Senin, 31 Oktober 2016

PENYAKIT TUBERKULOSA (TBC)





PENYAKIT TUBERKULOSA (TBC)



                               MERI VARI’AH ( 15.01.20.36 )
APA PENYAKIT TBC ?
Penyakit TBC adalah penyakit radang paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosa.
 TANDA DAN GEJALA PENYAKIT TBC
-         Batuk yang lama
-         Batuk disertai bercak darah
-         Berkeringat dingin terutama jika malam hari.
-         Badan terasa lemah
-         Berat badan berkurang
-         Nafsu makan menurun
-         Panas badan berulang-ulang
-         Dada menjadi bungkuk
-         Kepala pusing
-         Nafas sesak

BAGAIMANA PENYEBARAN TBC
-         Menular lewat saluran nafas
-         Kuman TBC dapat bertahan lama di ruangan yang gelap dan lembab.
-         Dapat ditularkan dari penderita lewat dahak yang dibuang sembarangan
-         Dapat menular jika penderita tidur bersama-sama dengan orang lain.
-         Kuman TBC lebih cepat menular pada orang yang gizinya jelek.
-         Cepat menular pada bayi/anak yang tidak diimunisasi BCG.

APA YANG PERLU DIWASPADAI  JIKA DALAM KELUARGA ADA YANG MENDERITA TBC ?
-         Ajak penderita memeriksakan keadaannnya secara seksama ketempat pelayanan kesehatan untuk kepastian diagnose TBC dengan pemeriksaan foto dada dan pemeriksaan dahak.
-         Jika penyakit sudah pasti ikuti program pemberantasan TBC dengan obat yang telah disaediakan oleh pemerintah melalui puskesmas.
-         Jangan sekali-kali memutuskan obat sebelum dianjurkan oleh petugas puskesmas karena akan menyebabkan penyakit semakin berat.
-         Jaga kebersihan kamar dan rumah secara keseluruhan.
-         Perhatikan ventilasi kamar cukup untuk pertukaran udara dan  cahaya.
-         Sediakan tempat penampungan dahak bagi penderita.
-         Pastikan setiap batuk penderita menutup mulutnya dengan masker atau sapu-tangan
-         Jangan sekali-kali membiarkan penderita tidur bersama dengan anggota keluarga yang sehat terlebih-lebih anak-anak.
-         Pastikan penderita menkonsumsi makanan yang cukup mengandung gizi




  
INGAT

TERATUR  MINUM OBAT
JANGAN PUTUS OBAT
HINDARI PENULARAN
JAGA KEBERSIHAN
BIASAKAN HIDUP SEHAT





 



MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. M DENGAN ANAK DIABETES MELLITUS DI DUSUN X, RT Y, GROBOGAN



MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. M
DENGAN ANAK DIABETES MELLITUS
DI DUSUN X, RT Y, GROBOGAN
OLEH:
                            MERI VARI’AH   ( 15.01.20.36 ) 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut WHO, Indonesia menepati urutan ke – 4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus di dunia. Tahun 2000 saja terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes. Seiring berjalannya waktu pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes meningkatkan tajam menjadi 14 juta orang dengan 50 % yang sadar mengidapnya dan 30% yang dating berobat teratur. Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit ini.Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang diabetes terutama gejala – gejalanya, keluhan dan penyebabnya serta kurangnya perhatian keluarga dalam memerhatikan keluargannya karena mengingat kesibukan yang dilakukan oleh anggota keluarga. Sebagian besar kasus diabetes yang diderita diabetes tipe 2 dari pada tipe 1 hal ini dipengaruhi oleg gaya hidup seseorang dan pola yang dikembangkan keluarganya.
Maka dari itu, dalam mengatasi masalah ini peran keluarga sangat diperlukan karena keluarga juga memiliki tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggota sehingga memahami masalah kesehatan anggotanya antara satu dengan lainya sehingga mampu memberi dampak positif salah satunya dengan merawat dan mencari pelayanan kesehatan untuk kesehatan yang sempurna.Sehingga agar keluarga mampu menjalankan tugas dan perannya perlu dilakukan suatu tindakan yaitu asuhan kepewatan keluarga pada penderita diabetes mellitus agar dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman kepata setiap anggota keluarga dalam memelihara kesehatan keluarganya.




B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep keluarga dalam keperawatan ?
2.      Bagaimana konsep penyakit diabetes mellitus ?
3.      Bagaimana konsep asuhan keperawatan keluarga pada diabetes mellitus?

C.    Tujuan
1.      Untuk memahami konsep keluarga dalam keperawatan.
2.      Untuk memahami konsep penyakit diabetes mellitus.
3.      Untuk memahami konsep asuhan keperawatan keluarga pada diabetes mellitus.

D.    Manfaat
1.      Dapat memahami konsep keluarga dalam keperawatan.
2.      Dapat memahami konsep penyakit diabetes mellitus.
3.      Dapat memahami konsep asuhan keperawatan keluarga pada diabetes mellitus.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Keluarga
1.      Definisi Keluarga
Berikut akan dikemukan definisi keluarga menurut beberapa ahli (Sudiharto, 2007)
a.       Bailon dan Maglaya (1978) mendefinisikan sebagai berikut: “Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya”.
b.      Menurut Departemen Kesehatan (1988) mendefinisikan sebagai berikut: “ Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa orang yang tinggal dalam satu atap dalam keadaan saling bergantungan”.
c.       Menurut Friedman (1998) mendefinisikan sebagai berikut: “Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga”.
d.      Menurut BKKBN (1999) mendefinisikan sebagai berikut: “ Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertaqwa kepada tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungan.
2.      Tipe atau Bentuk Keluarga
Menurut Sudiharto, (2007) tipe dan bentuk keluarga adalah sebagai berikut :
a.       Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak, baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
b.      Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.
c.       Keluarga besar (extended Family) adalah keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, paman, bibi, sepupu.
d.      Keluarga berantai (social family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.
e.       Keluarga duda atau janda keluarga yang terbentuk dari percerai atau kematian pasangan yang dicintai.
f.       Keluarga komposit (komposite family) adalah keluarga dari perkawinan poligami yang hidup bersama.
g.      Keluarga kohabitasi (cohabitation) adalah dua orang yang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan bisa memiliki anak atau tidak. Di indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan bertentangan dengan budaya timur. Namun, lambat laun keluarga kohabitasi ini dapat diterima.
h.      Keluarga inses (incest family) seiring dengan masuknya nilai-nilai global yang pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ayah menikah dengan anak tirinya .walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses semakin hari semakin besar. Hal tersebut dapat kita cermati melalui pemberitaan dari berbagai cetak elektronik.
i.        Keluarga tradisional dan nontradisional dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga non tradisional tidak diikat oleh perkawinan.
3.      Tahap Perkembangan Keluarga
Tugas perkembangan keluarga adalah menambah anggota keluarga dengan kehadiran anggota keluarga yang baru melalui pernikahan anak-anak yang telah dewasa, menata kembali hubungan perkawinan, menyiapkan datangnya proses penuaan, termasuk timbulnya masalah-masalah kesehatan.

4.      Peran Keluarga
Nyc dan Gecas (1976) mengidentifikasikan 8 peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah dan ibu-istri:
a.       Peran sebagai provider (penyedia)
b.      Peran sebagai pengatur rumah tangga
c.       Peran perawatan anak
d.      Peran sosialisasi anak
e.       Peran rekreasi
f.       Peran persaudaraan( Lainship) (memelihara hungan keluarga paternal dan maternal )
g.      Peran terapeutik (memenuhi kebutuhan afektif pasangan)
h.      Peran seksual
i.        Peran perkawinan
5.   Fungsi Keluarga
  Menurut Friadman, (1998) fungsi keluarga adalah sebagai berikut :
a.       Fungsi afektif
Berhungan dengan fungsi internal keluarga dalam pemenuhan kebutuhan psikososial fungsi efektif inin merupakan sumber energi kebahagiaan keluarga.
b.      Fungsi sosialisasi
Sosialisasi dimulai sejak lahir keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma, budaya dan prilaku melalui hubungan interaksi dalam keluarga. 
c.       Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi meneruskan keturunan dan menambahkan sumber daya manusia.
d.      Fungsi ekonomi
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarga seperti kebutuhan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal, dll.
e.       Fungsi keperawatan kesehatan
Kesanggupan keluarga untuk melakukan pemeliharaan kesehatan dilihat dari 5 tugas kesehatan keluarga yaitu :
1)      Keluarga mengenal masalah kesehatan
2)      Keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan.
3)      Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan
4)      Memodifikasi lingkungan, menciptakan dan mempertahankan suasana rumah yang sehat
5)      Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tepat.
B.     Konsep Dasar Penyakit Diabetes Millitus
1.      Pengertian Diabetes Millitus
Diabetes militus merupakan suatu penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.Kelaianan pada sekresi/ kerja insulin tersebut menyebabkan abnormalitas dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah.
World health organization (WHO) sebelum telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat, tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin.

2.      Klasifikasi  Diabetes Millitus
Klasifikasi  yang di tentukan oleh National Diabetes Data Group of The National Institutes of Health, sebagai berikut :
a.       Diabetes Melitus tipe I atau IDDM  ( Insulin Dependen Diabetes Militus) atau tipe Juvenil :
Yaitu ditandai dengan kerusakan insulin dan ketergantungan pada terapi insulin untuk mempertahankan hidup.Diabetes militus tipe 1 juga disebut juveline onset, karena kebanyakan terjadi sebelum umur 20 tahun.Pada tipe ini terjadi destruksi sel beta pankreas dan menjurus ke defisiensi insulin absolute.Mereka cenderung mengalami komplikasi metabolic akut berupa ketosis dan ketoasidosis.
b.      Diabetes Militus tipe II atau NIDDM (Non Insulin Dependen Diabetes Militus) :
Dikenal dengan maturity konsep, dimana tidak terjadi defisiensi insulin secara absolute melainkan relative oleh karena gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.Terjadi pada semua umur, lebih sering pada usia dewasa dan ada kecenderungan familiar. NIDDM dapat berhubungan dengan tingginya kadar insulin yang beredar dalam darah namun tetap memiliki reseptor insulin dan fungsi post reseptor yang tidak efektif.
c.       Gestational Diabetes disebut juga DMG atau Diabetes Militus Gestational.
Yaitu intoleransi glukosa yang timbul selama kehamilan, dimana meningktanya hormon-hormone pertumbuhan dan meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada janin yang mengurangi keefektifitasan insulin.
d.      Intoleransi Glukosa berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu.
Yaitu hiperglikemi yang terjadi karena penyakit lain. Penyakit pankreas, obat-obatan, dan bahan kimia.Kelainan reseptor insulin dan sindrom genetic tertentu. Umumnya obat-obatan tertentu mencetuskan terjadinya hiperglikemia antara lain : diuretic vurosemid ( lasik), dan ehiazide gukotikoid, epinefrin, dilantin, dan asam nikotinat ( Long, 1996 ).

3.      Anatomi Fisiologis
Prankreas adalah sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah panjang kira-kira 15cm mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya rata-rata 69-90gr. Terbentang pada veterbra lumbalis I dan II dibelakang lambung,
a.       Bagian dari pankreas :
1)      Kepala pankreas, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekukan deudenum.
2)      Badan pankreas, merupakan bagian utama dari organ ini letaknya dibelakang lambung dan didepan vertebra lumbalis pertama.
3)      Ekor pankreas, bagian runcing disebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpa.
b.      Fungsi pankreas ada 2 yaitu:
1)      Fungsi eksokrin yaitu membentuk getah pankreas yang memberikan enzim dan elektrolit
2)      Fungsi endokrin yaitu sekelompok kecil atau pulau langerhans, yang bersama-sama membentuk organ endokrin yang mensekresikan insulin.
Pulau langerhans terdiri atas: sel- sel yang menghasilkan glukagon ,sel- sel beta yang menghasilkan insulin ,glukagon dan insulin mengatur kadar gula darah. Insulin adalah hormon hipoglikemik (menurunkan gula darah) sedangkan glukagon bersifat hiperglikemik (meningkatkan gula darah).Selain ini ada sel-sel delta yang menghasilkan somastostatin yang menghambat pelepasan insulin dan glukagon. Selain itu sel F menghasilkan polipeptida dan pankreatik yang berperan mengatur fungsi eksokrin pankreas.(Tambayong, 2001)
Fisiologis dari diabetes mellitus adalah jumlah glukosa yang diambil dan dilepaskan oleh hati dan dipergunakan oleh jaringan perifer tergantung dari keseimbangan fisiologis beberapa hormon antara lain:
                      a.      Hormon yang dapat merendahkan kadar gula darah yaitu insulin. Kerja insulin yaitu merupakan hormon yang menurunkan glukosa darah dengan cara membantu glukosa darah masuk kedalam sel
                     b.      Hormon yang meniingkatkan kadar gula darah antara lain:
1)      Glukagon yang disekresikan oleh sel alfa pulau langerhans
2)      Epinefrin yang disekresi oleh medula adrenal dan jaringan kromafin.
3)      Glukokortikoid yang disekresikan oleh korteks adrenal.
4)      Growth hormone yang disekresi oleh kelenjar  hipofisis anterior.
Glukagon, epinefrin , glukokortikoid, dan growth hormone membentuk suatu mekanisme counfer-regulator yang mencegah timbulnya hipoglikemia akibat pengaruh insulin.

4.      Etiologi Diabetes Millitus
DM dapat disebabkan oleh banyak faktor Noer (1996) menyebutkan bahwa ada 4 penyebab terjadinya DM, yaitu faktor keturunan, fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang, kegemukan atau obesitas, perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi insulin. Faktor keturunan dapat menjadi penyebab yang mengambil penaran paling penting dalam terjadinya DM karena pola familiar yang kuat ( keturunan ) mengakibatkan terjadinya kerusakan sel-sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Sehingga terjadi kelainan dalam sekresi insulin maupunkerja insulin (long, 1996).Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang dapat terjadi karena insulin diperlukan untuk, transport glukosa, asam amino, kalium dan fosfat yang melintasi membrane sel untuk metabolisme intraseluler. Jika terjadi kekurangan insulin akibat kerusakan fungsi sel pankreas akan menyebabkan gangguan pada metabolisme karbohidrat asam amino, kalium dan fosfat (long, 1996).
Kegemukan atau obesitas dapat sebagai pencetus terjadinya DM karena insiden DM menurun pada populisasi dengan suplai yang rendah dan meningkat pada mereka yang mengalami perubahan makanan secara berlebihan.Obesitas merupan faktor resiko tinggi DM karena jumlah jumlah reseptor insulin menurun pada obesitas mengakibatkan intoleransi glukosa dan hiperglikemia (rice dan Wilson, 1995).
Perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi insulin dapat mendukung terjadinya DM karena toleransi glukosa secara berangsur-angsur menurun bersamaan dengan berjalannya usia seseorang mengakibatkan kadar glukosa darah yang lebih tinggi dan lebih lamanya keadaan hiperglikemia pada usia lanjut. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya pelepasan insulin dari sel-sel beta, lambatnya pelepasan insulin dan penurunan sensitifitas perifer terhadap insulin (long,1996).
Etiologi pada DM telah dijabarkan oleh para ahli, yaitu berkaitan dengan fungsi organ dan berbagai faktor resiko yang mendahului. Mansjoer (1996: 588). Menyatakan bahwa insulin dipenden diabetes militus ( IDDM), atau DM yang tergantung pada insulin ( tipe 1 ) disebabkan oleh destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimmune. Sedangkan non insulin diabetes militus ( NIDDM ) atau tipe II disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengamnilan glukosa oleh jaringan veriver dan ferifer dan untuk menghambat produksi gluokosa oleh hati.Sel beta tidak mampu mengimbangi resistenisi insulin ini sepenuhnya (terjadi defisiensi relative insulin). Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya DM, diantaranya :
a.       Faktor genetic ( herediter ).
Resiko terkena DM meningkat apabila ada anggota yang terkena atau menderita DM, yaitu kesesuaian pada kembar monozigote dan autosumonal. Insulin dipenden diabetes militus :< 50 % non insulin dependen diabetes militus :<90-100% (long, 1996).
b.      Faktor Ras dan Etnik tertentu NIDDM
Biasanya dialami oleh non kulit putih, pada masyarakat amerika angka kejadian NIDDM adalah 1:3, sedangkan pada populasi umum adalah 1:200 (long,1996).
c.       Faktor autoimmune
Sel-sel beta panklreas dihancurkan oleh sel beta autoimmune.
e.       Proses radang atau infeksi pada kasus pancreatitis akan terjadi hambatan sekresi insulin.
f.       Faktor obesitas, jumlah reseptor insulin menurun pada orang yang kegemukan
g.      Pada keadaan tertentu misalnya pada wanita pada masa kehamilan atau karena efek dari obat-obatan tertentu (Long,1996)

5.      Patofisiologi Diabetes Millitus
Pancreas yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar penghasil insulin yang terletak di belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta yang mengeluarkan hormone insulin yang sangat berperan dalam mengatur kadar glukosa darah.Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga.Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin secara relatif maupun absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu :
a.       Rusaknya sel-sel β pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat kimia tertentu, dll).
b.      Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.
c.       Desensitasi/kerusakan reseptor insulin (down regulation) di jaringan perifer (Manaf, 2009).
Aktivitas insulin yang rendah akan menyebabkan :
a.       Penurunan penyerapan glukosa oleh sel-sel, disertai peningkatan pengeluaran glukosa oleh hati melalui proses glukoneogenesis dan glikogenolisis. Karena sebagian besar sel tubuh tidak dapat menggunakan glukosa tanpa bantuan insulin, timbul keadaan ironis, yakni terjadi kelebihan glukosa ekstrasel sementara terjadi defisiensi glukosa intrasel.
b.      Kadar glukosa yang meninggi ke tingkat dimana jumlah glukosa yang difiltrasi melebihi kapasitas sel-sel tubulus melakukan reabsorpsi akan menyebabkan glukosa muncul pada urin, keadaan ini dinamakan glukosuria.
c.       Glukosa pada urin menimbulkan efek osmotik yang menarik H2O bersamanya. Keadaan ini menimbulkan diuresis osmotik yang ditandai oleh poliuria (sering berkemih).
d.      Cairan yang keluar dari tubuh secara berlebihan akan menyebabkan dehidrasi, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi perifer karena volume darah turun mencolok. Kegagalan sirkulasi, apabila tidak diperbaiki dapat menyebabkan kematian karena penurunan aliran darah ke otak atau menimbulkan gagal ginjal sekunder akibat tekanan filtrasi yang tidak adekuat.
e.       Selain itu, sel-sel kehilangan air karena tubuh mengalami dehidrasi akibat perpindahan osmotik air dari dalam sel ke cairan ekstrasel yang hipertonik. Akibatnya timbul polidipsia (rasa haus berlebihan) sebagai mekanisme kompensasi untuk mengatasi dehidrasi.
f.       Defisiensi glukosa intrasel menyebabkan “sel kelaparan” akibatnya nafsu makan (appetite) meningkat sehingga timbul polifagia (pemasukan makanan yang berlebihan).
g.      Efek defisiensi insulin pada metabolisme lemak menyebabkan penurunan sintesis trigliserida dan peningkatan lipolisis. Hal ini akan menyebabkan mobilisasi besar-besaran asam lemak dari simpanan trigliserida. Peningkatan asam lemak dalam darah sebagian besar digunakan oleh selsebagai sumber energi alternatif karena glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel.
h.      Efek insulin pada metabolisme protein menyebabkan pergeseran netto kearah katabolisme protein. Penguraian protein-protein otot menyebabkan otot rangka lisut dan melemah sehingga terjadi penurunan berat badan (Sherwood, 2001).
Bila insulin tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada diabetes mellitus tipe 1.Pada keadaan diabetes mellitus tipe 2, jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih banyak, tetapi jumlah reseptor (penangkap) insulin di permukaan sel kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan DM tipe 2, jumlah lubang kuncinya kurang, sehingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit, sehingga sel kekurangan bahan bakar (glukosa) dan kadar glukosa dalam darah meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan keadaan DM tipe 1, bedanya adalah pada DM tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi, kadar insulin juga tinggi atau normal. Pada DM tipe 2 juga bisa ditemukan jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga gagal membawa glukosa masuk ke dalam sel. Di samping penyebab di atas, DM juga bisa terjadi akibat gangguan transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolisme energi.

6.      Manifestasi Klinis Diabetes Millitus
Gejala pada DM adalah :
                         a.      Poliuri (banyak buang air kecil), frekuensi buang air kecil meningkat termasuk pada malam hari.
                        b.      Polidipsi (banyak minum), rasa haus meningkat.
                         c.      Polipagi (banyak makan), rasa lapar meningkat.
                        d.      Gejala lain yang dirasakan penderita.
                         e.      Kelemahan atau rasa lemah sepanjang hari.
                         f.      Keletihan.
                        g.      Penglihatan atau pandangan kabur.
                        h.      Pada keadaan ketoasidosis akan menyebabkan mual dan muntah.
                          i.      Kehilangan berat badan.
                          j.      Luka, goresan lama sembuh.
                        k.      Kaki kesemutan, mati rasa.
                          l.      Infeksi kulit.
Kriteria diagnosa yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 1980 dan 1985 masih digunakan, meskipun semenjak itu telah ditarik dan diperbaiki oleh American Diabetes Association (ADA) melalui komite ahli tentang diagnosa dan penggolongan diabetes mellitus 1997. Kriteria yang dimaksud sebagaiberikut :
a.       WHO : Kadar glukosa atau gula dengan atau yang melampaui 11.1 mmol/1 dalamplasma darah vena yang diambil sampelnya secara acak. (atau 10.1 mmol/1 jikaseluruh darah vena diambil sampelnya), atau kadar gula puasa dengan atau yang melampaui 7.8 mmol/1 dalam plasma darah vena. (Atau 6.7 mmol/1 jika seluruhdarah vena diambil sampelnya).
b.      ADA :Kadar glukosa dengan atau yang melampaui 11.1 mmol/1 dalam plasmadarah vena yang diambil sampelnya secara acak, ditambah dengan gejala-gejaladiabetes, atau kadar gula puasa dengan atau yang melampaui 7.0 mmol/1 dalamplasma sampel darah vena. (Puasa dinyatakan sebagai tanpa makan atau minumyang mengandung kalori-kalori selama 6-10 jam sebelumnya, biasanya semalam)(Mc Wright, 2008).
Diagnosa pasti DM apabila ada gejala khas serta keluhan yang tersebut diatasditambah kadar glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dl dan kadar glukosa darah puasa125 mg/dl pada dua kali pemeriksaan yang berbeda.

7.      Komplikasi Diabetes Millitus
Komplikasi DM terbagi menjai 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik menurut Smeltzer(2002)yaitu:
a.       Komplikasi akut, adalah komplikasi pada DM yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek, ketiga komplikasi tersebut adalah:
1)      Diabetik Ketosedosis (DKA)Ketoasidosis Diabetik merupakan defesiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan penyakit DM. Diabetik Ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau cukupnya jumlah insulin yang nyata.
2)      Koma Hiperosmolar Nonketotik(KHHN)Koma hipermosolar Nonketonik merupakan keadaan yang didominasi oleh Hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Salah satu perubahan utamanya dengan DKA adalah tidak tepatnya ketosis dan asidosis pada KHHN .
3)      Hipoglikemia Hipoglikemia terjadi kalau kadar gula dalam darah turun dibawah 50-60 mg/dl keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian priparat insulin atau preparat oral berlebihan, konsumsi makanan terlalu sedikit
b.      Komplikasi kronik Efek samping diabetes militus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah diseluruh bagian tubuh atau angiopati diabetik dibagi menjadi 2:
1)      Komplikasi mikrovakuler
a)      Penyakit GinjalSalah satu akibat utama dari perubahan- perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada strutural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa dalam darah meningkat, maka sikulasi darah ke ginjal menjadi menurun sehingga pada akhirnya bisa terjadi nefropati.
b)      Penyakit Mata Penderita DM akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan keluhan penglihatan kabur tidak selalu disebabkan retinopati. Katarak juga dapat disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa.
c)      Neuropati Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer, sistem saraf otonom medula spinalis atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbitol dan perubahan-perubahan mebolik lain dalam sintesa fungsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf.
2)      Komplikasi Makrovaskuler
a)      Penyakit jantung koroner Akibat diabetes maka aliran darah akan melambat sehingga terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh ubuh sehingga tekanan darah akan naik. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis) dengan resiko penyakit jantung koroner atau stroke.
b)      Pembuluh Darah Kaki Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf –saraf sensorik keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang menyebabkan ganggren. Infeksi dimulai dari celah- celah kulit yang mengalami hipertropi, pada sel-sel kuku kaki yang menebal dan kalus demikian juga pada daerah-daerah yang terkena trauma.
8.      Penatalaksanaan Diabetes Millitus
a.       Penatalaksanaan secara medis
1)      Obat hipoglikemik oral
a)      Golongan sulvonilurea/sulvonylureas
Obat ini paling banyak digunakan dan dapat dikombinasikan dengan obat golongan lain, yaitu biguanid, inhibitoralfa glukosidase atau insulin. Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan produksi insulin oleh sel-sel beta pankreas, karena itu menjadi pilihan utama para penderita DM tipe II dengan berat badan berlebihan. Obat-obatan yang beredar dari kelompok ini adalah : Glibenklamida (5mg/tablet), Glibenklamida mikronised (5mg/tablet), Glikasida (80mg/tablet), Glikuidon (30mg/tablet).
b)      Golongan biguanid/metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi gklukosa hati, memperbaiki ambilan glukosa dan jaringan (glukosa perifer) di anjurkan sebagai obat tunggal pada pasien dengan kelebihan berat badan.
c)      Inhibitor alfa glukosidase
Mempunyai efek utama menghambat penyerapan gula disaluran pencernaan, sehingga dapat menurunkan kadar gula sesudah makan. Bermanfaat untuk pasien dengan kadar gula puasa yang masih normal.
d)     Insulin
Indikasi insulinPada DM tipe I yang tergantung pada insulin biasanya digunakan Human Monocommponent Insulin (40 UI dan 100 UI/ml injeksi), yang beredar adalah Aktrapid.Injeksi insulin juga diberikan kepada penderita DM tipe II yang kehilangan berat badan secara drastic. Yang tidak  berhasil dengan penggunaan obat-obatan anti DM dengan dosis maksimal, atau mengalami kontra indikasi dengan obat-obatan tersebut, bila mengalami ketoasidosis, hiperomoral, danasidosislaktat, stress berat karena infeksi sistemik, pasien operasi berat, wanita hamil dengan gejala DM gestational yang tidak dapat dikontrol denganpengendalian diet.Jenis insulin Insulin kerja cepat jenis-jenisnya adalah regular insulin, kristalin zink, dan semilente.Insulin kerja sedang jenis-jenisnya adalah NTH (Netralprotamine Hagerdon), Insulin kerja lambat jenis-jenisnya adalah WZI (Protamine Zinc Insulin)
b.      Penatalaksanaan secara keperawatan
1)      Diet
Salah satu pilar utama pengelolaan DM adalah perencanaan makan.Walaupun telah mendapat tentang penyuluhan perencanaa makanan, lebih dari 50% pasien tidak melaksanakannya.Penderita DM sebaiknya mempertahankan menu diet seimbang, dengan komposisi idialnya sekitar 68% karbohidrat, 20% lemak dan 12% protein. Karena itu diet yang tepat untuk mengendalikan dan mencegah agar berat badan tidak menjadi berlebihan dengan cara: kurangi kalori, kurangi lemak, komsumsi karbohidrat komplek, hindari makanan yang manis, perbanyak konsumsi serat.
2)      Olahraga
Olahraga selain dapat mengontrol kadar gula darah karena membuat insulin bekerja lebih efektif. Olahraga juga membantu menurunkan berat badan, memperkuat jantung, dan mengurangi stress. Bagi pasien DM melakukan olahraga dengan teratur akan lebih baik, tetapi jangan melakukan olahraga yang berat-berat.






9.      Pemeriksaan Penunjang
Jenis pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan darah
GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl
Urine
didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata  ( ++++ ).
Kultur pus
untuk mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.


C.    Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Diabetes Militus
1.      Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan keluarga yang dilakukan adalah sebagai berikut : (Sutiyono, 2008)
a)      Identitas umum
1)      Identitas kepala keluarga yang meliputi : Nama, umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomor telepon.
2)      Komposisi keluargaterdiri dari nama, jenis kelamin, hubungan dengan kepala keluarga, imunisasi, ststus pendidikan dan umur.
3)      Genogram adalah symbol – symbol yang dipakai dalam pembuatan genogram untuk menggambarkan susunan keluarga. Aturan pembuatannya adalah sebagai berikut : anggota keluarga yang lebih tua berada disebelah kiri, umur anggota keluarga ditulis pada symbol laki – laki atau perempuan, tahun dan penyebab kematian ditulis disebelah symbol laki – laki atau perempuan., paling sedikit disusun tiga generasi, aturan symbol seperti symbol sebagai berikut :




laki-laki           perempuan                   menikah                       pisah

X
X
 


            cerai anak kandung                              meninggal


           


tinggal dalam satu rumah            anak aborsi  anakkembar 

                             pasien
4)      Tipe keluarga dimana menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut. 
5)      Suku bangsa ( etnis)
Latar belakang etnis keluarga atau anggota keluarga : yang dikaji adalah asal suku bangsa tersebut serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait kesehatan, tempat tinggal keluarga (bagian dari sebuah lingkungan yang secara etnis bersifat homogen), kegiatan – kegiatan keagamaan, social, budaya, rekreasi, pendidikan (apakah kegiatan ini berada dalam kelompok kultur/ budaya keluarga, kebiasaan – kebiasaan diet dan berbusana ( tradisional atau modern), sruktur kekuasaan tradisional atau modern, penggunaan jasa – jasa perawatan kesehatan keluarga dan praktisi, penggunaan bahasa sehari – hari
6)      Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
Apakah anggota keluarga berbeda dalam praktik beragamaan mereka, seberapa aktif keluarga tersebut terlibat dalam kegiatan agama atau organisasi keagamaan lainnya, keluarga menganut agama apa, kepercayaan dan nilai keagamaan yang dianut dalam kehidupankeluarga terutama dalam hal kesehatan.
7)      Status social ekonomi keluargaditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun anggota lainnya. selain itu status social ekonomi ditentukan oleh kebutuhan yang dikeluarkan maupun dimiliki.
8)      Aktivitas rekreasi keuargatidak hanya untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu namun dengan menonton TV atau aktifitas lainya.
b)      Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1)      Riwayat kesehatan sebelumnya
Disini diuraikan riwayat keluarga kepala keluarga sebelum membentuk keluarga sampai saat ini
2)      Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga saat ini Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga.
3)      Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan: dikaji kalau ada masalah kesehatan berobat kemana
c)      Pengkajian lingkungan
1)      Karakteristik rumah yang meliputi :gambar tipe tempat tinggal (rumah, apartemen, sewa kamar, dll) apakah keluarga memiliki sendiri atau menyewa rumah ini, denah rumah termasuk gambarkan kondisi rumah (baik interior maupun eksterior rumah). Interior rumah meliputi jumlah kamar dan tipe kamar ( kamar tamu, kamar tidur, dll), penggunaan- penggunaan kamar tersebut dan bagaimana kamar tersebut diatur. Bagaimana kondisi dan kecukupan perabot. Apakah penerangan ventilasi, pemanas.apakah lantai, tangga, susunan dan bangunan yang lain dalam kondisi yang adekuat. Jelaskan. Di dapur, amati suplai air minum, penggunaan alat-alat masak, pengamanan untuk kebakaran jelaskan. Dikamar mandi, amati sanitasi, air, fasilitas toilet ada tidaknya sabun dan handukJelaskan kamar mandi terkesan bersih, lantai dari keramik, bak mandi dikuras 2 kali dalam seminggu dan tidak terdapat jentik-jentik nyamuk.Kaji pengaturan tidur didalam rumah Apakah pengaturan tersebut memadai bagi para anggota keluarga, dengan pertimbangan usia mereka, hubungan dan kebutuhan-kebutuhan khusus mereka lainnya. Jelaskkan. Amati keadaan umum kebersihan dan sanitasi rumah. Apakah ada serbuan serangga-serangga kecil (khususnya didalam dan atau masalah-masalah sanitasi yang disebabkan oleh binatang-binatang piharaan jelaskan.Kaji perasaan-perasaan subyektif keluarga terhadap rumah .Apakah keluarga menganggap rumahnya memadai bagi mereka.Evaluasi pengaturan privasi dan bagaimana keluarga meraskan privasi mereka memadai. Jelaskan.Evaluasi ada dan tidak adanya bahaya-bahaya terhadap keamanan rumah atau lingkungan. Evaluasi adekusi pembuangan sampah jelaskan.Kaji perasaan puas atau tidak puas dari anggota keluarga secara keseluruhan dengan pengaturan atau penataan rumah jelaskan.
2)      Karakteristik tetangga
Jelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik aturan atau kesepakatan penduduk setempat, budaya yang mempengaruhi kesehatan
3)      Mobilitas Geografi Keluarga.
Mobilitas geografi keluarga yang ditentukan dengan kebisaan keluarga berpindah tempat.Sudah berapa lama keluarga tinggal didaerah ini dan apakah sering berpindah-pindah tempat tinggal?jelaskan. 
4)      Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat.
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada.
5)      Sistem Pendukung keluarga.
Yang termasuk sistem pendukung adalah jumlah keluarga yang sehat, fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan yang meliputi fasilitas fisik, psikologi atau dukungan dari keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan masyarakat setempat dengan megkaji siapa penolong keluarga pada saat keluarga membutuhkan bantuan, dukungan konseling aktivitas-aktivitas keluarga (sebutkan lembaga formal atau informal; informal: ikatan keluarga, temean-teman dekat, tetangga; formal: lembaga resmi pemerintah maupun swasta/LSM ) dan informal, yaitu tetangga
d)     Struktur keluarga
1)      Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga, bahasa apa yang digunakan dalam keluarga,bagaimana frekuensi dan kualitas komunikasi yang berlangsung dalam keluarga dan adakah hal – hal dalam keluarga yang tertutup untuk didiskusikan.
2)         Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah perilakunnya yang perlu dikaji adalah :
Siapa yang membuat keputusan.
Bagaimana cara keluarga mengambil keputusan( otoriter, musyawarah, diserahkan pada masing – masing individu).
Apakah keluarga puas dengan pola tersebut
Siapa pengambilan keputusan
3)   Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing – masing anggota baik secara formal maupun informal dan siapa yang menjadi model peran dalam keluarga dan apakah ada konflik dalam pengaturan peran yang selama ini dijalani.
4)   Nilai atau Norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.
e)      Fungsi keluarga
                                 1)      Fungsi afektif
Mengkaji gambaran diri, perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, kehangatan kepada keluarga dan keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
                                 2)      Fungsi sosialisasi
Bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, tahu budaya,dan perilaku.
                                 3)      Fungsi perawatan kesehatan
Pengetahuan keluarga mengenai sehat – sakit. kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga yaitu : mengenal masalah kesehatan yaitu sejauhmana keluarga mengenal fakta – fakta dari masalah kesehatan yang meliputi konsep dari penyakit yang diderita, mengambil keputusan mengenai tindakan terhadap masalah, merawat anggota yang sakit, baik secara fisik maupun mental, memelihara lingungan rumah sehat, sejauh mana mengetahui sumber keluarga yang dimiliki, menggunkan fasilitas atau pelayanan kesehatan di masyarakat, apakah mengetahui fasilitas kesehatan, keuntungan , kepercayaan, dan terjangkau oleh keluarga tersebut.
                                 4)      Fungsi reproduksi
Mengkaji jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa yang digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggota keluarga.
                                 5)      Fungsi ekonomi
Mengkaji sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan dan memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upatya meningkatkan status kesehatan keluarga


f)       Stres dan koping keluarga
1)      Stresor jangka pendek yaitu yang dialami keluarga yang memerlukan waktu penyelesaian dalam waktu kurang lebih
2)      Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi.
3)      Strategi koping yang digunakan dalam menghadapi masalah yang dihadapi.
4)      Strategi adaptasi disfungsional dijelaskan mengenai disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
g)      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga yang meliputi :
1)      Status kesehatan umum yang meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.
2)      Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
3)      Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di daerah  sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
4)      Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada.Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.
5)      Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau   berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
6)      Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
7)      Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
8)      Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
9)      Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
10)  Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
Jenis pemeriksaan
Hasil
Pemeriksaan darah
GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl
Urine
didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata  ( ++++ ).
Kultur pus
untuk mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.


h)      Harapan keluarga adalah keinginan keluarga terhadap masalah kesehatan dan mengungkapkan keluhannya terhadap petugas kesehatan.

2.      Diagnosa
Dalam menentukan juga dilakukan sebuah scoring pada diagnose yang akan diangkat mengenai tentang sifat masalah, kemungkinan dapat diubah, potensial masalah dicegah, dan menonjolnya masalah. Diagnosa yang muncul dalam keperawatan pada keluarga penderita diabetes mellitus adalah:
No
Diagnosa Keperawatan
1
Domain 2        : Nutrisi
Kelas 1            : Makan
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
2
Domain 5        : Persepsi / Kognisi
Kelas 4            : Kognisi
Difisiensi pengetahuan (00126)
3
Domain 1        : Promosi Kesehatan
Kelas 2            : Manajemen Kesehatan
Ketidakefektifan management kesehatan keluarga (00080)
4
Domain 2        : Nutrisi
Kelas 4            : Metabolisme
Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah (00179)
5
Domain 4        : Aktivitas / Is
tirahat
Kelas 5            : Perawatan Diri
Kesiapan meningkatkan perawatan diri (00182)



3.      Rencana Keperawatan
Menurut NANDA, NIC – NOC (2013) asuhan keperawatan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
a.       Diagnosa   : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari tubuh (00002)
NOC
1)   Nutrional Status : food and fluid (1008)
2)   Nutrional Status : nutrient intake (1009)
Kriteria hasil :
a)         Tidak terjadinya penurunan berat badan yang signifikan.
b)         Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

NIC
1)      Nutrition Management (1100)
2)      Nutrition Monitoring (1160)
Tindakan :
a)      Ajarkan pasien dan keluarga dalam memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan.
b)      Sarankan kepada klien dan keluarga mengkonsumsi makanan kaya protein
EB : makanan yang kaya protein dapat meningkatkan energy bagi penderita DM (Dumme  & Dhal , 2007)
c)      Berikan informasi yang jelas tentang kebutuhan nutrisi.
EB : peneliti melaporkan bahwa faktor yang mempengaruhi keseimbangan nutrisi tergantung darijenis makanan apa yang dikonsumsi klien ( Wikbly & Fagerskiodv, 2004)
d)     Ajurkan diet kepada pasien
EB : pada orang dewasa dengan melaksanakan diet akan cendrung dapat memenuhi rekomendasi asupan nurtisi 2 x lipat pada orang yang tidak menjalani diet pada kasus kekurangan nutrisi ( David A Wagstaff, 2011).
e)      Monitor interaksi keluarga selama makan.
f)       Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori pasien dan keluarganya.
EB : Melakukan monitor dengan intervensi nutrisi dan menghitung kebutuhan kalori ini dapat mengidentifikasi kebutuhan nutrisi untuk ukuran yang lebih sederhana dari status fungsional. ( Stow, Ruth, dkk. 2015).
b.      Diagnosa   :Difisiensi pengetahuan (00126)
NOC
1)      Knowledge : disease proses
2)      Knowledge : healthy behavior
Kriteria hasil :
a)      Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.
b)      Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.
c)      Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat.
NIC
1)      Teaching : disease prosess
Tindakan :
a)      Berikan pengakuan tentang perbedaan rasa tau etnis pada awal perawatan kepada keluarga.
EB : Menunjukkan rasa hormat dan mengakui perbedaan rasa tau etnis dapat meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan klien sehingga promosi kesehatan tentang hasil pengobatan dapat berjalan dengan baik ( Rust et al, 2006).
d)     Berikan penilaian tentang hubungan keperayaan dengan tingkat pengetahuan  keluargatentang proses penyakit yang spesifik.
EB : Kepercayaan dapat mempengaruhi perilaku sakit ( Russel, 2006)
e)      Berikan penilaian tentang perawatan diri pasien maupun keluarga yang dapat mempengaruhi penyakit.
EBN : Orang – orang dan lingkungan rumah dapat berinteraksi dengan cara pengobatan utama untuk masalah kesehatan (Rossel, 2006)
a)      Gunakan metode pengajaran yang peka akan budaya, adat istiadat, nilai yang berkembang dalam lingkungan pasien dan gaya hidup pasien untuk menjelaskan ptofisiologis dari penyakit yang diderita kepada keluarga.
EB : program pendidikan yang focus pada konteks budaya telah terbukti lebih efektif dari pada program pendidikan umum
c.       Diagnosa   :Ketidakefektifan management kesehatan keluarga (00080)
NOC
1)      Therapeutic regiment management ineffective
Kriteria hasil :
a)      Kualitas hidup meningkat.
b)      Mampu mengatasi masalah kesehatan keluarga.
c)      Mampu meningkatkan komunikasi antar anggota keluarga dalam masalah kesehatan.
d)     Normalisasi keluarga.
NIC
1)      Family suppot
Tindakan :
a)      Bantu keluarga dalam mengenal masalahnya.
b)      Bantu memotivasi keluarga untuk berubah.
c)      Dukung keluarga dalam meningkatkan nilai, minat, dan tujuan keluarga.
d)     Bantu anggota keluarga dalam mengklarifikasi apa yang mereka harapkan dan butuhkan satu dengan lainnya.
e)      Berikan informasi penting, advokasi dan dukungan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesehatan keluarga.
d.      Diagnosa   : Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah (00179)
NOC
1)      Blood glucose, risk for unstable.
2)      Diabetes self management
Kriteria hasil :
a)      Glukosa darah adekuat
b)      Kualitas hidup meningkat.
c)      Dapat mengontrol kadar gula darah.
d)     Pemahaman management diabetes.
e)      Status nutrisi adekuat
NIC
1)      Hiperglikemia management
Tindakan :
a)      Uji kadar glukosa darah anggota keluarga.
b)      Ajurkan diet kepada pasien
EB : pada orang dewasa dengan melaksanakan diet akan cendrung dapat memenuhi rekomendasi asupan nurtisi 2 x lipat pada orang yang tidak menjalani diet pada kasus kekurangan nutrisi ( David A Wagstaff, 2011).
c)      Ajarkan keluarga tentang diet yang harus dijalani.
d)     Motivasi keluarga dalam melaksanakan diet yang sedang dijalankan.
e)      Berikan informasi yang terkait kepada keluarga tentang diet.
e.       Diagnosa   : Kesiapan meningkatkan perawatan diri (00182)
NOC
1)      Self care status
Kriteria hasil :
a)      Dapat mengetahui tentang masalah yang sedang dihadapi.
b)      Mengetahui cara untuk merawat diri dan keluarga.
c)      Kualitas hidup meningkat.
NIC
1)      Self care assistance
Tindakan :
a)      Pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan diri.
b)      Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perawatan yang belum terpenuhi.
c)      Berikan informasi yang terkait dengan perawatan diri.
d)     Anjurkan keluarga untuk saling memotivasi antar satu dengan yang lainnya.





















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. M
DENGAN ANAK DIABETES MILLITUS
DI DUSUN X, RT Y, GROBOGAN

Keluarga Tn. M merupakan keluarga extended family yang terdiri dari Tn.M (59 th) sebagai kepala keluarga, istrinya Ny. S (56 th) mereka memiliki seorang anak yaitu Tn. A (32 th) menikah dengan Ny.W (32 th) dan memiliki satu anak yaitu Nn. Y (14 th). Mereka tinggal serumah dan tidak memiliki riwayat penyakit menurun, namun Tn. A mengeluh banyak makan, banyak minum dan banyak BAK serta  berat badan menurun drastic. Setelah dibawa kedokter ternyata beliau memiliki penyakit diabetes mellitus.

A.    Pengkajian Keperawatan.
1.      Identitas Umum.
a.       Identitas Kepala Keluarga.
Nama                     : Tn M.
Umur                     : 59 tahun.
Alamat                  : Dusun X, RT Y, Grobogan.
Pendidikan                        : SD.
Pekerjaan               : Petani.
Agama                   : Islam.
b.      Komposisi Keluarga.
No
Nama
J. K
Hub Keluarga
Umur
Pendidikan
Status Imunisasi
KB
1
Tn. M
Laki2
KK
59th
SD
-
-
2
Ny. S
Perempuan
Istri
56th
SD
-
-
3
Tn. A
Laki2
Anak
32th
SMP
-
-
4
Ny. W
Perempuan
Menantu
32th
SMP
-
Pil
5
Nn. Y
Perempuan
Cucu
14th
SMP
Lengkap
-

a.       Genogram.










Keterangan:

Laki-laki.

                        Perempuan


                        Laki-laki Penderita DM

                                    Tinggal serumah.

b.      Tipe Keluarga.
Keluarga Tn. M termasuk keluarga extended family karena di dalam keluarga terdapat kakek, nenek, anak, menantu, cucu, sehingga apabila anggota keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang penyakit yang di diderita salah satu anggota keluarga maka hal tersebut dapat memperparah kondisi si penderita.
c.       Suku Bangsa.
Tn. M sekeluarga bersuku Jawa bangsa Indonesia.Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Menurut Tn. A, tidak ada kebiasaan anggota keluarga yang bertentangan dengan kesehatan.
d.      Agama.
Tn. M dan sekeluarga beragama Islam.Setiap anggota keluarga taat melaksanakan sholat 5 waktu secara sendiri-sendiri di rumah atau di masjid terdekat.Namun sejak Tn.A dinyatakan sakit, beliau jarang sholat karena merasa tidak enak badan.
e.       Status Sosial Ekonomi Keluarga.
1)      Pekerjaan Anggota Keluarga.
Tn. M masih bekerja sebagai petani, Ny. S dan Ny. W bekerja membantu Tn. M sebagai petani, Tn.A bekerja sebagai buruh bangunan, dan Nn Y masih sekolah.Namun sejak Tn. A dinyatakan sakit, Tn A jarang bekerja.
2)      Penghasilan Anggota Keluarga.
Penghasilan rata-rata anggota keluarga Tn. M perbulan kurang lebih Rp. 800.000, kecuali Nn Y yang masih sekolah.
3)      Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari.
Penghasilan rata-rata keluarga perbulan dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan pengelolahan yang baik.
4)      Tabungan atau Asuransi.
Menurut Tn. M, keluarga belum bisa menyisihkan uangnya untuk ditabungkan.
f.       Aktivitas Rekreasi Keluarga.
Keluarga tidak pernah bepergian ke tempat pariwisata, rekreasi yang dilakukan oleh keluarga adalah menonton TV.

2.      Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga.
a.       Tahap perkembangan keluarga saat ini.
Keluarga Tn. M saat ini memasuki tahap perkembangan keluarga dengan cucu usia sekolah. Saat ini semua anggota keluarga tidak ada yang sedang sakit, kecuali Tn, A yang sedang menderita penyakit Diabetes Millitus.
b.      Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
Keluarga Tn. M belum mampu untuk memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga karena pengetahuan tentang kesehatan yang sangat kurang sekali dan terbukti Tn.A menderita Diabetes Millitus.

3.      Riwayat Kesehatan Keluarga.
a.       Riwayat kesehatan sebelumnya.
Saat pengkajian tidak ada yang menderita penyakit Diabetes Millitus.
b.      Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga saat ini.
1)      Tn. M  : Keadaan sehat dan tidak pernah mengalami sakit yang serius.
2)      Ny. S   : Keadaan sehat dan tidak pernah mengalami sakit yang serius.
3)      Tn. A   : Satu bulan yang lalu Tn.A pergi ke dokter dengan keluhan panas. Disana Tn. A berkonsultasi dengan dokter dan mengatakan bahwa beliau mengalami penurunan berat badan yang cukup drastic, sering buang air kecil, sering haus dan merasa lapar. Kemudian disana Tn. A memperoleh tes gula darah. Dokter kemudian mengatakan bahwa Tn. A mengidap penyakit diabetes mellitus dan disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit, namun karena keterbatasan biaya, Tn. A akhirnya hanya menjalani rawat jalan saja.



