MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA TN. M
DENGAN ANAK DIABETES
MELLITUS
DI DUSUN X, RT Y, GROBOGAN
OLEH:
MERI VARI’AH ( 15.01.20.36 )
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menurut WHO, Indonesia menepati urutan
ke – 4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus di dunia. Tahun 2000
saja terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.
Seiring berjalannya waktu pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita
diabetes meningkatkan tajam menjadi 14 juta orang dengan 50 % yang sadar
mengidapnya dan 30% yang dating berobat teratur. Sangat disayangkan bahwa
banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit
ini.Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang diabetes terutama
gejala – gejalanya, keluhan dan penyebabnya serta kurangnya perhatian keluarga
dalam memerhatikan keluargannya karena mengingat kesibukan yang dilakukan oleh
anggota keluarga. Sebagian besar kasus diabetes yang diderita diabetes tipe 2
dari pada tipe 1 hal ini dipengaruhi oleg gaya hidup seseorang dan pola yang
dikembangkan keluarganya.
Maka dari itu, dalam mengatasi masalah
ini peran keluarga sangat diperlukan karena keluarga juga memiliki tugas dalam
pemeliharaan kesehatan para anggota sehingga memahami masalah kesehatan
anggotanya antara satu dengan lainya sehingga mampu memberi dampak positif
salah satunya dengan merawat dan mencari pelayanan kesehatan untuk kesehatan
yang sempurna.Sehingga agar keluarga mampu menjalankan tugas dan perannya perlu
dilakukan suatu tindakan yaitu asuhan kepewatan keluarga pada penderita
diabetes mellitus agar dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman kepata setiap
anggota keluarga dalam memelihara kesehatan keluarganya.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
konsep keluarga dalam keperawatan ?
2. Bagaimana
konsep penyakit diabetes mellitus ?
3. Bagaimana
konsep asuhan keperawatan keluarga pada diabetes mellitus?
C.
Tujuan
1. Untuk
memahami konsep keluarga dalam keperawatan.
2. Untuk
memahami konsep penyakit diabetes mellitus.
3. Untuk
memahami konsep asuhan keperawatan keluarga pada diabetes mellitus.
D.
Manfaat
1. Dapat
memahami konsep keluarga dalam keperawatan.
2. Dapat
memahami konsep penyakit diabetes mellitus.
3. Dapat
memahami konsep asuhan keperawatan keluarga pada diabetes mellitus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep
Dasar Keluarga
1.
Definisi
Keluarga
Berikut
akan dikemukan definisi keluarga menurut beberapa ahli (Sudiharto, 2007)
a. Bailon
dan Maglaya (1978) mendefinisikan sebagai berikut: “Keluarga adalah dua atau
lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah,
perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lainnya,
mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu
budaya”.
b. Menurut
Departemen Kesehatan (1988) mendefinisikan sebagai berikut: “ Keluarga adalah
unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa
orang yang tinggal dalam satu atap dalam keadaan saling bergantungan”.
c. Menurut
Friedman (1998) mendefinisikan sebagai berikut: “Keluarga adalah dua atau lebih
individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman
dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai
bagian dari keluarga”.
d. Menurut
BKKBN (1999) mendefinisikan sebagai berikut: “ Keluarga adalah dua orang atau
lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi
kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertaqwa kepada tuhan,
memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan
masyarakat serta lingkungan.
2.
Tipe
atau Bentuk Keluarga
Menurut
Sudiharto, (2007) tipe dan bentuk keluarga adalah sebagai berikut :
a. Keluarga
inti (nuclear family), adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan
yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak, baik karena
kelahiran (natural) maupun adopsi.
b. Keluarga
asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang
dilahirkan.
c. Keluarga
besar (extended Family) adalah keluarga inti ditambah keluarga yang lain
(karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, paman, bibi, sepupu.
d. Keluarga
berantai (social family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang
menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.
e. Keluarga
duda atau janda keluarga yang terbentuk dari percerai atau kematian pasangan
yang dicintai.
f. Keluarga
komposit (komposite family) adalah keluarga dari perkawinan poligami yang hidup
bersama.
g. Keluarga
kohabitasi (cohabitation) adalah dua orang yang menjadi satu keluarga tanpa
pernikahan bisa memiliki anak atau tidak. Di indonesia bentuk keluarga ini
tidak lazim dan bertentangan dengan budaya timur. Namun, lambat laun keluarga kohabitasi
ini dapat diterima.
h. Keluarga
inses (incest family) seiring dengan masuknya nilai-nilai global yang pengaruh
informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim,
misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ayah menikah dengan
anak tirinya .walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah
keluarga inses semakin hari semakin besar. Hal tersebut dapat kita cermati
melalui pemberitaan dari berbagai cetak elektronik.
i.
Keluarga tradisional
dan nontradisional dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga
tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga non tradisional tidak
diikat oleh perkawinan.
3.
Tahap
Perkembangan Keluarga
Tugas perkembangan keluarga adalah
menambah anggota keluarga dengan kehadiran anggota keluarga yang baru melalui
pernikahan anak-anak yang telah dewasa, menata kembali hubungan perkawinan,
menyiapkan datangnya proses penuaan, termasuk timbulnya masalah-masalah
kesehatan.
4.
Peran
Keluarga
Nyc dan Gecas (1976) mengidentifikasikan
8 peran dasar yang membentuk posisi sosial sebagai suami-ayah dan ibu-istri:
a. Peran
sebagai provider (penyedia)
b. Peran
sebagai pengatur rumah tangga
c. Peran
perawatan anak
d. Peran
sosialisasi anak
e. Peran
rekreasi
f. Peran
persaudaraan( Lainship) (memelihara hungan keluarga paternal dan maternal )
g. Peran
terapeutik (memenuhi kebutuhan afektif pasangan)
h. Peran
seksual
i.
Peran perkawinan
5. Fungsi Keluarga
Menurut Friadman, (1998) fungsi keluarga
adalah sebagai berikut :
a. Fungsi
afektif
Berhungan dengan
fungsi internal keluarga dalam pemenuhan kebutuhan psikososial fungsi efektif
inin merupakan sumber energi kebahagiaan keluarga.
b. Fungsi
sosialisasi
Sosialisasi
dimulai sejak lahir keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai
melalui interaksi atau hubungan antar anggota. Anggota keluarga belajar
disiplin, belajar norma, budaya dan prilaku melalui hubungan interaksi dalam
keluarga.
c. Fungsi
reproduksi
Keluarga
berfungsi meneruskan keturunan dan menambahkan sumber daya manusia.
d. Fungsi
ekonomi
Keluarga
berfungsi untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarga seperti kebutuhan makan,
minum, pakaian dan tempat tinggal, dll.
e. Fungsi
keperawatan kesehatan
Kesanggupan
keluarga untuk melakukan pemeliharaan kesehatan dilihat dari 5 tugas kesehatan
keluarga yaitu :
1) Keluarga
mengenal masalah kesehatan
2) Keluarga
mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan.
3) Keluarga
mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan
4) Memodifikasi
lingkungan, menciptakan dan mempertahankan suasana rumah yang sehat
5) Keluarga
mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tepat.
B.
Konsep
Dasar Penyakit Diabetes Millitus
1.
Pengertian
Diabetes Millitus
Diabetes militus merupakan suatu
penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya.Kelaianan pada sekresi/ kerja insulin tersebut
menyebabkan abnormalitas dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein.Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka
panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal,
saraf, jantung dan pembuluh darah.
World health organization (WHO) sebelum
telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam
satu jawaban yang jelas dan singkat, tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai
suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana
didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin.
2.
Klasifikasi Diabetes Millitus
Klasifikasi yang di tentukan oleh National Diabetes
Data Group of The National Institutes of Health, sebagai berikut :
a. Diabetes
Melitus tipe I atau IDDM ( Insulin Dependen
Diabetes Militus) atau tipe Juvenil :
Yaitu ditandai
dengan kerusakan insulin dan ketergantungan pada terapi insulin untuk
mempertahankan hidup.Diabetes militus tipe 1 juga disebut juveline onset,
karena kebanyakan terjadi sebelum umur 20 tahun.Pada tipe ini terjadi destruksi
sel beta pankreas dan menjurus ke defisiensi insulin absolute.Mereka cenderung
mengalami komplikasi metabolic akut berupa ketosis dan ketoasidosis.
b. Diabetes
Militus tipe II atau NIDDM (Non Insulin Dependen Diabetes Militus) :
Dikenal dengan
maturity konsep, dimana tidak terjadi defisiensi insulin secara absolute
melainkan relative oleh karena gangguan sekresi insulin bersama resistensi
insulin.Terjadi pada semua umur, lebih sering pada usia dewasa dan ada
kecenderungan familiar. NIDDM dapat berhubungan dengan tingginya kadar insulin
yang beredar dalam darah namun tetap memiliki reseptor insulin dan fungsi post
reseptor yang tidak efektif.
c. Gestational
Diabetes disebut juga DMG atau Diabetes Militus Gestational.
Yaitu
intoleransi glukosa yang timbul selama kehamilan, dimana meningktanya
hormon-hormone pertumbuhan dan meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada
janin yang mengurangi keefektifitasan insulin.
d. Intoleransi
Glukosa berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu.
Yaitu
hiperglikemi yang terjadi karena penyakit lain. Penyakit pankreas, obat-obatan, dan bahan
kimia.Kelainan reseptor insulin dan sindrom genetic tertentu. Umumnya
obat-obatan tertentu mencetuskan terjadinya hiperglikemia antara lain :
diuretic vurosemid ( lasik), dan ehiazide gukotikoid, epinefrin, dilantin, dan
asam nikotinat ( Long, 1996 ).
3.
Anatomi
Fisiologis
Prankreas
adalah sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah
panjang kira-kira 15cm mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya
rata-rata 69-90gr. Terbentang pada veterbra lumbalis I dan II dibelakang
lambung,
a. Bagian
dari pankreas :
1) Kepala
pankreas, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekukan deudenum.
2) Badan
pankreas, merupakan bagian utama dari organ ini letaknya dibelakang lambung dan
didepan vertebra lumbalis pertama.
3) Ekor
pankreas, bagian runcing disebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpa.
b. Fungsi
pankreas ada 2 yaitu:
1) Fungsi
eksokrin yaitu membentuk getah pankreas yang memberikan
enzim dan elektrolit
2) Fungsi
endokrin yaitu sekelompok kecil atau pulau langerhans, yang bersama-sama
membentuk organ endokrin yang mensekresikan insulin.
Pulau
langerhans terdiri atas: sel- sel yang menghasilkan glukagon ,sel- sel beta
yang menghasilkan insulin ,glukagon dan insulin mengatur kadar gula darah.
Insulin adalah hormon hipoglikemik (menurunkan gula darah) sedangkan glukagon
bersifat hiperglikemik (meningkatkan gula darah).Selain ini ada sel-sel delta
yang menghasilkan somastostatin yang menghambat pelepasan insulin dan glukagon.
Selain itu sel F menghasilkan polipeptida dan pankreatik yang berperan mengatur
fungsi eksokrin pankreas.(Tambayong, 2001)
Fisiologis
dari diabetes mellitus adalah jumlah glukosa yang diambil dan dilepaskan oleh
hati dan dipergunakan oleh jaringan perifer tergantung dari keseimbangan
fisiologis beberapa hormon antara lain:
a.
Hormon yang dapat
merendahkan kadar gula darah yaitu insulin. Kerja insulin yaitu merupakan
hormon yang menurunkan glukosa darah dengan cara membantu glukosa darah masuk
kedalam sel
b.
Hormon yang
meniingkatkan kadar gula darah antara lain:
1) Glukagon
yang disekresikan oleh sel alfa pulau langerhans
2) Epinefrin
yang disekresi oleh medula adrenal dan jaringan kromafin.
3) Glukokortikoid
yang disekresikan oleh korteks adrenal.
4) Growth
hormone yang disekresi oleh kelenjar
hipofisis anterior.
Glukagon,
epinefrin , glukokortikoid, dan growth hormone membentuk suatu mekanisme
counfer-regulator yang mencegah timbulnya hipoglikemia akibat pengaruh insulin.
4.
Etiologi
Diabetes Millitus
DM dapat disebabkan oleh banyak faktor
Noer (1996) menyebutkan bahwa ada 4 penyebab terjadinya DM, yaitu faktor
keturunan, fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang, kegemukan
atau obesitas, perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi
insulin. Faktor keturunan dapat menjadi penyebab yang mengambil penaran paling
penting dalam terjadinya DM karena pola familiar yang kuat ( keturunan )
mengakibatkan terjadinya kerusakan sel-sel beta pankreas yang memproduksi
insulin. Sehingga terjadi kelainan dalam sekresi insulin maupunkerja insulin
(long, 1996).Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang dapat
terjadi karena insulin diperlukan untuk, transport glukosa, asam amino, kalium
dan fosfat yang melintasi membrane sel untuk metabolisme intraseluler. Jika
terjadi kekurangan insulin akibat kerusakan fungsi sel pankreas akan
menyebabkan gangguan pada metabolisme karbohidrat asam amino, kalium dan fosfat
(long, 1996).
Kegemukan atau obesitas dapat sebagai
pencetus terjadinya DM karena insiden DM menurun pada populisasi dengan suplai
yang rendah dan meningkat pada mereka yang mengalami perubahan makanan secara
berlebihan.Obesitas merupan faktor resiko tinggi DM karena jumlah jumlah
reseptor insulin menurun pada obesitas mengakibatkan intoleransi glukosa dan
hiperglikemia (rice dan Wilson, 1995).
Perubahan karena usia lanjut berhubungan
dengan resistensi insulin dapat mendukung terjadinya DM karena toleransi
glukosa secara berangsur-angsur menurun bersamaan dengan berjalannya usia
seseorang mengakibatkan kadar glukosa darah yang lebih tinggi dan lebih lamanya
keadaan hiperglikemia pada usia lanjut. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya
pelepasan insulin dari sel-sel beta, lambatnya pelepasan insulin dan penurunan
sensitifitas perifer terhadap insulin (long,1996).
Etiologi pada DM telah dijabarkan oleh
para ahli, yaitu berkaitan dengan fungsi organ dan berbagai faktor resiko yang
mendahului. Mansjoer (1996: 588). Menyatakan bahwa insulin dipenden diabetes
militus ( IDDM), atau DM yang tergantung pada insulin ( tipe 1 ) disebabkan
oleh destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimmune. Sedangkan
non insulin diabetes militus ( NIDDM ) atau tipe II disebabkan kegagalan
relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya
kemampuan insulin untuk merangsang pengamnilan glukosa oleh jaringan veriver
dan ferifer dan untuk menghambat produksi gluokosa oleh hati.Sel beta tidak
mampu mengimbangi resistenisi insulin ini sepenuhnya (terjadi defisiensi
relative insulin). Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya DM, diantaranya :
a. Faktor
genetic ( herediter ).
Resiko terkena
DM meningkat apabila ada anggota yang terkena atau menderita DM, yaitu
kesesuaian pada kembar monozigote dan autosumonal. Insulin dipenden diabetes militus
:< 50 % non insulin dependen diabetes militus :<90-100% (long, 1996).
b. Faktor
Ras dan Etnik tertentu NIDDM
Biasanya dialami
oleh non kulit putih, pada masyarakat amerika angka kejadian NIDDM adalah 1:3,
sedangkan pada populasi umum adalah 1:200 (long,1996).
c. Faktor
autoimmune
Sel-sel beta
panklreas dihancurkan oleh sel beta autoimmune.
e. Proses
radang atau infeksi pada kasus pancreatitis akan terjadi hambatan sekresi
insulin.
f. Faktor
obesitas, jumlah reseptor insulin menurun pada orang yang kegemukan
g. Pada
keadaan tertentu misalnya pada wanita pada masa kehamilan atau karena efek dari
obat-obatan tertentu (Long,1996)
5.
Patofisiologi
Diabetes Millitus
Pancreas yang disebut kelenjar ludah
perut, adalah kelenjar penghasil insulin yang terletak di belakang lambung. Di
dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena
itu disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta yang mengeluarkan
hormone insulin yang sangat berperan dalam mengatur kadar glukosa darah.Insulin
yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang
dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel
glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga.Diabetes melitus merupakan
penyakit yang disebabkan oleh adanya kekurangan insulin secara relatif maupun
absolut. Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu :
a. Rusaknya
sel-sel β pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat kimia tertentu, dll).
b. Desensitasi
atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.
c. Desensitasi/kerusakan
reseptor insulin (down regulation) di jaringan perifer (Manaf, 2009).
Aktivitas insulin yang rendah akan menyebabkan :
a. Penurunan
penyerapan glukosa oleh sel-sel, disertai peningkatan pengeluaran glukosa oleh
hati melalui proses glukoneogenesis dan glikogenolisis. Karena sebagian besar
sel tubuh tidak dapat menggunakan glukosa tanpa bantuan insulin, timbul keadaan
ironis, yakni terjadi kelebihan glukosa ekstrasel sementara terjadi defisiensi
glukosa intrasel.
b. Kadar
glukosa yang meninggi ke tingkat dimana jumlah glukosa yang difiltrasi melebihi
kapasitas sel-sel tubulus melakukan reabsorpsi akan menyebabkan glukosa muncul
pada urin, keadaan ini dinamakan glukosuria.
c. Glukosa
pada urin menimbulkan efek osmotik yang menarik H2O bersamanya. Keadaan ini
menimbulkan diuresis osmotik yang ditandai oleh poliuria (sering berkemih).
d. Cairan
yang keluar dari tubuh secara berlebihan akan menyebabkan dehidrasi, yang pada
gilirannya dapat menyebabkan kegagalan sirkulasi perifer karena volume darah
turun mencolok. Kegagalan sirkulasi, apabila tidak diperbaiki dapat menyebabkan
kematian karena penurunan aliran darah ke otak atau menimbulkan gagal ginjal
sekunder akibat tekanan filtrasi yang tidak adekuat.
e. Selain
itu, sel-sel kehilangan air karena tubuh mengalami dehidrasi akibat perpindahan
osmotik air dari dalam sel ke cairan ekstrasel yang hipertonik. Akibatnya
timbul polidipsia (rasa haus berlebihan) sebagai mekanisme kompensasi untuk
mengatasi dehidrasi.
f. Defisiensi
glukosa intrasel menyebabkan “sel kelaparan” akibatnya nafsu makan (appetite)
meningkat sehingga timbul polifagia (pemasukan makanan yang berlebihan).
g. Efek
defisiensi insulin pada metabolisme lemak menyebabkan penurunan sintesis
trigliserida dan peningkatan lipolisis. Hal ini akan menyebabkan mobilisasi
besar-besaran asam lemak dari simpanan trigliserida. Peningkatan asam lemak
dalam darah sebagian besar digunakan oleh selsebagai sumber energi alternatif
karena glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel.
h. Efek
insulin pada metabolisme protein menyebabkan pergeseran netto kearah
katabolisme protein. Penguraian protein-protein otot menyebabkan otot rangka
lisut dan melemah sehingga terjadi penurunan berat badan (Sherwood, 2001).
Bila insulin tidak ada, maka glukosa dalam darah
tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah tidak
dapat masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat.
Keadaan inilah yang terjadi pada diabetes mellitus tipe 1.Pada keadaan diabetes
mellitus tipe 2, jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih banyak, tetapi jumlah
reseptor (penangkap) insulin di permukaan sel kurang. Reseptor insulin ini
dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan
DM tipe 2, jumlah lubang kuncinya kurang, sehingga meskipun anak kuncinya
(insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa
yang masuk ke dalam sel sedikit, sehingga sel kekurangan bahan bakar (glukosa)
dan kadar glukosa dalam darah meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama
dengan keadaan DM tipe 1, bedanya adalah pada DM tipe 2 disamping kadar glukosa
tinggi, kadar insulin juga tinggi atau normal. Pada DM tipe 2 juga bisa ditemukan
jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga gagal
membawa glukosa masuk ke dalam sel. Di samping penyebab di atas, DM juga bisa
terjadi akibat gangguan transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan
sebagai bahan bakar untuk metabolisme energi.
6.
Manifestasi
Klinis Diabetes Millitus
Gejala
pada DM adalah :
a.
Poliuri (banyak buang
air kecil), frekuensi buang air kecil meningkat termasuk pada malam hari.
b.
Polidipsi (banyak
minum), rasa haus meningkat.
c.
Polipagi (banyak makan),
rasa lapar meningkat.
d.
Gejala lain yang
dirasakan penderita.
e.
Kelemahan atau rasa
lemah sepanjang hari.
f.
Keletihan.
g.
Penglihatan atau
pandangan kabur.
h.
Pada keadaan
ketoasidosis akan menyebabkan mual dan muntah.
i.
Kehilangan berat badan.
j.
Luka, goresan lama
sembuh.
k.
Kaki kesemutan, mati
rasa.
l.
Infeksi kulit.
Kriteria diagnosa yang ditetapkan oleh
World Health Organization (WHO) pada tahun 1980 dan 1985 masih digunakan,
meskipun semenjak itu telah ditarik dan diperbaiki oleh American Diabetes
Association (ADA) melalui komite ahli tentang diagnosa dan penggolongan
diabetes mellitus 1997. Kriteria yang dimaksud sebagaiberikut :
a. WHO
: Kadar glukosa atau gula dengan atau yang melampaui 11.1 mmol/1 dalamplasma
darah vena yang diambil sampelnya secara acak. (atau 10.1 mmol/1 jikaseluruh
darah vena diambil sampelnya), atau kadar gula puasa dengan atau yang melampaui
7.8 mmol/1 dalam plasma darah vena. (Atau 6.7 mmol/1 jika seluruhdarah vena
diambil sampelnya).
b. ADA
:Kadar glukosa dengan atau yang melampaui 11.1 mmol/1 dalam plasmadarah vena
yang diambil sampelnya secara acak, ditambah dengan gejala-gejaladiabetes, atau
kadar gula puasa dengan atau yang melampaui 7.0 mmol/1 dalamplasma sampel darah
vena. (Puasa dinyatakan sebagai tanpa makan atau minumyang mengandung kalori-kalori
selama 6-10 jam sebelumnya, biasanya semalam)(Mc Wright, 2008).
Diagnosa pasti DM apabila ada gejala
khas serta keluhan yang tersebut diatasditambah kadar glukosa darah sewaktu
≥200 mg/dl dan kadar glukosa darah puasa125 mg/dl pada dua kali pemeriksaan
yang berbeda.
7.
Komplikasi
Diabetes Millitus
Komplikasi DM terbagi menjai 2 yaitu
komplikasi akut dan komplikasi kronik menurut Smeltzer(2002)yaitu:
a. Komplikasi
akut, adalah komplikasi pada DM yang penting dan berhubungan dengan
keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek, ketiga komplikasi
tersebut adalah:
1) Diabetik
Ketosedosis (DKA)Ketoasidosis Diabetik merupakan defesiensi insulin berat dan akut
dari suatu perjalanan penyakit DM. Diabetik Ketoasidosis disebabkan oleh tidak
adanya insulin atau cukupnya jumlah insulin yang nyata.
2) Koma
Hiperosmolar Nonketotik(KHHN)Koma hipermosolar Nonketonik merupakan keadaan
yang didominasi oleh Hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan
tingkat kesadaran. Salah satu perubahan utamanya dengan DKA adalah tidak
tepatnya ketosis dan asidosis pada KHHN .
3) Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi kalau kadar gula dalam darah turun dibawah 50-60 mg/dl
keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian priparat insulin atau preparat oral
berlebihan, konsumsi makanan terlalu sedikit
b. Komplikasi
kronik Efek samping diabetes militus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh
darah diseluruh bagian tubuh atau angiopati diabetik dibagi menjadi 2:
1) Komplikasi
mikrovakuler
a) Penyakit
GinjalSalah satu akibat utama dari perubahan- perubahan mikrovaskuler adalah
perubahan pada strutural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa dalam darah
meningkat, maka sikulasi darah ke ginjal menjadi menurun sehingga pada akhirnya
bisa terjadi nefropati.
b) Penyakit
Mata Penderita DM akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan keluhan
penglihatan kabur tidak selalu disebabkan retinopati. Katarak juga dapat
disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan menyebabkan pembengkakan
lensa dan kerusakan lensa.
c) Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer, sistem saraf otonom medula
spinalis atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbitol dan perubahan-perubahan
mebolik lain dalam sintesa fungsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia
dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf.
2) Komplikasi
Makrovaskuler
a) Penyakit
jantung koroner Akibat diabetes maka aliran darah akan melambat sehingga
terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh ubuh
sehingga tekanan darah akan naik. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah
menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis) dengan resiko penyakit
jantung koroner atau stroke.
b) Pembuluh
Darah Kaki Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf –saraf sensorik keadaan
ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang
menyebabkan ganggren. Infeksi dimulai dari celah- celah kulit yang mengalami
hipertropi, pada sel-sel kuku kaki yang menebal dan kalus demikian juga pada
daerah-daerah yang terkena trauma.
8.
Penatalaksanaan
Diabetes Millitus
a. Penatalaksanaan
secara medis
1) Obat
hipoglikemik oral
a) Golongan
sulvonilurea/sulvonylureas
Obat ini paling
banyak digunakan dan dapat dikombinasikan dengan obat golongan lain, yaitu biguanid,
inhibitoralfa glukosidase atau insulin. Obat golongan ini mempunyai efek utama
meningkatkan produksi insulin oleh sel-sel beta pankreas, karena itu menjadi
pilihan utama para penderita DM tipe II dengan berat badan berlebihan.
Obat-obatan yang beredar dari kelompok ini adalah : Glibenklamida (5mg/tablet),
Glibenklamida mikronised (5mg/tablet), Glikasida (80mg/tablet), Glikuidon
(30mg/tablet).
b) Golongan
biguanid/metformin
Obat ini
mempunyai efek utama mengurangi gklukosa hati, memperbaiki ambilan glukosa dan
jaringan (glukosa perifer) di anjurkan sebagai obat tunggal pada pasien dengan
kelebihan berat badan.
c) Inhibitor
alfa glukosidase
Mempunyai efek
utama menghambat penyerapan gula disaluran pencernaan, sehingga dapat
menurunkan kadar gula sesudah makan. Bermanfaat untuk pasien dengan kadar gula
puasa yang masih normal.
d) Insulin
Indikasi
insulinPada DM tipe I yang tergantung pada insulin biasanya digunakan Human
Monocommponent Insulin (40 UI dan 100 UI/ml injeksi), yang beredar adalah
Aktrapid.Injeksi insulin juga diberikan kepada penderita DM tipe II yang
kehilangan berat badan secara drastic. Yang tidak berhasil dengan penggunaan obat-obatan anti
DM dengan dosis maksimal, atau mengalami kontra indikasi dengan obat-obatan
tersebut, bila mengalami ketoasidosis, hiperomoral, danasidosislaktat, stress
berat karena infeksi sistemik, pasien operasi berat, wanita hamil dengan gejala
DM gestational yang tidak dapat dikontrol denganpengendalian diet.Jenis insulin
Insulin kerja cepat jenis-jenisnya adalah regular insulin, kristalin zink, dan
semilente.Insulin kerja sedang jenis-jenisnya adalah NTH (Netralprotamine
Hagerdon), Insulin kerja lambat jenis-jenisnya adalah WZI (Protamine Zinc
Insulin)
b. Penatalaksanaan
secara keperawatan
1) Diet
Salah satu pilar
utama pengelolaan DM adalah perencanaan makan.Walaupun telah mendapat tentang
penyuluhan perencanaa makanan, lebih dari 50% pasien tidak
melaksanakannya.Penderita DM sebaiknya mempertahankan menu diet seimbang,
dengan komposisi idialnya sekitar 68% karbohidrat, 20% lemak dan 12% protein.
