan bisa menunda munculnya gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki.
Kini obat antidepresan yang digunakan untuk parkinson hanya Pramipexole, itupun hanya untuk mengurangi gejala yang disebabkan Parkinson. Untuk golongan obat antidepresi golongan MAO-inhibitor (monoamine oxidase inhibitor) tidak digunakan lagi.Untuk mempertahankan mobilitasnya, penderita dianjurkan untuk tetap melakukan kegiatan sehari-harinya sebanyak mungkin dan mengikuti program latihan secara rutin.Terapi fisik dan pemakaian alat bantu mekanik (misalnya kursi roda) bisa membantu penderita tetap mandiri.Makanan kaya serat bisa membantu mengatasi sembelit akibat kurangnya aktivitas, dehidrasi dan beberapa obat.
Makanan tambahan dan pelunak tinja bisa membantu memperlancar buang air besar.Pemberian makanan harus benar-benar diperhatikan karena kekakuan otot bisa menyebabkan penderita mengalami kesulitan menelan sehingga bisa mengalami kekurangan gizi (malnutrisi).Untuk pemilihan obat anti Parkinson yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Penggolongan obat
Obat-obat Parkinson  pada garis besarnya dapat dibagi dalam dua golongan, yakni :
a.       Agonis-DA ( dopaminergika ), yang menstimulir pelepasan dopamine
b.      Antikolinergika, yang memblokir tranmisi kolinergik
c.       Penghambat-COMT ( catechol-o-methyltransferase)

Agonis-DA ( dopaminergika )
Antikolinergika
Penghambat-COMT
 Nama obat
Levodpa, ropirinol, pramipeksol,bromokriptin,glisurida,pergolida,selegenin dan amantadin
Amin tersier sintesis, triheksifenidil (Artane),biperidin,prosiklidin dan deksetimida (tremblex) dan
orfenadrin.
Entakapon
Mekanisme kerja
a.   Meningkatkan sintesa atau kadar DA di setiap SSP ( Levodopa dan Apomorfin )
b.   Stimulasi reseptor DA secara langsung dan selektif (Ropirinol,pramipeksol dan Alkaloida-ergot semi sintesis,bromokriptin,kabergolin,glisurida,pergolida dan Apomorfin )
c.    Menghentikan penguraian DA oleh enzim mono aminoksidase B (MAO-B) ( Selegenin )
d.   Stimulasi pelepasan DA di ujung saraf dan menghambat penarikan kembalinya ( Reubtake inhibition ) di ujung saraf ( Amantadin )
Obat ini bekerja langsung di SSP. Untuk bentuk penyakit yang lebih serius,perlu di
 kombinasikan dengan
 levodopa.
Enzim ini berperan pada perombakan
levodopa,maka penghambtannya menghasilkan peningkatan resorbsi
dan masa paruhnya.
Maka sering
Ditambahkan dengan
kombinasi dopa dengan karbidopa
atau  benzerazida.

2.12  Mekanisme Kerja Obat
Parkinson adalah gejala yang ditandai dengan kurangnya dopamin striatal. Leodopa bersirkulasi dalam tubuh menuju sawar darah otak, saat menembus untuk diubah oleh enzim stratial menjadi dopamin. Levodopa adalah merupakan prekursor dopamin dan digunakan untuk pengobatan parkinson. Obat ini dengan mudahnya dapat memasuki sawar darah otak dimana obat ini dirubah menjadi dopamine. Levodopa aktif terhadap hipokinesia dan kekakuan, terhadap tremor umumnya kurang efektif dibanding dengan obat antikolinergika. Levodopa oral 95 % akan mengalami dekarboksilasi perifer.
Untuk mencapai kadar efektif dibutuhkan dosis besar yang disertai efek samping perifer.Karbidopa (penghambat dopa dekarboksilase) dalam dosis terapi tidak melintasi sawar darah – otak. Dengan mencegah metabolisme levodopa ekstraserebral, jumlah dopamine yang terbentuk dalam otak meningkat.Biasanya perbandingan kombinasi levodopa – karbidopa = 10 : 1. Kombinasi ini meningkatkan masa paruh dan kadar plasma levodopa, pada penggunaan kombinasi dosis levodopa dapat diturunkan sampai 75 % sehingga efek samping perifer menurun.
3.1 Kesimpulan
obat antiparkinson itu sendiri adalah obat-obatan yang dapat mengurangi efek penyakit Parkinson. Dan penyakit Parkinson itu sendiri adalah suatu sindrom dengan gejala utama berupa trias gangguan neuromuskular; Tremor, Rigiditas, Akinesia (hipokinesia) disertai kelainan postur tubuh dan gaya berjalan.
Penggolongan Obat Antiparkinson
Berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi:
1. Obat anti muskarinik, seperti triheksifenidil/benzheksol, digunakan pada pasien dengan gejala ringan dimana tremor adalah gejala yang dominan. 
2. Obat anti dopaminergik, seperti levodopa, bromokriptin. Untuk penyakit parkinson idiopatik, obat pilihan utama adalah levodopa. 
3.  Obat anti dopamin antikolinergik, seperti amantadine. 
4.   Obat untuk tremor essensial, seperti haloperidol, klorpromazine, primidon dll
3.2 Saran
            Dengan adanya makalah Penyakit Parkinson dan Obat untuk mengatasinya ini di harapakan kita mengerti apa itu penyakit Parkinson, cara mencegahnya obat apa saja anti Parkinson itu.
DAFTAR PUSTAKA
John G. Nutt, M.D., and G. Frederick Wooten, M.D., “Diagnosis and Initial Management of Parkinson's Disease”, http://content.nejm.org/cgi/content/full/353/10/1021, 8 September 2005.
 Sobha S. Rao, M.D., Laura A. Hofmann, M.D., and Amer Shakil, M.D., “Parkinson’s Disease: Diagnosis and Treatment”, http://www.aafp.org/afp/20061215/2046.html, 15 Desember 2006.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar