By Meri Vari'ah
C.
Fukus Intervensi
` Menurut Ackley dan Ladwing, 2010 fokus
intervensi pada pasien dengan infark miokard akut adalah :
1. Nyeri
akut berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan
kebutuhan miokardium
a. Definisi
Pengalaman sensorik dan emosianal yang tidak menyenangkan
yang timbul dari kerusakan jaringan aktual atau pontesi atau yang dijelaskan
dalam hal kerusakan tersebut, onset mendadak atau lambat setiap intensitas dari
ringan sampai berat dengan akhir diantisipasi atau diperdiksi dan durasi kurang
dari 6 bulan (Ackley dan Landwing, 2010).
b. Batasan
karakteristik :
1) Melaporkan
nyeri secara verbal
2) Diaforesis
3) Perubahan
frekuensi jantung
4) Perubahan
tekanan darah
5) Ekspresi
wajah menahan sakti, menyeringai
c. NOC
1) Pain
level
2) Pain
control
3) Comfort
level
d. Kriteria
hasil
1) Mampu
mengontrol nyeri
2) Melaporkan
bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan menejemen nyeri
3) Mampu
mengenali nyeri
4) Menyatakan
nyaman setelah nyeri berkurang
e. NIC
1) Lakukan
pengkajian nyeri secara komprehensif
EB : menentukan lokasi,
aspek temporal, intensitas nyeri, karakteristik, dan dempak nyeri pada fungsi
dan kualitas hidup sangat penting untuk menentukan penyebab ras sakit dan
efektivitas pengobatan. Penilian awal ini mencakup semua informasi rasa sakit
yang klien dapat memberikan dan menyediakna data untuk pengembangan rencana
menajemen nyeri individual. Laporan diri dianggap sebagai indikator yang paling
dapat diandalkan dari kehadiran dan intensitas nyeri.
2) Observasi
reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
EB : perilaku tertentu telah
terbukti menjadi indikasi ras sakit dan dapat digunakan untuk menilai nyeri
pada klien yang tidak dapat menggunakan laporan dari alat nyeri (misalny,
klien gangguan kognitif) (Puntillo et
al, 2004 ; Puntillo et al, 2009) . Namun, perilaku bervariasi antara individu,
dan perilaku yang dapat menujukan rasa sakit di satu klien mungkin tidak
menunjukkan rasa sakit untuk lainnyan. Sebuah pengganti yang tahu klien juga
mungkin dapat memberikan informasi tentang patologi yang mendasari nyeri dan
perilaku spesifik kepada klien yang mungkin sinyal nyeri (Pasero, 2009a).
Penilaian nyeri tidak bisa tidak ngkan dibakukan dan harus memperhitungkan
kemampuan kognitif, kondisi yang menyakitkan yang mendasari atau prosedur,
tingkat ketakutan atau kecemasan, dan kemampuan klien untuk memberikan laporan
dari (Herrr et al,2006; pasero et al, 2009)
3) Evaluasi
pengalaman nyeri masa lampau
EB : Memperoleh riwayat
nyeri individual membantu untuk mengidentifikasi faktor-faktor potensial yang
dapat mempengaruhi kesedian klien untuk melaporkan nyeri, dan juga
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intensitas nyeri, respon klien terhadap
nyeri, kecemasan, dan farmakokinetik analgesik. Cara pengolahan nyeri harus
individual kepada klien dan mempertimbangkan kondisi medis, psikologis, dan
fisik, usia, tingkat ketakutan atau kecemasan, prosedur bedah, tujuan klien
preferensi iklan, dan respon sebelumnya untuk analgesik.
4) Kontrol
lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
EB; hubungan antara
tingkat rasa sakit dan tujuan fungsional harus menjadi faktor utama dari
pengembangan individual rencana menajemen nyeri (Pasero dan McCaffery, 2004
dalam Ackley dan Lawing, 2010).
5) Kolaborasi
analgetik untuk mengurandi nyeri
EB; Penyesusaian obat
yang akurat dapat mencegah kesalahan yang terkait dengan obat-obatan yang tidak
benar, dosis, emisi komponen cara pengobatan di rumah, interaksiobat obatan,
dan toksisiten yang dapat terjadi obat-obatan yang tidak kompatibel digabungkan
atau ketika alergi hadir. Riwayat ini akan menghasilkan dokter dengan pemahaman
tentang obat apa yang telah dicoba dan obat yang tidak efektif dalam mengobati
myeri klien (APS, 2008; Krenzischek et al, 2008; komisi gabungan, 2009 cit
Ackley dan Ladwing, 2010)
6) Monitor
vital sign
EB : penilaian nyeri
adalah sama pentingan dengan tanda-tanda vital fisiologis dan nyeri dianggap
sebagai “tanda vital kelima” (APS, 2008). Nyeri akut harus dinilai baik pada
saat istirhat (penting untuk kenyamanan) dan selama gerakan (penting untuk fungsi
dan penurunan risiko klien cardiopulmonary dan kejadian tromboemboli (Ackley
dan Ladwig, 2010)
7) Ajarkan
teknik relaksasi distraksi saat nyeri datang dan nyeri hilang
2. Fokus
intervensi
a. Bersihkan
jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret, inflamasi trakea
bronchial, pebentukan edema, peningkatan produksi sputum.
Batasan karakteristik :
Dispnea, bunyi nafas tambahan (misalnya ronchi basah halus,
ronkhi basah kasar daronchi kering), perubahan irama dan frekuensi pernafasan,
batuk dan tidak efektif, sianosis, kesulitan untuk bersuara, orthopnea,
kegelisahan, sputum dan mata terbuka lebar.
NOC :
Pasien menunjukan
bersihkan jalan nafas yang efektif kreteria hasil :
1) Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dispneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed
lips).
2) Menunjukan
jalan nafas yang petan (pasien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang norma, tidak ada suara nafas abnormal).
3) Mampu
mengidentifikasi dan mencegah faktor yang dapat menhambat jalan nafas.
NIC :
1) Auskultas
suara nafas tiap 4 jam sekali suara nafas yang normal adalah bersih atau tidak
ada creakles. Adanya creakles selama indikasi menandai adanya cairan di jalan
nafas, wheezing indikasi adanya obstruksi (fauciat at, al 2008)
2) Monitor
pola pernafasan, menilai, kedalaman dan usaha nafas frekuensi pernafasan pada
norma orang dewasa adalah tanpa sesak 12-16 kali/ menit (Bickley &
Szilagly, 2009 )
3) Posiskan
pasien 30 – 45 derajat pada tempat tidur dan reposisikan setiap 2 jam sekali
sekali. EBN : pada pasien yang terpasang mesin ventilasi, ada pengurangan pada
radang paru-paru jika pasien di posisikan 45 derajat, posisi semi recumbent
sekali lawan suatu posisi yang terlentang (Secket, 2006).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar