MERI VARI’AH
A. Latar Belakang
Pemfigus
berasal dari bahasa Yunani yaitu Pemphix yang artinya gelembung atau
bulla.
dan “vulgaris dalam bahasa Latin artinya ‘umum’. Meskipun demikian pemfigus
adalah suatu penyakit yang jarang, pemphigus vulgaris adalah paling umum dari
semua penyakit, berisikan 80% penyakit yang ada. Kata pemfigus pertama kali
disebutkan oleh Wichman pada 1791.Istilah pemfigus masuk kedalam kelompok penyakit melepuh
autoimun pada kulit dan membrane mukosa yang ditandai dengan adanya kelepuhan
intradermal dan ditemukannya antibody IgG dalam sirkulasi yang melawan
permukaan sel kreatinosit.
Angka kematian dari pemfigus vulgaris
sebelum perkembangan dengan terapi pengobatan adalah setinggi 90% dan yang
fatal adalah sebagian besar dehidrasi atau infeksi sistemik sekunder. Sekarang
dengan pengobatan, angka kematian kira-kira 5 - 15%. Angka kematian dari PV
adalah 75% pada rata-rata sebelum penggunaan dari kortikosteroids (CS) pada
awal 1950. Pemfigus Vulgaris (PV) adalah suatu penyakit kronis mukokutaneus
yang biasanya manifestasi pertama pada rongga mulut yang kemudian menyebar ke
kulit atau membran mukosa yang lain.
Pemfigus Vulgaris (P.V) merupakan bentuk
yang tersering dijumpai (80% semua kasus). Penyakit ini tersebar di seluruh
dunia dan dapat mengenai semua bangsa dan ras. Frekuensinya pada kedua jenis
kelamin sama. Umumnya mengenai umur pertengahan (decade ke-4 dan ke-5), tetapi
dapat juga mengenai semua umur, termasuk anak.
Distribusi
dari pemphigus vulgaris dari usia 15 sampai 70 tahun dengan rata-rata usia
42.73 tahun. pasien termuda adalah 15 tahun dan usia pasien paling tua adalah
70 tahun. presentasi pada laki-laki adalah 47.50 tahun dan perempuan adalah
39.75 tahun. Mayoritas dari sabar berada pada kelompok usia 41 - 50 tahun (28.
16%). Berikutnya angka tertinggi dari pasien berada dalam kelompok usia dari 31
- 40 tahun (23. 94%) diikuti oleh umur kelompok dari 21 - 30 tahun (16. 90%).
Pemfigus vulgaris merupakan bentuk yang sering dijumpai kira-kira 70% dari
semua kasus pemfigus, biasanya pada usia 50-60 tahun dan jarang pada anak-anak.
Insiden pemfigus bervariasi anta 0,5-3,2 kasus per 100.000 dan pada keturunan
yahudi khususnya Ashkenazi jewish insidennya meningkat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pemfigus
Vulgaris?
2. Bagaimana klasifikasi dari penyakit Pemfigus
Vulgaris?
3. Apa penyebab penyakit Pemfigus
Vulgaris?
4. Bagaimana patofisiologi dari
penyakit Pemfigus Vulgaris?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari
penyakit Pemfigus Vulgaris?
6. Apa saja komplikasi dari penyakit Pemfigus
Vulgaris?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari
penyakit Pemfigus Vulgaris?
8. Bagaimana penatalaksanaanya?
9. Bagaimana konsep dasar asuhan
keperawatan pada pasien dengan penyakit Pemfigus Vulgaris?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan umum :
1. Tujuan dari pembuatan makalah ini
adalah untuk memberikan gambaran yang nyata tentang penyakit Pemfigus Vulgaris
dan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Pemfigus Vulgaris dengan
menggunakan metode keperawatan.
Tujuan khusus :
1. Untuk mengetahui konsep dasar
penyakit Pemfigus Vulgaris.
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan
keperawatan pada pasien dengan penyakit Pemfigus Vulgaris.
KONSEP DASAR PENYAKIT
A. Definisi
Kata
pemphigus diambil dari bahasaYunani
pemphix yang artinya gelembung atau lepuh.
Pemfigus dikelompokkan dalam penyakit bulosa kronis, yang pertama kali
diidentifikasi oleh Wichman pada tahun 1971 (Zeina, 2008). Istilah
pemfigus berarti kelompok penyakit bula autoimun pada kulit dan membran mukosa
dengan karakteristik secara histologis berupa adanya bula intraepidermal
disebabkan oleh akantolisis (terpisahnya ikatan antara sel epidermis) dan
secara imunopatologis adanya IgG in vivo maupun sirkulasi yang secara langsung melawan permukaan sel-sel keratinosit (Stanley,2012).
Pemfigus
Vulgaris adalah salah satu bentuk bulos dermatosis yang bersifat kronis disertai
dengan adanya proses akantolisis dan terbentuknya bula pada epidermis
(Murtiastutik et al, 2011).
Pemfigus
vulgaris adalah dermatitis vesikulobulosa reuren yang merupakan kelainan
herediter paling sering pada aksila, lipat paha, dan leher disertai lesi
berkelompok yang mengadakan regresi sesudah beberapa minggu atau beberapa bulan
(Dorland, 1998).
Pemfigus
vulgaris merupakan penyakit serius pada kulit yang ditandai dengan timbulnya
bulla (lepuh) dengn berbagai ukuran (misalnya 1-10 cm) pada kulit yang tampak
normal dan membrane ukosa (misalnya mulut dan vagina) (Brunner, 2002).
Pemfigus
adalah penyakit kulit yang ditandai dengan timbulnya sebaran gelembung secara berturut-turut
yang mengering dengan meninggalkan bercak-bercak berwarna gelap, dapat diiringi
dengan rasa gatal atau tidak dan umumnya mempengaruhi keadaan umum si
penderita. (Laksman: 1999, hal:261).
Pemfigus
dulunya digunakan untuk menyebut semua jenis penyakit erupsi bula di kulit,
tetapi dengan berkembangnya tes diagnostic, penyakit bulosa pun
diklasifikasikan dengan lebih tepat (Zeina, 2011).
B. Klasifikasi
Penyakit
pemfigus terdiri dari 4 tipe yaitu:
1.
Pemfigus Vulgaris
Pemphigus vulgaris
ICD-10 Yang paling umum dari gangguan adalah Pemphigus vulgaris (PV - ICD-10 L10.0). Hal ini terjadi ketika antibodi menyerang Desmoglein 3. Luka sering berasal dari mulut, membuat makan sulit dan tidak nyaman. Meskipun Pemphigus
vulgaris bisa terjadi pada umur berapa saja, hal itu paling umum di antara
orang-orang yang berumur antara 40 dan 60.Hal ini lebih sering terjadi di
kalangan orang-orang Yahudi Ashkenazi.
Myasthenia gravis Nail dan diseasemyasthenia gravis Nail, penyakit mungkin
satu-satunya menemukan dan memiliki nilai prognostik dalam manajemen.
2.
Pemfigus Erytomatous
Varian pemfigus foliaceus yang
secara histologi identik, ditandai secara klinis dengan ruam yang menyerupai
lupus erythematosus pada hidung, pipi, dan telinga serta lesi mirip seborrbea
di tempat lain ditubuh,dan secara imunologis dengan deposisi granular.
Imunoglobin dan komplemen sepanjang dermoepidermal junction. Penemuan ini
menyarankan koeksiensi lupus erytematosis dan pemfigus pada individu yang sama
disebut juga senear-usher syndrome.
3.
Pemfigus Foliacus
Adalah yang paling parah dari tiga
varietas. Desmoglein
1, protein yang dihancurkan oleh autoantibody, hanya ditemukan di
atas lapisan kering kulit. PF PF dicirikan oleh luka berkerak yang sering
dimulai pada kulit kepala, dan mungkin pindah ke dada, punggung, dan wajah. Mouth sores do
not occur. Luka mulut tidak terjadi. Itu tidak menyakitkan seperti Pemphigus
vulgaris, dan sering salah didiagnosis sebagai dermatitis atau eksim.
4.
Pemfigus Vegetans
Varian pemfigus vulgaris yang
ditandai dengan perkembangan granulasi verukosa yang berproliferasi terkadang
dengan pustule pada perifernya, yang tampaknya muncul dari bula yang
terkelupas, dan mempunyai kecenderungan bersatu membentuk patch. Menurut
beberapa ahli terdapat dua tipe:Tipe Hallopeau, yang mempunyai perjalanan dan
prognosis lebih jinak.Tipe Neumann, yang amat menyerupai pemfigus vulgaris
disemua aspek.
C. Etiologi
Penyebab dari pemfigus vulgaris dan
factor potensial yang dapat didefinisikan antara lain
1.