Karena itu diet yang tepat untuk mengendalikan dan mencegah agar berat badan
tidak menjadi berlebihan dengan cara: kurangi kalori, kurangi lemak, komsumsi
karbohidrat komplek, hindari makanan yang manis, perbanyak konsumsi serat.
2) Olahraga
Olahraga selain
dapat mengontrol kadar gula darah karena membuat insulin bekerja lebih efektif.
Olahraga juga membantu menurunkan berat badan, memperkuat jantung, dan
mengurangi stress. Bagi pasien DM melakukan olahraga dengan teratur akan lebih
baik, tetapi jangan melakukan olahraga yang berat-berat.
9.
Pemeriksaan
Penunjang
Jenis pemeriksaan
|
Hasil
|
Pemeriksaan darah
|
GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam
post prandial > 200 mg/dl
|
Urine
|
didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan
dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna
pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata
( ++++ ).
|
Kultur pus
|
untuk mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik
yang sesuai dengan jenis kuman.
|
C.
Konsep
Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Diabetes Militus
1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian
keperawatan keluarga yang dilakukan adalah sebagai berikut : (Sutiyono, 2008)
a) Identitas
umum
1) Identitas
kepala keluarga yang meliputi : Nama, umur, agama, suku, pendidikan, pekerjaan,
alamat dan nomor telepon.
2) Komposisi
keluargaterdiri dari nama, jenis kelamin, hubungan dengan kepala keluarga,
imunisasi, ststus pendidikan dan umur.
3) Genogram
adalah symbol – symbol yang dipakai dalam pembuatan genogram untuk
menggambarkan susunan keluarga. Aturan pembuatannya adalah sebagai berikut :
anggota keluarga yang lebih tua berada disebelah kiri, umur anggota keluarga
ditulis pada symbol laki – laki atau perempuan, tahun dan penyebab kematian
ditulis disebelah symbol laki – laki atau perempuan., paling sedikit disusun
tiga generasi, aturan symbol seperti symbol sebagai berikut :
laki-laki perempuan menikah pisah
X
|
X
|
cerai
anak kandung meninggal
pasien
4) Tipe
keluarga dimana menjelaskan
mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan
jenis tipe keluarga tersebut.
5) Suku
bangsa ( etnis)
Latar
belakang etnis keluarga atau anggota keluarga : yang dikaji adalah asal suku
bangsa tersebut serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait
kesehatan, tempat tinggal keluarga (bagian dari sebuah lingkungan yang secara
etnis bersifat homogen), kegiatan – kegiatan keagamaan, social, budaya,
rekreasi, pendidikan (apakah kegiatan ini berada dalam kelompok kultur/ budaya
keluarga, kebiasaan – kebiasaan diet dan berbusana ( tradisional atau modern),
sruktur kekuasaan tradisional atau modern, penggunaan jasa – jasa perawatan
kesehatan keluarga dan praktisi, penggunaan bahasa sehari – hari
6) Agama
dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
Apakah
anggota keluarga berbeda dalam praktik beragamaan mereka, seberapa aktif
keluarga tersebut terlibat dalam kegiatan agama atau organisasi keagamaan
lainnya, keluarga menganut agama apa, kepercayaan dan nilai keagamaan yang
dianut dalam kehidupankeluarga terutama dalam hal kesehatan.
7) Status
social ekonomi keluargaditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga
maupun anggota lainnya. selain itu status social ekonomi ditentukan oleh
kebutuhan yang dikeluarkan maupun dimiliki.
8) Aktivitas
rekreasi keuargatidak hanya untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu namun
dengan menonton TV atau aktifitas lainya.
b) Riwayat
dan tahap perkembangan keluarga
1) Riwayat
kesehatan sebelumnya
Disini diuraikan
riwayat keluarga kepala keluarga sebelum membentuk keluarga sampai saat ini
2) Riwayat
kesehatan masing-masing anggota keluarga saat ini Menjelaskan mengenai riwayat
kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat
kesehatan masing-masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga.
3) Sumber
pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan: dikaji kalau ada masalah kesehatan
berobat kemana
c) Pengkajian
lingkungan
1) Karakteristik
rumah yang meliputi :gambar tipe tempat tinggal (rumah, apartemen, sewa kamar,
dll) apakah keluarga memiliki sendiri atau menyewa rumah ini, denah rumah
termasuk gambarkan kondisi rumah (baik interior maupun eksterior rumah).
Interior rumah meliputi jumlah kamar dan tipe kamar ( kamar tamu, kamar tidur,
dll), penggunaan- penggunaan kamar
tersebut dan bagaimana kamar tersebut diatur. Bagaimana kondisi dan kecukupan
perabot. Apakah penerangan ventilasi, pemanas.apakah lantai, tangga, susunan
dan bangunan yang lain dalam kondisi yang adekuat. Jelaskan. Di dapur, amati
suplai air minum, penggunaan alat-alat masak, pengamanan untuk kebakaran
jelaskan. Dikamar mandi, amati sanitasi, air, fasilitas toilet ada tidaknya
sabun dan handukJelaskan kamar mandi terkesan bersih, lantai dari keramik, bak
mandi dikuras 2 kali dalam seminggu dan tidak terdapat jentik-jentik
nyamuk.Kaji pengaturan tidur didalam rumah Apakah pengaturan tersebut memadai
bagi para anggota keluarga, dengan pertimbangan usia mereka, hubungan dan
kebutuhan-kebutuhan khusus mereka lainnya. Jelaskkan. Amati keadaan umum
kebersihan dan sanitasi rumah. Apakah ada serbuan serangga-serangga kecil (khususnya
didalam dan atau masalah-masalah sanitasi yang disebabkan oleh binatang-binatang
piharaan jelaskan.Kaji perasaan-perasaan subyektif keluarga terhadap rumah
.Apakah keluarga menganggap rumahnya memadai bagi mereka.Evaluasi pengaturan
privasi dan bagaimana keluarga meraskan privasi mereka memadai.
Jelaskan.Evaluasi ada dan tidak adanya bahaya-bahaya terhadap keamanan rumah
atau lingkungan. Evaluasi adekusi pembuangan sampah jelaskan.Kaji perasaan puas
atau tidak puas dari anggota keluarga secara keseluruhan dengan pengaturan atau
penataan rumah jelaskan.
2) Karakteristik
tetangga
Jelaskan
mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat yang meliputi kebiasaan,
lingkungan fisik aturan atau kesepakatan penduduk setempat, budaya yang
mempengaruhi kesehatan
3) Mobilitas
Geografi Keluarga.
Mobilitas
geografi keluarga yang ditentukan dengan kebisaan keluarga berpindah
tempat.Sudah berapa lama keluarga tinggal didaerah ini dan apakah sering
berpindah-pindah tempat tinggal?jelaskan.
4) Perkumpulan
Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat.
Menjelaskan
mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan
keluarga yang ada.
5) Sistem
Pendukung keluarga.
Yang termasuk
sistem pendukung adalah jumlah keluarga yang sehat, fasilitas yang dimiliki
keluarga untuk menunjang kesehatan yang meliputi fasilitas fisik, psikologi
atau dukungan dari keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan masyarakat
setempat dengan megkaji siapa penolong keluarga pada saat keluarga membutuhkan
bantuan, dukungan konseling aktivitas-aktivitas keluarga (sebutkan lembaga
formal atau informal; informal: ikatan keluarga, temean-teman dekat, tetangga;
formal: lembaga resmi pemerintah maupun swasta/LSM ) dan informal, yaitu
tetangga
d) Struktur
keluarga
1) Pola
komunikasi keluarga
Menjelaskan
mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga, bahasa apa yang digunakan
dalam keluarga,bagaimana frekuensi dan kualitas komunikasi yang berlangsung
dalam keluarga dan adakah hal – hal dalam keluarga yang tertutup untuk
didiskusikan.
2)
Struktur kekuatan
keluarga
Kemampuan
anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk mengubah
perilakunnya yang perlu dikaji adalah :
Siapa
yang membuat keputusan.
Bagaimana
cara keluarga mengambil keputusan( otoriter, musyawarah, diserahkan pada masing
– masing individu).
Apakah
keluarga puas dengan pola tersebut
Siapa
pengambilan keputusan
3) Struktur
peran
Menjelaskan
peran dari masing – masing anggota baik secara formal maupun informal dan siapa
yang menjadi model peran dalam keluarga dan apakah ada konflik dalam pengaturan
peran yang selama ini dijalani.
4) Nilai
atau Norma keluarga
Menjelaskan
mengenai nilai dan norma yang dianut keluarga yang berhubungan dengan
kesehatan.
e) Fungsi
keluarga
1)
Fungsi afektif
Mengkaji
gambaran diri, perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga
terhadap anggota keluarga lainnya, kehangatan kepada keluarga dan keluarga
mengembangkan sikap saling menghargai.
2)
Fungsi sosialisasi
Bagaimana
interaksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh mana anggota keluarga belajar
disiplin, norma, tahu budaya,dan perilaku.
3)
Fungsi perawatan
kesehatan
Pengetahuan
keluarga mengenai sehat – sakit. kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas
perawatan keluarga yaitu : mengenal masalah kesehatan yaitu sejauhmana keluarga
mengenal fakta – fakta dari masalah kesehatan yang meliputi konsep dari
penyakit yang diderita, mengambil keputusan mengenai tindakan terhadap masalah,
merawat anggota yang sakit, baik secara fisik maupun mental, memelihara
lingungan rumah sehat, sejauh mana mengetahui sumber keluarga yang dimiliki,
menggunkan fasilitas atau pelayanan kesehatan di masyarakat, apakah mengetahui
fasilitas kesehatan, keuntungan , kepercayaan, dan terjangkau oleh keluarga
tersebut.
4)
Fungsi reproduksi
Mengkaji
jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa yang digunakan
keluarga dalam mengendalikan jumlah anggota keluarga.
5)
Fungsi ekonomi
Mengkaji
sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan dan
memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam upatya meningkatkan status
kesehatan keluarga
f) Stres
dan koping keluarga
1) Stresor
jangka pendek yaitu yang dialami keluarga yang memerlukan waktu penyelesaian
dalam waktu kurang lebih
2) Kemampuan
keluarga berespon terhadap situasi.
3) Strategi
koping yang digunakan dalam menghadapi masalah yang dihadapi.
4) Strategi
adaptasi disfungsional dijelaskan mengenai disfungsional yang digunakan
keluarga bila menghadapi permasalahan.
g) Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan
fisik dilakukan pada semua anggota keluarga yang meliputi :
1) Status
kesehatan umum yang meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi
badan, berat badan dan tanda – tanda vital.
2) Kepala
dan leher
Kaji bentuk
kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang
berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah
menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah
penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
3) Sistem
integument
Turgor kulit
menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit
di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka,
tekstur rambut dan kuku.
4) Sistem
pernafasan
Adakah sesak
nafas, batuk, sputum, nyeri dada.Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.
5) Sistem
kardiovaskuler
Perfusi jaringan
menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi,
hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
6) Sistem
gastrointestinal
Terdapat
polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan
berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
7) Sistem
urinary
Poliuri,
retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
8) Sistem
musculoskeletal
Penyebaran
lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan
nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
9) Sistem
neurologis
Terjadi
penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat,
kacau mental, disorientasi.
10) Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan adalah :
Jenis pemeriksaan
|
Hasil
|
Pemeriksaan darah
|
GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam
post prandial > 200 mg/dl
|
Urine
|
didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan
dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna
pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata
( ++++ ).
|
Kultur pus
|
untuk mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik
yang sesuai dengan jenis kuman.
|
h) Harapan
keluarga adalah keinginan keluarga terhadap masalah kesehatan dan mengungkapkan
keluhannya terhadap petugas kesehatan.
2.
Diagnosa
Dalam
menentukan juga dilakukan sebuah scoring pada diagnose yang akan diangkat
mengenai tentang sifat masalah, kemungkinan dapat diubah, potensial masalah
dicegah, dan menonjolnya masalah. Diagnosa yang muncul dalam keperawatan pada
keluarga penderita diabetes mellitus adalah:
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
1
|
Domain 2 : Nutrisi
Kelas 1 : Makan
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
|
2
|
Domain 5 : Persepsi /
Kognisi
Kelas 4 : Kognisi
Difisiensi pengetahuan (00126)
|
3
|
Domain 1 : Promosi Kesehatan
Kelas 2 :
Manajemen Kesehatan
Ketidakefektifan
management kesehatan keluarga (00080)
|
4
|
Domain 2 : Nutrisi
Kelas 4 :
Metabolisme
Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah (00179)
|
5
|
Domain 4 : Aktivitas /
Is
tirahat
Kelas 5 :
Perawatan Diri
Kesiapan meningkatkan
perawatan diri (00182)
|
3.
Rencana
Keperawatan
Menurut
NANDA, NIC – NOC (2013) asuhan keperawatan yang dapat diberikan adalah sebagai
berikut :
a. Diagnosa : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari tubuh
(00002)
NOC
1) Nutrional Status : food and fluid (1008)
2) Nutrional Status : nutrient intake (1009)
Kriteria hasil :
a) Tidak terjadinya penurunan berat badan
yang signifikan.
b) Mampu mengidentifikasi kebutuhan
nutrisi
NIC
1) Nutrition
Management (1100)
2) Nutrition
Monitoring (1160)
Tindakan :
a) Ajarkan
pasien dan keluarga dalam memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan.
b) Sarankan
kepada klien dan keluarga mengkonsumsi makanan kaya protein
EB : makanan yang kaya
protein dapat meningkatkan energy bagi penderita DM (Dumme & Dhal , 2007)
c) Berikan
informasi yang jelas tentang kebutuhan nutrisi.
EB : peneliti
melaporkan bahwa faktor yang mempengaruhi keseimbangan nutrisi tergantung
darijenis makanan apa yang dikonsumsi klien ( Wikbly & Fagerskiodv, 2004)
d) Ajurkan
diet kepada pasien
EB : pada orang dewasa
dengan melaksanakan diet akan cendrung dapat memenuhi rekomendasi asupan
nurtisi 2 x lipat pada orang yang tidak menjalani diet pada kasus kekurangan
nutrisi ( David A Wagstaff, 2011).
e) Monitor
interaksi keluarga selama makan.
f) Monitor
jumlah nutrisi dan kandungan kalori pasien dan keluarganya.
EB : Melakukan
monitor dengan intervensi nutrisi dan menghitung kebutuhan kalori ini dapat
mengidentifikasi kebutuhan nutrisi untuk ukuran yang lebih sederhana dari
status fungsional. ( Stow, Ruth, dkk. 2015).
b. Diagnosa :Difisiensi pengetahuan (00126)
NOC
1) Knowledge
: disease proses
2) Knowledge
: healthy behavior
Kriteria hasil :
a) Pasien
dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan
program pengobatan.
b) Pasien
dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.
c) Pasien
dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat.
NIC
1) Teaching
: disease prosess
Tindakan :
a) Berikan
pengakuan tentang perbedaan rasa tau etnis pada awal perawatan kepada keluarga.
EB : Menunjukkan
rasa hormat dan mengakui perbedaan rasa tau etnis dapat meningkatkan komunikasi
dan hubungan dengan klien sehingga promosi kesehatan tentang hasil pengobatan
dapat berjalan dengan baik ( Rust et al, 2006).
d) Berikan
penilaian tentang hubungan keperayaan dengan tingkat pengetahuan keluargatentang proses penyakit yang
spesifik.
EB : Kepercayaan
dapat mempengaruhi perilaku sakit ( Russel, 2006)
e) Berikan
penilaian tentang perawatan diri pasien maupun keluarga yang dapat mempengaruhi
penyakit.
EBN : Orang –
orang dan lingkungan rumah dapat berinteraksi dengan cara pengobatan utama
untuk masalah kesehatan (Rossel, 2006)
a) Gunakan
metode pengajaran yang peka akan budaya, adat istiadat, nilai yang berkembang
dalam lingkungan pasien dan gaya hidup pasien untuk menjelaskan ptofisiologis
dari penyakit yang diderita kepada keluarga.
EB : program
pendidikan yang focus pada konteks budaya telah terbukti lebih efektif dari
pada program pendidikan umum
c. Diagnosa :Ketidakefektifan management kesehatan keluarga
(00080)
NOC
1) Therapeutic
regiment management ineffective
Kriteria hasil :
a) Kualitas
hidup meningkat.
b) Mampu
mengatasi masalah kesehatan keluarga.
c) Mampu
meningkatkan komunikasi antar anggota keluarga dalam masalah kesehatan.
d) Normalisasi
keluarga.
NIC
1) Family
suppot
Tindakan :
a) Bantu
keluarga dalam mengenal masalahnya.
b) Bantu
memotivasi keluarga untuk berubah.
c) Dukung
keluarga dalam meningkatkan nilai, minat, dan tujuan keluarga.
d) Bantu
anggota keluarga dalam mengklarifikasi apa yang mereka harapkan dan butuhkan satu
dengan lainnya.
e) Berikan
informasi penting, advokasi dan dukungan yang dibutuhkan untuk meningkatkan
kesehatan keluarga.
d. Diagnosa : Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
(00179)
NOC
1) Blood
glucose, risk for unstable.
2) Diabetes
self management
Kriteria hasil :
a) Glukosa
darah adekuat
b) Kualitas
hidup meningkat.
c) Dapat
mengontrol kadar gula darah.
d) Pemahaman
management diabetes.
e) Status
nutrisi adekuat
NIC
1) Hiperglikemia
management
Tindakan :
a) Uji
kadar glukosa darah anggota keluarga.
b) Ajurkan
diet kepada pasien
EB : pada orang
dewasa dengan melaksanakan diet akan cendrung dapat memenuhi rekomendasi asupan
nurtisi 2 x lipat pada orang yang tidak menjalani diet pada kasus kekurangan
nutrisi ( David A Wagstaff, 2011).
c) Ajarkan
keluarga tentang diet yang harus dijalani.
d) Motivasi
keluarga dalam melaksanakan diet yang sedang dijalankan.
e) Berikan
informasi yang terkait kepada keluarga tentang diet.
e. Diagnosa : Kesiapan meningkatkan perawatan diri
(00182)
NOC
1) Self
care status
Kriteria
hasil :
a) Dapat
mengetahui tentang masalah yang sedang dihadapi.
b) Mengetahui
cara untuk merawat diri dan keluarga.
c) Kualitas
hidup meningkat.
NIC
1) Self
care assistance
Tindakan :
a) Pertimbangkan
budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan diri.
b) Bantu
keluarga dalam mengidentifikasi perawatan yang belum terpenuhi.
c) Berikan
informasi yang terkait dengan perawatan diri.
d) Anjurkan
keluarga untuk saling memotivasi antar satu dengan yang lainnya.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA TN. M
DENGAN ANAK DIABETES
MILLITUS
DI DUSUN X, RT Y, GROBOGAN
Keluarga Tn. M merupakan keluarga extended family yang terdiri dari
Tn.M (59 th) sebagai kepala keluarga, istrinya Ny. S (56 th) mereka memiliki
seorang anak yaitu Tn. A (32 th) menikah dengan Ny.W (32 th) dan memiliki satu
anak yaitu Nn. Y (14 th). Mereka tinggal serumah dan tidak memiliki riwayat
penyakit menurun, namun Tn. A mengeluh banyak makan, banyak minum dan banyak
BAK serta berat badan menurun drastic.
Setelah dibawa kedokter ternyata beliau memiliki penyakit diabetes mellitus.
A.
Pengkajian
Keperawatan.
1.
Identitas
Umum.
a. Identitas
Kepala Keluarga.
Nama : Tn M.
Umur : 59 tahun.
Alamat : Dusun X, RT Y, Grobogan.
Pendidikan : SD.
Pekerjaan : Petani.
Agama : Islam.
b. Komposisi
Keluarga.
No
|
Nama
|
J.
K
|
Hub
Keluarga
|
Umur
|
Pendidikan
|
Status
Imunisasi
|
KB
|
1
|
Tn.
M
|
Laki2
|
KK
|
59th
|
SD
|
-
|
-
|
2
|
Ny.
S
|
Perempuan
|
Istri
|
56th
|
SD
|
-
|
-
|
3
|
Tn.
A
|
Laki2
|
Anak
|
32th
|
SMP
|
-
|
-
|
4
|
Ny.
W
|
Perempuan
|
Menantu
|
32th
|
SMP
|
-
|
Pil
|
5
|
Nn.
Y
|
Perempuan
|
Cucu
|
14th
|
SMP
|
Lengkap
|
-
|
a. Genogram.
Keterangan:
Laki-laki.
Perempuan
Laki-laki
Penderita DM
Tinggal
serumah.
b. Tipe
Keluarga.
Keluarga Tn. M
termasuk keluarga extended family karena di dalam keluarga terdapat kakek,
nenek, anak, menantu, cucu, sehingga apabila anggota keluarga tidak memiliki
pengetahuan tentang penyakit yang di diderita salah satu anggota keluarga maka
hal tersebut dapat memperparah kondisi si penderita.
c. Suku
Bangsa.
Tn. M sekeluarga
bersuku Jawa bangsa Indonesia.Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dan
bahasa Indonesia. Menurut Tn. A, tidak ada kebiasaan anggota keluarga yang
bertentangan dengan kesehatan.
d. Agama.
Tn. M dan
sekeluarga beragama Islam.Setiap anggota keluarga taat melaksanakan sholat 5
waktu secara sendiri-sendiri di rumah atau di masjid terdekat.Namun sejak Tn.A
dinyatakan sakit, beliau jarang sholat karena merasa tidak enak badan.
e. Status
Sosial Ekonomi Keluarga.
1) Pekerjaan
Anggota Keluarga.
Tn. M masih
bekerja sebagai petani, Ny. S dan Ny. W bekerja membantu Tn. M sebagai petani,
Tn.A bekerja sebagai buruh bangunan, dan Nn Y masih sekolah.Namun sejak Tn. A
dinyatakan sakit, Tn A jarang bekerja.
2) Penghasilan
Anggota Keluarga.
Penghasilan
rata-rata anggota keluarga Tn. M perbulan kurang lebih Rp. 800.000, kecuali Nn
Y yang masih sekolah.
3) Pemenuhan
Kebutuhan Sehari-hari.
Penghasilan
rata-rata keluarga perbulan dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari dengan pengelolahan yang baik.
4) Tabungan
atau Asuransi.
Menurut Tn. M,
keluarga belum bisa menyisihkan uangnya untuk ditabungkan.
f. Aktivitas
Rekreasi Keluarga.
Keluarga tidak
pernah bepergian ke tempat pariwisata, rekreasi yang dilakukan oleh keluarga
adalah menonton TV.
2.
Riwayat
dan Tahap Perkembangan Keluarga.
a. Tahap
perkembangan keluarga saat ini.
Keluarga Tn. M
saat ini memasuki tahap perkembangan keluarga dengan cucu usia sekolah. Saat
ini semua anggota keluarga tidak ada yang sedang sakit, kecuali Tn, A yang
sedang menderita penyakit Diabetes Millitus.
b. Tahap
perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
Keluarga Tn. M
belum mampu untuk memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga karena pengetahuan
tentang kesehatan yang sangat kurang sekali dan terbukti Tn.A menderita
Diabetes Millitus.
3.
Riwayat
Kesehatan Keluarga.
a. Riwayat
kesehatan sebelumnya.
Saat pengkajian
tidak ada yang menderita penyakit Diabetes Millitus.
b. Riwayat
kesehatan masing-masing anggota keluarga saat ini.
1) Tn.
M : Keadaan sehat dan tidak pernah
mengalami sakit yang serius.
2) Ny.
S : Keadaan sehat dan tidak pernah
mengalami sakit yang serius.
3) Tn.
A : Satu bulan yang lalu Tn.A pergi ke
dokter dengan keluhan panas. Disana Tn. A berkonsultasi dengan dokter dan
mengatakan bahwa beliau mengalami penurunan berat badan yang cukup drastic,
sering buang air kecil, sering haus dan merasa lapar. Kemudian disana Tn. A
memperoleh tes gula darah. Dokter kemudian mengatakan bahwa Tn. A mengidap
penyakit diabetes mellitus dan disarankan untuk menjalani rawat inap di rumah
sakit, namun karena keterbatasan biaya, Tn. A akhirnya hanya menjalani rawat
jalan saja.
4.
Pengkajian
Lingkungan.
a. Karakteristik
rumah.
5
|
7
|
4
|
8
|
2
|
9
|
S
4 = dapur 9 = kamar tidur
Rumah Tn. M
terdiri dari ruang tamu, 3 kamar tidur, kamar mandi, dapur, dinding rumah dari
tembok dan asap rumah dari genting. Lantai rumah Tn. M tidak berubin melainkan
hanya di plester seadanya.
b. System
pendukung keluarga.
Jarak rumah Tn.
M ke puskesmas sektar 1,5 km serta keluarga Tn. M mempunyai jaminan
pemeliharaan kesehatan keluarga miskin (jamkesmas).
5.
Struktur
Keluarga.
a. Pola
komunikasi keluarga.
Pola komunikasi
keluarga dilakukan secara tebuka, bahasa yang dipakai setiap hari adalah bahasa
Jawa dan kadang- kadang menggunakan bahasa Indonesia serta tidak ada hambatan
dalam berkomunikasi.
b. Struktur
kekuatan keluarga.
Tn. M
menggunakan haknya sebagai kepala keluarga untuk mengontrol perilaku istri,
anak, menantu, dan cucunya dengan memberikan nasehat apabila mereka berperilaku
kurang baik.Keluarga Tn. M memusyawarahkan setiap masalah yang terjadi yang
menyangkut setiap anggota keluarga dan yang mengambil keputusan adalah Tn. M
sendiri selaku kepala keluarga.
c. Struktur
peran.
Tn. M selaku
kepala keluarga mengatakan bahwa telah memenuhi perannya sebagai kepala
keluarga.Ny. S dan Ny. W memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang mengawasi
Nn Y dalam berprilaku, namun kadang-kadang Ny. S dan Ny. W membantu Tn. M dalam
bertani. Tn. A sendiri memiliki peran sebagai penafkah utama, karena mengingat
umur Tn. M yang sudah tua.Namun akhir-akhir ini Tn.A tidak dapat lagi bekerja
seperti biasa karena keadaan beliau yang tidak sehat.
d. Nilai
atau norma keluarga.