4.      Pengkajian Lingkungan.
a.       Karakteristik rumah.
5
Denah Rumah                                           Keterangan :
7
4
  U                                                                                          
8
2 = kamar mandi         7 = kamar tidur
2
9
8 = kamar tidur           5 =  ruang tamu
  S                                                                                4 = dapur                     9 = kamar tidur                                              
Rumah Tn. M terdiri dari ruang tamu, 3 kamar tidur, kamar mandi, dapur, dinding rumah dari tembok dan asap rumah dari genting. Lantai rumah Tn. M tidak berubin melainkan hanya di plester seadanya.
b.      System pendukung keluarga.
Jarak rumah Tn. M ke puskesmas sektar 1,5 km serta keluarga Tn. M mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin (jamkesmas).
5.      Struktur Keluarga.
a.       Pola komunikasi keluarga.
Pola komunikasi keluarga dilakukan secara tebuka, bahasa yang dipakai setiap hari adalah bahasa Jawa dan kadang- kadang menggunakan bahasa Indonesia serta tidak ada hambatan dalam berkomunikasi.
b.      Struktur kekuatan keluarga.
Tn. M menggunakan haknya sebagai kepala keluarga untuk mengontrol perilaku istri, anak, menantu, dan cucunya dengan memberikan nasehat apabila mereka berperilaku kurang baik.Keluarga Tn. M memusyawarahkan setiap masalah yang terjadi yang menyangkut setiap anggota keluarga dan yang mengambil keputusan adalah Tn. M sendiri selaku kepala keluarga.


c.       Struktur peran.
Tn. M selaku kepala keluarga mengatakan bahwa telah memenuhi perannya sebagai kepala keluarga.Ny. S dan Ny. W memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang mengawasi Nn Y dalam berprilaku, namun kadang-kadang Ny. S dan Ny. W membantu Tn. M dalam bertani. Tn. A sendiri memiliki peran sebagai penafkah utama, karena mengingat umur Tn. M yang sudah tua.Namun akhir-akhir ini Tn.A tidak dapat lagi bekerja seperti biasa karena keadaan beliau yang tidak sehat.
d.      Nilai atau norma keluarga.
Norma keluarga yang berkaitan dengan kesehatan adalah bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit periksa di puskesmas atau dokter terdekat.Dalam kehidupan setiap hari, keluarga menjalani hidup berdasarkan tuntunan agama Islam.

6.      Fungsi Keluarga.
a.       Fungsi afektif.
Tn. M mengatakan sikap dan hubungan antar anggota keluarga sangat baik dan akrab, dimana setiap anggota keluarga saling menghargai satu sama lain.
b.      Fungsi Sosialisasi.
Interaksi dalam keluarga Tn. M sangat baik, dimana keluarga mendidik anak-anaknya dengan disiplin, mengajarkan cara bersosialisasi dengan benar, serta selalu mengajarkan cara perpenampilan yang rapid an sopan sesuai dengan kaidah dalam agama Islam.
c.       Fungsi perawatan kesehatan.
Keluarga Tn. M mengatakan sedikit sekali pengetahuannya tentang kesehatan karena pendidikan yang sampai SD atau SMP saja.Keluarga belum mampu mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi apabila salah satu anggota keluarga sedang sakit dan keluarga belum mampu merawat anggota keluarga dengan tepat ketika sakit.Selain itu, keluarga Tn. M juga belum mampu memodifikasi lingkungan yang tepat untuk menunjang kesehatan keluarga dan belum mampu memanfaatkan layanan fasilitas kesehatan untuk menunjang kesehatan keluarga.
d.      Fungsi reproduksi.
Tn. M dan Ny. S memiliki anak satu saja yaitu Tn. A. kemudian Tn, A memiliki istri Ny. W dan memiliki anak Nn. Y, dimana  keluarga cukup memiliki anak 1 dan focus untuk membesarkan anaknya yang masih dibangku sekolah.
e.       Fungsi ekonomi.
Keluarga Tn. M dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

7.      Stress dan Koping Keluarga.
a.       Stress jangka pendek dan jangka panjang.
Keluarga Tn. M mengatakan jarang mengalami stress yang berkepanjangan, kadang dibuat setres  oleh perilaku anak dan cucu, namun hal ini jarang  terjadi.
b.      Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi.
Keluarga mengatakan merasa jengkel bila melihat tingkah laku anak atau cucunya yang tidak mendengarkan nasehatnya, namun keluarga masih tetap sabar menanggapi hal tersebut.
c.       Strategi koping yang digunakan.
Jika ada masalah yang terjadi pada setiap anggota keluarga selalu dibicarakan secara bersama dan dimusyawarahkan dengan semua anggota untuk memperoleh mufakat.

8.      Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan Fisik
Tn. M
Ny. S
Tn. A
Ny. W
Nn. Y
TTV
TD :130/ 80 mmHg
TD :120/80 mmHg
TD :140/100 mmHg
TD :120/80 mmHg
TD :100/70
mmHg
N:88x/mnt
N:80x/mnt
N :100x/mnt
N :86x/mnt
N: 76x/mnt
S :36,3 OC
S : 36,2OC
S: 36,8 OC
S: 36,5 OC
S: 36,5OC
RR:20x/mnt
RR :20x/mnt
RR :24/mnt
RR:20x/mnt
RR :18x/mnt
Kepala
Bentuk kepala mesochepal,ukuran sedang dan simetris, kulit kepala tidak ada luka, ketombe dan bersih, rambut tipis, pendek dan putih
Bentuk kepala mesochepal ,simetris rambut panjang, warna putih dan tebal tidak ada ketombe
Bentuk kepala mesochepal dan simetris, rambut pendek, warna hitam, tipis, tidak ada luka, ketombe dan bersih
Bentuk kepala mesochepal, rambut panjang ikal, warna hitam, tidak ada luka, ketombe dan dalam keadaan bersih
Bentuk kepala mesochepal, ukuran simetris, kulit kepala bersih, rambut berwarna hitam, panjang sebahu, kulit kepala tidak ada luka
Mata
Simetris, kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan mulai menurun dan tidak menggunakan alat bantu pengelihatan
Simetris, kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan mulai menurun dan tidak menggunakan alat bantu pengelihatan
Simetris, kunjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan masih baik, tidak
Simetris, kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan baik,
Simetris, kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan baik
Mulut
Mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis
Mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis
Mukosa bibir kering,tidak ada stomatitis,
Mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis
Mukosa bibir lembab, tidak ada stomatitis
Hidung
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
Bentuk simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
Telinga
Simetris, tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran kurang baik namun tidak menggunakan alat bantu pendengaran
Simetris, tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran kurang baik namun tidak menggunakan alat bantu pendengaran
Simetris, tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik,
Simetris, tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik
Simetris, tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik
Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
Paru-paru
Inspeksi: simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak terdapat suara nafas tambahan
Inspeksi: simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak terdapat suara nafas tambahan
Inspeksi: simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak terdapat suara nafas tambahan
Inspeksi: simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal premitus simetris
Perkusi: sonor
Auskultasi: tidak terdapat suara nafas tambahan
Inspeksi: simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak terdapat suara nafas tambahan
Jantung
Inspeksi: ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1 dan S2 regular
Inspeksi: ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1 dan S2 regular
Inspeksi: ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1 dan S2 regular
Inspeksi: ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1 dan S2 regular
Inspeksi: ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1 dan S2 regular
Ekstermitas
Superior: dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas

Inferior: dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat

Kekuatan otot: 5
Superior: dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas

Inferior: dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat

Kekuatan otot: 5
Superior: dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral dingin, gerak bebas

Inferior: dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral dingin

Kekuatan otot: 5
Superior: dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas

Inferior: dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat

Kekuatan otot: 5
Superior: dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas

Inferior: dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat

Kekuatan otot: 5
Kuku dan Kulit
Warna sawo matang, turgor kulit tidak elastis, kuku pendek, bersih
Warna sawo matang, turgor kulit tidak elastis, kuku pendek, bersih
Warna sawo matang, turgor kulit tidak elastis, kuku pendek, bersih
Warna sawo matang, turgor kulit elastis, kuku pendek, bersih
Warna sawo matang, turgor kulit elastis, kuku pendek, bersih

9.      Harapan Keluarga.
a.       Pada perawat.
Keluarga berharap bisa diberikan informasi kepada mereka tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Baik itu untuk kesehatan tentang penyakit Diabetes Millitus atau pun terkait dengan cara untuk mengatur pola hidup bagi penerita Diabetes Millitus.
b.      Persepsi keluarga terhaap perawat.
Keluarga menganggap sosok perawat adalah orang yang bekerja di bidang kesehatan serta dapat membantu jika ada masalah kesehatan yang muncul.
c.       Harapan keluarga terhadap perawat berhubungan dengan masalah yang dihadapai.
Keluarga mengatakan ingin mendapatkan berbagai informasi mengenai kesehatan demi menjaga kesehatan seluruh anggota keluarganya.

B.     Analisa Data
No
Data Fokus
Diagnosa
Paraf
1.
DS: Tn A mengatakan mengalami penurunan berat badan dari 65 ke 60. Tn A mengatakan sering merasa haus, lapar, dan sering BAK.

DO: TTV :140/100mmHg, N: 100x/mnt, RR:24x/mnt, S: 36,8 OC, BB: 60kg, GDA:
Hb: 7,8 g/dL
Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002).

2.
DS: Tn A mengatakan tidak mengetahui mengenai penyakitnya serta cara untuk mengobati penyakitnya

DO: Tn A dirawat dirumah oleh keluarga, dan tidak memperoleh pengobatan apapun, karena keterbatasan biaya dan kurang pengetahuan tentang bahaya penyakit yang dideritanya
Defisiensi Pengetahuan (00126).



C.    Diagnosa Keperawatan
No
Diagnosa
Paraf
1.
Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002).

2.
Defisiensi Pengetahuan (00126)


D.    Penilaian (scoring) Diagnosa Keperawatan.
A.    Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
No
Kriteria
Skor
Bobot
Nilai
Pembenaran
1
Sifat masalah
a.    Actual
b.   Resiko
c.    Potensial

3
2
1

1

=      1
Tn. A mengalami penurunan BB 5 kg dan hasil pemeriksaan Hb = 7,8 g/dL
2
Sifat masalah
a.    Actual.
b.   Resiko
c.    Potensial

2
1
0

2

=     1
Keluarga tidak dapat menjaga pola hidup karena keterbatasan ekonomi
3
Potensial masalah untuk dicegah.
a.    Tinggi.
b.   Cukup.
c.    Rendah


3
2
1


1



Keingintahuan keluarga tentang diet DM cukup
4
Menonjolnya masalah
a.    Masalah berat harus segera ditangani.
b.   Ada masalah tapi tidak perlu ditangani.
c.    Masalah tidak dirasakan.


2


1


0



1


=     2
Tn. A mengalami penurunan BB 5 kg  dengan hasil pemeriksaan Hb = 7,8 g/dL, sehingga masalah harus segera ditangani
4
Total




B.     Kurang pengetahuan.
No
Kriteria
Skor
Bobot
Nilai
Pembenaran
1
Sifat masalah
a.       Actual
b.      Resiko
c.       potensial

3
2
1

1

=      1
Tn. A tidak menyadari tentang masalah penyakit yang dihadapinya.
2
Sifat masalah
a.       Actual.
b.      Resiko
c.       Potensial

2
1
0

2

=     2
Keluarga antusias untuk mengetahui tentang DM dan cara menanganinya
3
Potensial masalah untuk dicegah.
a.       Tinggi.
b.      Cukup.
c.       rendah


3
2
1


1


=     1
Keinginan keluarga untuk mengetahui tentang penyakit DM dan cara penanganannya tinggi
4
Menonjolnya masalah
a.       Masalah berat harus segera ditangani.
b.   Ada masalah tapi tidak perlu ditangani.
c.    Masalah tidak dirasakan.


2


1


0



1


=     2
Ketidakpahaman keluarga tentang bahayanya DM dapat memperparah keadaan Tn. A atau si penderita DM
4
Total
6

E.     Prioritas Diagnosa Keperawatan
Prioritas
Diagnosa Keperawatan
Skor
1.
Kurang pengetahuan(00126)
6
2.
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh(00002).
11/3



F.     Intervensi Keperawatan
No
Diagnose Keperawatan
Tujuan
NOC
NIC
Rasional
TTD
Mayor
Disarankan
1
Kurang Pengetahuan (00126)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan diharapkan 1. Dapat menjelaskan tentang penyakit DM
2. Mengerti tentang penyakit DM
3. Dapat mengerti cara mengangani DM
Teaching : disease process (5602)

1.      Berikan pengakuan tentang  perbedaan rasa tau etnis pada awal perawatan













2.      Berikan  penilaian tentang hubungan kepercayaan dengan tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik

3.      Berikan penilaian tentang perawatan diri pasien yang dapat mempengaruhi penyakit
4.      Gunakan metode pengajaran yang peka akan budaya, adat istiadat, nilai-nilai yang berkembang dalam lingkungan keluarga, dan gaya hidup keluarga terutama Tn. A untuk menjelaskan patofisiologis dari penyakit yang diderita





1.      EBN: menunjukan rasa hormat dan mengakui perbedaan rasa tau etnis dapat meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan keluarga sehingga promosi kesehatan tentang hasil pengobatan dapat berjalan dengan baik (Rust et al, 2006). 

2.      EBN: Kepercayaan dapat mempengaruhi perilaku sakit (Russel, 2006).













3.      EBN : orang-orang dan lingkungan rumah dapat berinteraksi dengan cara pengobatan utama untuk masalah kesehatan (Rossel, 2006)

4.      EB : program pendidikan yang focus pada konteks budaya telah terbukti lebih efektif dari pada program pendidikan umum. 



2.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh(00002).
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan diharapkan:
1.      Tidak terjadi penurunan BB
2.      Kadar Hb dalam rentang normal (12-14 g/dl)
3.      Gula darah terkontrol
Ø  dkjsdfjdjk

1.      monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori











2.      Anjurkan diet kepada keluarga Tn M, terutam Tn. A











3.      Sarankan kepada Tn. A dan keluarga  untuk mengonsumsi makanan kaya protein



4.      Menyediakan makanan sesuai dengan intervensi

1.      EB: Melakukan monitor dengan intervensi nutrisi dan jumlah kebutuhan kalori dapat mengidentifikasi kebutuhan nutrisi untuk ukuran yang lebih sederhana dari status fungsional (Stow, Ruth, 2015)
2.      EB : pada orang dewasa dengan melaksanakan diet akan cenderung dapat memenuhi rekomendasi asupan nutrisi 2 x lipat dari pada orang yang tidak menjalani diet pada kasus kekurangan nutrisi (David A Wagstaff, 2011).
3.      EB: makanan yang kaya protein dapat meningkatkan energy bagi penderita DM (Dunne & Dahl, 2007)


4.      EBN : peneliti melaporkan bahwa factor yang mempengaruhi keseimbangan nutrisi tergantung dari jenis makanan apa yang dikonsumsi oleh penderita (Wikby & Fagerskiodv, 2004)










BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Diabetes mellitus merupakan suatu  penyakit ketika kadar glukosa (glukosa sederhana) dalam darah tinggi karena tubuh tidak mampu melepaskan insulin secara cukup.Menurut WHO, Indonesia menepati urutan ke – 4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus di dunia. Tahun 2000 saja terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.Diabetes mellitus diklasifikasikan secara umum menjadi 2 yaitu tipe 1 yang disebabkan karena faktor keturunan dimana penderita tidak mampu menghasilkan insulin dalam tubuhnya. Dan tipe 2 yang dikarenakan gaya hidup yang mana tubuh terlalu banyak mengandung gula. Tanda dan gejalanya adalah secara umum adalah penderita biasanya banyak kencing, banyak minum dan banyak makan.Dalam mengatasi masalah ini peran keluarga sangat diperlukan karena keluarga juga memiliki tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggota sehingga memahami masalah kesehatan anggotanya antara satu dengan lainya sehingga mampu memberi dampak positif salah satunya dengan merawat dan mencari pelayanan kesehatan untuk kesehatan yang sempurna.
B.     Saran
Diabetes mellitus penyakit yang diam – diam sangat memberikan pengaruh besar pada penderita hingga keluarganya yang  dapat menyebabkan kematian. Maka dari itu diharapkan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan keluarga yang tepat sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien dan keluarganya.Serta kepada setiap anggota keluarga diharapkan mampu memahami dan mengerti setiap anggota keluarganya untuk dapat menciptakan keluarga yang sehat dan wellness. Dan bagi mahasiswa keperawatan diharapkan mampu mempelajari dan memahami kebutuhan pasien dan keluarganya  yang menderita diabetes mellitus.



Daftar Pustaka

Brunner,2013. Keperawatan Medikal Bedah Brunner &Suddarth.Jakarta : EGC.
Elisabeth J Corwin, 2004. Buku Saku Patofisiologi, Jakarta : EGC Kedokteran.
Friedman, M M,1998. Keperawatan Keluarga : Teori & Praktik ed 3.Jakarta : EGC.
Herdman, T Heather, 2015.NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015 – 2017 Edisi 10.Jakarta : EGC.
NANDA, 2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC-NOC. Yogjakarta.: Mediaction Publishing.