Faktor
genetic
2.
Umur
Insiden terjadinya pemfigus vulgaris
ini meningkat pada usia 50-60 tahun. Pada neonatal yang mengidap pemfigus vulgaris
karena terinfeksi dari antibody sang ibu.
3.
Disease
association
Pemfigus terjadi pada pasien dengan
penyakit autoimun yang lain, biasanya myasthenia gravis dan thymoma
D. Patofisiologi
Semua
proses pemfigus sifat yang khas yaitu:
1.
Poses
akontolisis
2.
Adanya
antibody IgG terhadap antigen diterminan yang ada pada permukaan keratinosis
yang sedang berdeferensiasi
Sebagian besar pasien, pada mulanya
ditemukan dengan testoral yang tampak sebagai erosi – erosi yang bentuknya
ireguler yang terasa nyeri, mudah berdarah dan sembuh lambat. Bula pada kulit
akan membesar, pecah dan meninggalkan daerah daerah erosi yang lebar serta
nyeri disertai dengan pembentukan krusta dan pembesaran cairan. Bau yang
menususk dan khas akan memancar dari bula dan yang merembes keluar. Kalau
dilakukan penekanan yang meminimalkan terjadinya pembentukan lepuh/
pengelupasan kulit yang normal (tanda nikolsky). Kulit yang erosi sembuh dengan
lambah sehingga akhirnya daerah tubuh yang terkena sangat luas. Sekunder
infeksi disertai dengan terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
sering terjadi akibat kehilangan cairan dan protein ketika bula mengalami
ruptur. Hipoalbuminemia sering dijumpai kalau proses penyakit mencakup daerah
permukaan kulit tubuh dan membran mukosa yang luas. ( smeltzer dan Bars:2002,
hal 1880)
F. Manifestasi Klinis
Sebagian besar pasien
pada mulanya ditemukan dengan lesi oral yang tampak sebagai erosi yang bentuknya
ireguler yang terasa nyeri. Mudah berdarah dan sembuhnya lambat. Bula pada
kulit akan membesar, pecah dan meninggalkan daerah- daerah erosi yang lebar
serta nyeri cairan. Bau yang menusuk dan khas akan memancar bula dan serum yang
merembes keluar. Kalau dilakukan penekanan yang minimal akan terjadi
pembentukan lepuh atau prngelupasan kulit yang normal (tanda nikolsky). Kulit
yang erosi sembuh dengan lambat sehingga akhirnya daerah tubuh yang terkena
luas. Superinfeksi bakteri sering terjadi. (Brunner, 2002).
G. Komplikasi
1.
Secondary
infection
Salah satunya mungkin disebabkan
oleh sistemik atau local pada kulit. Mungkin terjadi karena penggunaan
immunosupresant dan adanya multiple erosion. Infeksi cutaneus memperlambat
penyembuhan luka dan meningkatkan resiko timbulnya scar.
2.
Malignansi
dari penggunaan imunosupresif
Biasanya ditemukan pada pasien yang mendapat terapi
immunosupresif.
3.
Growth
retardation
Ditemukan pada anak yang menggunakan
immunosupresan dan kortikosteroid.
4.
Supresi
sumsum tulang
Dilaporkan pada pasien yang menerima
imunosupresant. Insiden leukemia dan lymphoma meningkat pada penggunaan
imunosupresif jangka lama.
5.
Osteoporosis
Terjadi dengan penggunaan
kortikosteroid sistemik.
6.
Gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit
Erosi kulit yang luas, kehilangan
cairan serta protein ketika bulla mengalami rupture akan menyebabkan gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Kehilangan cairan dan natrium klorida ini
merupakan penyebab terbanyak gejala sistemik yang berkaitan dengan penyakit dan
harus diatasi dengan pemberian infuse larutan salin. Hipoalbuminemia lazim
dijumpai kalau proses mencapai kulit tubuh dan membrane mukosa yang luas.
H. Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan
visual oleh dermatologis.
2.
Dalam
menegakkan diagnosis dilakukan : Histopatologi, direct Imunofluorescence (DIF)
dan indirect Imunofluorescence (IDIF)
3.
Biopsi
lesi, dengan cara memecahkan bulla dan membuat apusan untuk diperiksa di bawah
mikroskop atau pemeriksaan immunofluoresent.
4.
Tzank
test, apusan dari dasar bulla yang menunjukkan akantolisis.
5.
Nikolsky’s
sign positif bila dilakukan penekanan minimal akan terjadi pembentukan lepuh
dan pengelupasan kulit.
I. Penatalaksanaan Medis
Tujuan terapi adalah untuk mengendalikan penyakit secepat
mungkin, mencegah infeksi sekunder dan meningkatkan pembentukan tulang epitel
kulit (pembaharuan jaringan epitel). Kortikosteroid diberikan dengan dosis
tinggi untuk mengendalikan penyakit dan menjaga kulit dari bulla. Kadar dosis
yang tinggi dipertahankan sampai kesembuhan terlihat jelas. Pada sebagian
kasus, terapi kortikosteroid harus dipertahankankan seumur hidup penderitanya.
Kortikosteroid diberikan bersama makanan atau segera sesudah
makan dan dapat disertai dengan pemberian antacid sebagai profilaksis untuk
mencegah komplikasi lambung. Yang penting pada penatalaksanaan terapeutik
adalah evaluasi berat badan, tekanan darah, kadar glukosa darah dan
keseimbangan darah setiap hari . Preparat imunosupresif (azatioprin,
ziklofosfamid, emas) dapat diresepkan dokter untuk mengendalikan penyakit dan
mengurangi takaran ktikosteroid. Plasmaferesis (pertukaran plasma).
Dermatologi merupakan keahlian yang orientasinya visual,
disamping mendapatkan pasien, pemeriksa juga dapat melakukan pemeriksaan
terhadap lesi primer dan sekunder, dan konfigurasi dan kontribusi lesi.
prosedur diagnostic tertentu dapat pula digunakan untuk mengenali kelainan
kulit, prosedur yang biasanya digunakan yaitu :
1.
Biopsy
a. Punch Biopsy:Prosedur sederhana
untuk mendapatkan jaringan guna pemeriksaan histopatologis. dipilah lesi yang
dewasa tumbuh sempurna, pilih lesi paling awal, dan atap usahakan utuh.
b. Shave Biopsy: Mengambil bagian kulit
yang menonjol atau meninggi bermanfaat untuk biopsy berbagai tumor epidermis.
c. Biopsy eksisi cirurgis: Untuk
mendapatkan jaringan yang meliputi tebalnya kulit misalnya eritema , nodusum.
2.
Kuret:Cara
sederhana untuk pengambilan lesi kulit yang benigna seperti kutil.
3.
Usapan
sitologi
Bermanfaat dalam diagnosa penyakit
bulosa, erupsi virus yang solid maupun yang vesikuler.
4.
Kerokan
dan biakan jamur
Konfirmasi segera terhadap adanya
infeksi jamur dengan penemuan organisme secara mikroskopis pada lesi berskuama,
dari kulit kepala, sudut mulut, aksila, pantat, dan lain-lain.
5.
Pemeriksaan
dengan sinar wood
Untuk menemukan infeksi jamur :
a. Mengontrol dan menemukan jamur kulit
kepala mikrosporum audovini dan mikrosporum canis akan berfluorsensi hijau
kebiruan cerah.
b. Penemuan infeksi jamur lain Tinea
vesikolor dapat berfluorsensi kuning emas. perubahan pigemn yang menyertai dapt
terlihat jelas.
c. Penemuan infeksi jamur
d. Penentuan kelainan pigmen
Sinar ulsi akan berfluorsensi putih
kebiruan, digunakan dalam pemeriksaan penderita vertiligo, albilisme, lepra,
dan hiperpigmentasi lainnya
e. Penentuan obat
6.
Patch
testing
Digunakan untuk membuktikan dan
menegakkan diagnosa sensitifitas alergi.Hasil yang dinilai adalah sebagai
berikut :
1
+ : Hanya eritema
2
+ : Ertema dan papula
3
+ : Eritem dan papula, vesikula kecil
4 + :
Semua diatas dan vesikulor besar, bulae dan ulserasi
DAFTAR PUSTAKA
Keperawatan,2015.Diagnosis Nanda, Intervensi NIC, Kriteria
hasil NOC. Jakarta:EGC
Nugroho, 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit Dalam.Yogyakarta:Nuha
Medika
Prince, Sylvia A. & Lorraine M.
Wilson,2006. Patofisologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Sjamsuhidrat,2010..Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne C. & Brenda G.
Bare. 2009. Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta. EGC.
Wilkinson,
Judith M dan Nancy R.Ahern. 2011. Buku
Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis Nanda, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC
Edisi 9. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:
Posting Komentar