Norma keluarga
yang berkaitan dengan kesehatan adalah bila ada salah satu anggota keluarga
yang sakit periksa di puskesmas atau dokter terdekat.Dalam kehidupan setiap
hari, keluarga menjalani hidup berdasarkan tuntunan agama Islam.
6.
Fungsi
Keluarga.
a. Fungsi
afektif.
Tn. M mengatakan
sikap dan hubungan antar anggota keluarga sangat baik dan akrab, dimana setiap
anggota keluarga saling menghargai satu sama lain.
b. Fungsi
Sosialisasi.
Interaksi dalam
keluarga Tn. M sangat baik, dimana keluarga mendidik anak-anaknya dengan
disiplin, mengajarkan cara bersosialisasi dengan benar, serta selalu
mengajarkan cara perpenampilan yang rapid an sopan sesuai dengan kaidah dalam
agama Islam.
c. Fungsi
perawatan kesehatan.
Keluarga Tn. M
mengatakan sedikit sekali pengetahuannya tentang kesehatan karena pendidikan
yang sampai SD atau SMP saja.Keluarga belum mampu mengidentifikasi masalah
kesehatan yang terjadi apabila salah satu anggota keluarga sedang sakit dan
keluarga belum mampu merawat anggota keluarga dengan tepat ketika sakit.Selain
itu, keluarga Tn. M juga belum mampu memodifikasi lingkungan yang tepat untuk
menunjang kesehatan keluarga dan belum mampu memanfaatkan layanan fasilitas
kesehatan untuk menunjang kesehatan keluarga.
d. Fungsi
reproduksi.
Tn. M dan Ny. S
memiliki anak satu saja yaitu Tn. A. kemudian Tn, A memiliki istri Ny. W dan
memiliki anak Nn. Y, dimana keluarga
cukup memiliki anak 1 dan focus untuk membesarkan anaknya yang masih dibangku
sekolah.
e. Fungsi
ekonomi.
Keluarga Tn. M
dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
7.
Stress
dan Koping Keluarga.
a. Stress
jangka pendek dan jangka panjang.
Keluarga Tn. M
mengatakan jarang mengalami stress yang berkepanjangan, kadang dibuat
setres oleh perilaku anak dan cucu,
namun hal ini jarang terjadi.
b. Kemampuan
keluarga berespon terhadap situasi.
Keluarga
mengatakan merasa jengkel bila melihat tingkah laku anak atau cucunya yang
tidak mendengarkan nasehatnya, namun keluarga masih tetap sabar menanggapi hal
tersebut.
c. Strategi
koping yang digunakan.
Jika ada masalah
yang terjadi pada setiap anggota keluarga selalu dibicarakan secara bersama dan
dimusyawarahkan dengan semua anggota untuk memperoleh mufakat.
8.
Pemeriksaan
Fisik.
Pemeriksaan Fisik
|
Tn. M
|
Ny. S
|
Tn. A
|
Ny. W
|
Nn. Y
|
TTV
|
TD :130/ 80 mmHg
|
TD :120/80 mmHg
|
TD :140/100 mmHg
|
TD :120/80 mmHg
|
TD :100/70
mmHg
|
N:88x/mnt
|
N:80x/mnt
|
N :100x/mnt
|
N :86x/mnt
|
N: 76x/mnt
|
|
S :36,3 OC
|
S : 36,2OC
|
S: 36,8 OC
|
S: 36,5 OC
|
S: 36,5OC
|
|
RR:20x/mnt
|
RR :20x/mnt
|
RR :24/mnt
|
RR:20x/mnt
|
RR :18x/mnt
|
|
Kepala
|
Bentuk kepala
mesochepal,ukuran sedang dan simetris, kulit kepala tidak ada luka, ketombe
dan bersih, rambut tipis, pendek dan putih
|
Bentuk kepala
mesochepal ,simetris rambut panjang, warna putih dan tebal tidak ada ketombe
|
Bentuk kepala
mesochepal dan simetris, rambut pendek, warna hitam, tipis, tidak ada luka,
ketombe dan bersih
|
Bentuk kepala
mesochepal, rambut panjang ikal, warna hitam, tidak ada luka, ketombe dan
dalam keadaan bersih
|
Bentuk kepala
mesochepal, ukuran simetris, kulit kepala bersih, rambut berwarna hitam,
panjang sebahu, kulit kepala tidak ada luka
|
Mata
|
Simetris,
kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan mulai
menurun dan tidak menggunakan alat bantu pengelihatan
|
Simetris,
kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan mulai
menurun dan tidak menggunakan alat bantu pengelihatan
|
Simetris,
kunjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan masih baik,
tidak
|
Simetris,
kunjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan baik,
|
Simetris, kunjungtiva
tidak anemis, sclera tidak ikterik, fungsi pengelihatan baik
|
Mulut
|
Mukosa bibir
lembab, tidak ada stomatitis
|
Mukosa bibir
lembab, tidak ada stomatitis
|
Mukosa bibir
kering,tidak ada stomatitis,
|
Mukosa bibir
lembab, tidak ada stomatitis
|
Mukosa bibir lembab,
tidak ada stomatitis
|
Hidung
|
Bentuk
simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan
baik
|
Bentuk
simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan
baik
|
Bentuk simetris,
tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
|
Bentuk
simetris, tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan
baik
|
Bentuk simetris,
tidak terdapat pembesaran polip, dan indera penciuman dalam keadaan baik
|
Telinga
|
Simetris,
tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran kurang baik namun tidak
menggunakan alat bantu pendengaran
|
Simetris,
tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran kurang baik namun tidak
menggunakan alat bantu pendengaran
|
Simetris, tidak
ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik,
|
Simetris,
tidak ada penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik
|
Simetris, tidak ada
penumpukan serumen, fungsi pendengaran baik
|
Leher
|
Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
|
Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
|
Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
|
Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
|
Tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan
|
Paru-paru
|
Inspeksi:
simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal
premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak
terdapat suara nafas tambahan
|
Inspeksi:
simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal
premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak
terdapat suara nafas tambahan
|
Inspeksi:
simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal
premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak
terdapat suara nafas tambahan
|
Inspeksi:
simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal
premitus simetris
Perkusi: sonor
Auskultasi:
tidak terdapat suara nafas tambahan
|
Inspeksi:
simetris, pergerakan dada kanan dan kiri sama,
Palpasi: vocal
premitus simetris
Perkusi:sonor
Auskultasi:tidak
terdapat suara nafas tambahan
|
Jantung
|
Inspeksi:
ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus
cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1
dan S2 regular
|
Inspeksi:
ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus
cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1
dan S2 regular
|
Inspeksi:
ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus
cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1
dan S2 regular
|
Inspeksi:
ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus
cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1
dan S2 regular
|
Inspeksi:
ictus cardis tidak tampak
Palpasi: ictus
cardis teraba pada intercostal ke empat dan kelima
Perkusi:Pekak
Auskultasi:S1 dan S2
regular
|
Ekstermitas
|
Superior:
dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas
Inferior:
dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat
Kekuatan otot:
5
|
Superior:
dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas
Inferior:
dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat
Kekuatan otot:
5
|
Superior:
dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral dingin, gerak bebas
Inferior:
dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral dingin
Kekuatan otot:
5
|
Superior:
dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas
Inferior:
dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat
Kekuatan otot:
5
|
Superior:
dapat bergerak dengan baik, tidak ada oedema, akral hangat, gerak bebas
Inferior:
dapat bergerak dengan bebas, tidak ada oedema, akral hangat
Kekuatan otot: 5
|
Kuku dan Kulit
|
Warna sawo
matang, turgor kulit tidak elastis, kuku pendek, bersih
|
Warna sawo
matang, turgor kulit tidak elastis, kuku pendek, bersih
|
Warna sawo
matang, turgor kulit tidak elastis, kuku pendek, bersih
|
Warna sawo
matang, turgor kulit elastis, kuku pendek, bersih
|
Warna sawo matang,
turgor kulit elastis, kuku pendek, bersih
|
9.
Harapan
Keluarga.
a. Pada
perawat.
Keluarga
berharap bisa diberikan informasi kepada mereka tentang hal-hal yang
berhubungan dengan kesehatan. Baik itu untuk kesehatan tentang penyakit
Diabetes Millitus atau pun terkait dengan cara untuk mengatur pola hidup bagi
penerita Diabetes Millitus.
b. Persepsi
keluarga terhaap perawat.
Keluarga
menganggap sosok perawat adalah orang yang bekerja di bidang kesehatan serta
dapat membantu jika ada masalah kesehatan yang muncul.
c. Harapan
keluarga terhadap perawat berhubungan dengan masalah yang dihadapai.
Keluarga
mengatakan ingin mendapatkan berbagai informasi mengenai kesehatan demi menjaga
kesehatan seluruh anggota keluarganya.
B.
Analisa
Data
No
|
Data Fokus
|
Diagnosa
|
Paraf
|
1.
|
DS: Tn A
mengatakan mengalami penurunan berat badan dari 65 ke 60. Tn A mengatakan
sering merasa haus, lapar, dan sering BAK.
DO: TTV
:140/100mmHg, N: 100x/mnt, RR:24x/mnt, S: 36,8 OC, BB: 60kg, GDA:
Hb: 7,8 g/dL
|
Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002).
|
|
2.
|
DS: Tn A
mengatakan tidak mengetahui mengenai penyakitnya serta cara untuk mengobati
penyakitnya
DO: Tn A dirawat
dirumah oleh keluarga, dan tidak memperoleh pengobatan apapun, karena
keterbatasan biaya dan kurang pengetahuan tentang bahaya penyakit yang
dideritanya
|
Defisiensi Pengetahuan (00126).
|
C.
Diagnosa
Keperawatan
No
|
Diagnosa
|
Paraf
|
1.
|
Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002).
|
|
2.
|
Defisiensi Pengetahuan (00126)
|
D.
Penilaian
(scoring) Diagnosa Keperawatan.
A.
Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh
No
|
Kriteria
|
Skor
|
Bobot
|
Nilai
|
Pembenaran
|
1
|
Sifat masalah
a. Actual
b. Resiko
c. Potensial
|
3
2
1
|
1
|
= 1
|
Tn. A mengalami penurunan BB 5 kg dan hasil pemeriksaan Hb = 7,8
g/dL
|
2
|
Sifat masalah
a. Actual.
b. Resiko
c. Potensial
|
2
1
0
|
2
|
= 1
|
Keluarga tidak dapat menjaga pola hidup karena keterbatasan
ekonomi
|
3
|
Potensial masalah untuk dicegah.
a. Tinggi.
b. Cukup.
c. Rendah
|
3
2
1
|
1
|
Keingintahuan keluarga tentang diet DM cukup
|
|
4
|
Menonjolnya masalah
a. Masalah
berat harus segera ditangani.
b. Ada
masalah tapi tidak perlu ditangani.
c. Masalah
tidak dirasakan.
|
2
1
0
|
1
|
= 2
|
Tn. A mengalami penurunan BB 5 kg
dengan hasil pemeriksaan Hb = 7,8 g/dL, sehingga masalah harus segera
ditangani
|
4
|
Total
|
||||
B.
Kurang
pengetahuan.
No
|
Kriteria
|
Skor
|
Bobot
|
Nilai
|
Pembenaran
|
1
|
Sifat masalah
a. Actual
b. Resiko
c. potensial
|
3
2
1
|
1
|
= 1
|
Tn. A tidak menyadari tentang masalah penyakit yang dihadapinya.
|
2
|
Sifat masalah
a. Actual.
b. Resiko
c. Potensial
|
2
1
0
|
2
|
= 2
|
Keluarga antusias untuk mengetahui tentang DM dan cara
menanganinya
|
3
|
Potensial masalah untuk dicegah.
a. Tinggi.
b. Cukup.
c. rendah
|
3
2
1
|
1
|
= 1
|
Keinginan keluarga untuk mengetahui tentang penyakit DM dan cara
penanganannya tinggi
|
4
|
Menonjolnya masalah
a. Masalah
berat harus segera ditangani.
b. Ada
masalah tapi tidak perlu ditangani.
c. Masalah
tidak dirasakan.
|
2
1
0
|
1
|
= 2
|
Ketidakpahaman keluarga tentang bahayanya DM dapat memperparah
keadaan Tn. A atau si penderita DM
|
4
|
Total
|
6
|
|||
E.
Prioritas
Diagnosa Keperawatan
Prioritas
|
Diagnosa Keperawatan
|
Skor
|
1.
|
Kurang
pengetahuan(00126)
|
6
|
2.
|
Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh(00002).
|
11/3
|
F.
Intervensi
Keperawatan
No
|
Diagnose Keperawatan
|
Tujuan
NOC
|
NIC
|
Rasional
|
TTD
|
|
Mayor
|
Disarankan
|
|||||
1
|
Kurang Pengetahuan (00126)
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan diharapkan 1. Dapat
menjelaskan tentang penyakit DM
2. Mengerti
tentang penyakit DM
3. Dapat mengerti
cara mengangani DM
|
Teaching : disease process (5602)
|
1. Berikan
pengakuan tentang perbedaan rasa tau
etnis pada awal perawatan
2. Berikan penilaian tentang hubungan kepercayaan
dengan tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
3. Berikan
penilaian tentang perawatan diri pasien yang dapat mempengaruhi penyakit
4. Gunakan
metode pengajaran yang peka akan budaya, adat istiadat, nilai-nilai yang
berkembang dalam lingkungan keluarga, dan gaya hidup keluarga terutama Tn. A
untuk menjelaskan patofisiologis dari penyakit yang diderita
|
1. EBN:
menunjukan rasa hormat dan mengakui perbedaan rasa tau etnis dapat
meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan keluarga sehingga promosi
kesehatan tentang hasil pengobatan dapat berjalan dengan baik (Rust et al,
2006).
2. EBN:
Kepercayaan dapat mempengaruhi perilaku sakit (Russel, 2006).
3. EBN
: orang-orang dan lingkungan rumah dapat berinteraksi dengan cara pengobatan
utama untuk masalah kesehatan (Rossel, 2006)
4. EB
: program pendidikan yang focus pada konteks budaya telah terbukti lebih
efektif dari pada program pendidikan umum.
|
|
2.
|
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh(00002).
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2x kunjungan diharapkan:
1. Tidak
terjadi penurunan BB
2. Kadar
Hb dalam rentang normal (12-14 g/dl)
3. Gula
darah terkontrol
|
Ø dkjsdfjdjk
|
1. monitor
jumlah nutrisi dan kandungan kalori
2. Anjurkan
diet kepada keluarga Tn M, terutam Tn. A
3. Sarankan
kepada Tn. A dan keluarga untuk
mengonsumsi makanan kaya protein
4. Menyediakan
makanan sesuai dengan intervensi
|
1. EB:
Melakukan monitor dengan intervensi nutrisi dan jumlah kebutuhan kalori dapat
mengidentifikasi kebutuhan nutrisi untuk ukuran yang lebih sederhana dari
status fungsional (Stow, Ruth, 2015)
2. EB
: pada orang dewasa dengan melaksanakan diet akan cenderung dapat memenuhi
rekomendasi asupan nutrisi 2 x lipat dari pada orang yang tidak menjalani
diet pada kasus kekurangan nutrisi (David A Wagstaff, 2011).
3. EB:
makanan yang kaya protein dapat meningkatkan energy bagi penderita DM (Dunne
& Dahl, 2007)
4. EBN
: peneliti melaporkan bahwa factor yang mempengaruhi keseimbangan nutrisi
tergantung dari jenis makanan apa yang dikonsumsi oleh penderita (Wikby &
Fagerskiodv, 2004)
|
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit ketika kadar glukosa (glukosa
sederhana) dalam darah tinggi karena tubuh tidak mampu melepaskan insulin
secara cukup.Menurut WHO, Indonesia menepati urutan ke – 4 terbesar dalam
jumlah penderita diabetes mellitus di dunia. Tahun 2000 saja terdapat sekitar
5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.Diabetes mellitus
diklasifikasikan secara umum menjadi 2 yaitu tipe 1 yang disebabkan karena
faktor keturunan dimana penderita tidak mampu menghasilkan insulin dalam
tubuhnya. Dan tipe 2 yang dikarenakan gaya hidup yang mana tubuh terlalu banyak
mengandung gula. Tanda dan gejalanya adalah secara umum adalah penderita
biasanya banyak kencing, banyak minum dan banyak makan.Dalam mengatasi masalah
ini peran keluarga sangat diperlukan karena keluarga juga memiliki tugas dalam
pemeliharaan kesehatan para anggota sehingga memahami masalah kesehatan
anggotanya antara satu dengan lainya sehingga mampu memberi dampak positif
salah satunya dengan merawat dan mencari pelayanan kesehatan untuk kesehatan
yang sempurna.
B.
Saran
Diabetes mellitus penyakit yang diam –
diam sangat memberikan pengaruh besar pada penderita hingga keluarganya
yang dapat menyebabkan kematian. Maka
dari itu diharapkan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan keluarga yang
tepat sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien dan keluarganya.Serta kepada setiap
anggota keluarga diharapkan mampu memahami dan mengerti setiap anggota
keluarganya untuk dapat menciptakan keluarga yang sehat dan wellness. Dan bagi
mahasiswa keperawatan diharapkan mampu mempelajari dan memahami kebutuhan
pasien dan keluarganya yang menderita
diabetes mellitus.
Daftar Pustaka
Brunner,2013. Keperawatan
Medikal Bedah Brunner &Suddarth.Jakarta : EGC.
Elisabeth J Corwin, 2004. Buku
Saku Patofisiologi, Jakarta : EGC Kedokteran.
Friedman, M M,1998. Keperawatan
Keluarga : Teori & Praktik ed 3.Jakarta : EGC.
Herdman, T Heather, 2015.NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi
2015 – 2017 Edisi 10.Jakarta : EGC.
NANDA, 2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC-NOC. Yogjakarta.:
Mediaction Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar